... DI BALIK KEKURANGAN ADA SEJUTA KESEMPURNAAN ...
Bismillahir-Rahmaanir-Rahim ... Jika Nabi Yusuf adalah manusia ciptaan
Tuhan yang paling tampan, maka akulah manusia ciptaan Tuhan yang paling
buruk. Postur tubuh pendek, rambut kriting, kulit hitam, bibir tebal,
hidung pesek, semuanya ada padaku. Mungkin aku bisa menerima semua itu,
tapi ada satu hal yang paling kubenci dari diriku.
“Suf, ayo
makan!”, teriak ayahku membuyarkan lamunan buruk tentang diriku. Akupun
keluar dari kamar, meninggalkan barang-barang yang masih berantakan. Di
atas meja makan hanya tersedia beberapa roti isi daging dan dua gelas
air putih. Maklumlah, kami baru saja pindah di rumah baru ini. Jadi ayah
tidak sempat memasak ataupun memesan makanan.
Sebenarnya salah
satu yang paling kubenci dari hidupku adalah orang tuaku. Aku benci
karena ayah dan ibuku bercerai. Aku benci karena harus memilih tinggal
dengan salah satu di antara mereka. Dan aku memilih tinggal dengan ayah,
meski aku juga sangat menginginkan tinggal dengan ibu.
Aku
tidak pernah mendapatkan alasan yang jelas mengapa mereka bercerai, ayah
hanya berkata “Itulah yang terbaik untuk kami”. Tapi sayang sekali, itu
bukan yang terbaik untukku.
“Istirahatlah! Besok kita akan mencari sekolah baru untukmu.”, ucap ayah sambil tersenyum kepadaku.
Aku menunduk sedih. Aku pasti akan kesulitan mencari teman baru. Di
sekolah yang lama saja sangat sedikit yang mau berteman denganku.
Bagaimana nanti di sekolah yang baru? Di satu sisi aku sangat senang
karena sekolah baruku lebih bagus. Tapi, di sisi lain aku sangat minder
untuk berteman dengan mereka nantinya.
***
Pagi-pagi
sekali kami berangkat ke sekolah. Sekolahnya sangat bagus, gedungnya
bertingkat, banyak pepohonan, dan halamannya bersih. Aku semakin
bersemangat dibuatnya. Tanpa buang waktu kami langsung menghadap ke
kepala sekolah.
“Maaf Pak, sekolah kami sudah memiliki banyak siswa dan semua kelas sudah penuh.”, kata kepala sekolah.
Ayah melihatku dan mata kami beradu. Aku menunduk, tak tahan rasanya
menahan air mata yang mau keluar. Akupun berjalan keluar, sementara ayah
berusaha sekuat tenaga meyakinkan kepala sekolah. Aku menunggu di luar
dengan wajah yang sedih. Suara ayah kedengaran olehku dari luar.
“Aku mohon Pak, terimalah anak saya. Meskipun dia jauh berbeda dari
anak-anak yang lainnya, tapi dia anak yang cerdas. Dia sangat suka
pelajaran Fisika. Bapak bisa memberinya tes kalau tidak percaya.”
Ayah terus membujuk kepala sekolah agar menerimaku. Meskipun kepala
sekolah terus menolak, tapi ayah tidak menyerah. Dia bahkan mengatakan
akan membayar lebih asalkan saya bisa diterima di sekolah itu. Akhirnya
kepala sekolah bersedia menerima dengan syarat aku harus dites.
Singkatnya aku dites dan hasilnya adalah perfect. Aku diterima dengan
hasil nyaris sempurna.
***
Hari selasa, hari pertama aku
masuk sekolah. Ketika guru kelas memperkenalkanku, aku melihat ekspresi
beberapa siswa sedikit menertawakanku. Namun ada juga yang kelihatannya
empati melihat keadaanku, termasuk Putri, teman dudukku yang baru.
Terus terang aku minder duduk dengannya. Dia cantik, putih, dan kelihantannya baik.
