Breaking

Jumat, 27 Desember 2013

Desember 27, 2013

Tinggalkan Kebodohan dengan Cara Perkuat Ilmu dan Amal

SETIAP orang tentu ingin apa yang menjadi impiannya terwujud. Tetapi sangatlah naif jika suatu tujuan ditempuh dengan cara-cara irasional. Seperti mempercayai dukun atau paranormal. Perbuatan ini jelas menunjukkan ketidakmampuan rasio mencerna hakikat hidup, sehingga senantiasa melakukan apa pun yang diasumsikan bisa menjadi jalan pintas menuju terealisasinya sebuah harapan.
Padahal, hidup jelas bukan undian. Siapa yang ingin kemuliaan, sudah pasti ia harus bekerja keras.Istilah dari Almarhum KH. Zainudin MZ,  “Harus peras keringat, banting tulang. Tidak bisa hidup hanya dengan mengumpulkan kata ‘jikalau’, ‘seandainya’, ‘andaikata,” demikian ungkap dai sejuta umat itu dalam salah satu taushiyahnya saat masih hidup.
Artinya, orang yang percaya dukun adalah orang yang memang tidak bisa berpikir rasional. Sungguh sangat keterlaluan, jika ada seorang Muslim yang ia telah diberikan anugerah panca indera dan hati, plus keimanan, tetapi malah menjerumuskan diri pada praktik kehidupan yang bodoh seperti itu.
Belum lama ini kita dikejutkan dengan kasus pencian mayat yang dilakukan oleh Resi alias Pamungkas (26). Pria asal Cilacap, Jawa Tengah ini akhirnya dibekuk polisi dan terungkap jika motif pelaku hanya karena mempelajari ini ilmu hitam.
Pelaku mencari organ tubuh jenazah sesuai dengan hari kematiannya, dengan harapan kain kafan itu bisa digukakannya untuk terbang.
Kasus yang dialami Resi bukan kasus pertama. Kasus besar tingkatanya juga lebih halus.Berapa banyak kita temukan calon anggota legislatif –bahkan—calon menteri atau calon presiden (Capres) dikenal memiliki paranormal alias dukun?
Kedzaliman Besar
Percaya kepada selain Allah (musyrik) adalah kedzaliman besar. Jelas ini adalah bentuk kebodohan paling buruk. Dalam istilah Arab disebut Jahil Murokkab.
Sebagai Muslim, kita harus bisa memastikan diri bersih dari unsur-unsur apalagi praktik perdukunan alias kemusyrikan seperti itu. Seorang Muslim pantang percaya kepada apa pun, kecuali hanya kepada Allah Ta’ala.
Tidak ada istilah bagi seorang Muslim percaya ramalan bintang-bintang, pernyataan dukun, atau apa pun. Kecuali hanya satu, percaya kepada Al-Qur’an dan Sunnah.
Manakala, seorang Muslim sampai masuk dalam ranah kemusyrikan dengan percaya ramalan, dukun dan sebagainya, sungguh segeralah kembali kepada Allah. Karena disadari atau tidak, perilaku tersebut hanya akan mendatangkan kesengsaraan demi kesengsaraan. Tidak saja di dunia, bahkan di akhirat. Celakanya lagi, jika tidak sempat bertaubat, maka nerakalah tempat abadinya, Na’udzubillahi min dzalik.
Jadilah Insan Cerdas
Suatu saat Rasulullah pernah ditanya, “Siapa manusia yang paling cerdas ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Manusia yang paling cerdas adalah yang mengendalikan hawa nafsunya, dan beramal untuk akhiratnya. (HR. Muslim).
Hadits tersebut memberikan petunjuk bahwa, seorang Muslim seluruhnya cerdas. Dengan catatan, ia tidak memperturutkan hawa nafsunya.Artinya, pakai akal, teliti, mau bekerja keras, sabar dalam usaha, tekun dalam do’a dan tawakkal terhadap keputusan Allah. Kemudian, semua itu dilakukan demi untuk kebaikan kehidupan akhiratnya. Bukan untuk mencari kekayaan, kedudukan, apalagi sekedar kebanggaan.
Di dalam al-Qur’an, insan yang cerdas disebut Ulul Albab. Menurut beberapa ayat, seperti pada Surah Ali Imran ayat 190-191. Ulul Albab adalah orang yang memadukan dzikir dan fikir sampai mampu mengungkap fakta paling inti dari kehidupan ini, hingga sampailah ia pada satu kesimpulan bahwa Allah Maha Kuasa yang segala ciptaan-Nya tidak ada yang sia-sia.
Secara sederhana, ayat tersebut menjelaskan bahwa, manakala ada seorang Muslim, meskipun dia sholat, haji, dan lain sebagainya, tetapi dalam kesehariannya, lebih-lebih dalam usahanya meraih impiannya tidak diiringi dengan dzikir dan fikir, maka ia bukanlah Muslim yang cerdas. Apalagi, jika dalam praktik kesehariannya, justru banyak menerjang batasan syariat.
Sholat tetap jalan, tapi dalam usaha masih suka gunakan mantera-mantera, menyimpat azimat ini, azimat. Haji berkali-kali, tetapi dalam interaksi sosial, masih suka memungut bunga (riba) dari uang yang dipinjamkan kepada orang lain. Jelas ini bukan Muslim yang cerdas.
Kemudian, jika dihubungkan dengan Surah Al-Baqarah ayat 269, Ulul Albab adalah Muslim yang senantiasa mampu menggali dan mengamalkan ilmu yang dimiliknya. Dengan kata lain, Muslim demikian adalah Muslim yang telah diberikan hikmah oleh Allah.
Apa itu hikmah, mungkin banyak definisi yang disampaikan para ulama. Tetapi, menarik apa yang disampaikan oleh Ibnu Qayyim terkait hikmah, yang dalam bahasa Indonesia disebut kebijaksanaan.
“Yang dinamakan bijak (hikmah) adalah melakukan tindakan yang tepat (sesuai syariat), dalam waktu yang tepat, dan dengan teknis (pola, juklak, prosedur) yang tepat, dan pilarnya adalah ilmu, kesantunan dan kesabaran. Sedang bencana dan elemen penghancurnya adalah kebodohan, tanpa perhitungan dan tergesa-gesa (hawa nafsu).”
Jadi, kecerdasan dalam Islam tidak diukur dari gelar akademik, status sosial, atau pun profesi seseorang. Kecerdasan dalam Islam hanya dilandaskan pada keimanan dan ketakwaan. Itulah mengapa, Islam mewajibkan umatnya untuk menuntut ilmu, sekaligus mengamalkannya.
 “Kebaikan itu bukan sekedar engkau banyak harta dan anak, namun engkau perbanyak ilmu dan kesantunanmu,” demikian kata Sayyidina Ali Karamallahu Wajhah.
Untuk itu, guna terhindar dari tipu daya setan, sudah selayaknya seluruh kaum Muslimin terus menerus membekali