Setelah itu, guru menginformasikan bahwa akan ada Olimpiade Sains
Nasional (OSN). Siswa yang mau ikut akan dites sebentar sore. Tiga siswa
dengan nilai tertinggi berhak mewakili sekolah untuk seleksi tingkat
provinsi dan seterusnya hingga tingkat nasional. Juara nasional akan
dipersiapkan untuk olimpiade tingkat internasional.
Aku tidak
mau melewatkan kesempatan ini. Meskipun sebenarnya aku agak minder
karena siswa kota biasanya pintar-pintar. Tanpa persiapan sama sekali,
aku nekat ikut.
Aku memilih bidang fisika karena saingannya
sedikit dan aku memang suka pelajaran fisika. Esoknya pengumuman telah
terpampang di papan pengumuman. Dengan sedikit ragu aku melihat hasilnya
dan ternyata aku berada di urutan ketiga.
Artinya aku bisa
ikut seleksi ke tingkat provinsi. Aku berteriak karena senang, tapi
tidak kedengaran siapa pun. Euforia yang kualami membuatku lupa betapa
buruknya aku. Sekolah pun membentuk tim guru yang akan mempersiapkan
siswa ke tingkat provinsi mengharumkan nama sekolah.
Saat itu,
impian terbesarku adalah lolos OSN dan bertemu dengan Prof. Yohanes,
seorang ahli fisika terkenal. Singkat cerita, aku berhasil meraih
peringkat kedua pada tingkat provinsi. Persiapan pun semakin
kupermantap. Semalam aku hanya tidur kurang dari empat jam. Aku
mempelajari soal-soal OSN tahun-tahun sebelumnya.
Akhirnya tes
tingkat nasional pun dimulai. Tesnya dilakukan sebanyak dua hari. Aku
mengerjakan soalnya dengan seluruh kemampuanku. Setelah diperiksa,
hasilnya adalah aku berada pada urutan pertama. Aku sangat senang karena
akan dibimbing langsung oleh Prof. Yohanes untuk persiapan ke tingkat
internasional.
Ucapan syukur tak pernah berhenti mengalir dari
mulutku. Tapi, tiba-tiba rasa senang itu berubah menjadi gugup, takut,
dan malu ketika aku diminta untuk menyampaikan pidato singkat.
Seluruh tubuhku gemetar saat berdiri dipanggung. Mereka tidak tahu kalau
aku ini tidak bisa bersuara. Ya, aku bisu dan inilah yang paling
kubenci dari diriku. Namaku dan nama Nabi Yusuf memang sama, tapi aku
berbeda 180 derajat darinya.
Sudah lima menit aku berdiri tanpa
mengeluarkan suara. Tiba-tiba aku melihat ayah datang. Meski terlambat
aku tetap senang dan yang membuatku lebih senang lagi, dia datang
bersama Ibu. Saat itu, ayah melihatku dan sepertinya dia mengerti
keadaanku saat itu.
“Dia anakku!! Ya, dia anakku.” Teriak ayah.
Semua orang di dalam ruangan berbalik ke arahnya. Ayah dan ibu kemudian berjalan naik ke atas panggung, berdiri di sampingku.
Kemudian ayah berkat, “Lima bulan yang lalu, aku dan istriku berpisah.
Aku tahu itu sangat menyakitkan hati Yusuf, tapi hari ini aku ingin
mengatakan padanya bahwa kami sudah baikan kembali.
Kalian
mungkin heran kenapa Yusuf tidak mengeluarkan sedikitpun kata. Itu
karena dia hanya bisa bersuara dengan hatinya dan hanya aku dan Ibunya
yang bisa mendengar kata hatinya. Aku mewakili hati Yusuf mengucapkan
terima kasih kepada Tuhan, terima kasih kepada kepala sekolah, guru-guru
serta teman-teman Yusuf. Sekali lagi terima kasih.”
Ruangan
menjadi rebut karena gemuruh tepuk tangan. Beberapa diantara mereka
bahkan menangis, termasuk kepala sekolahku. Aku yakin, dia tidak
menyesal menerimaku saat itu.
Wallahu a’lam bish Shawwab ....
... Semoga tulisan ini dapat membuka pintu hati kita yang telah lama terkunci ...
Insya Allah bermanfaat
Tidak ada komentar:
Posting Komentar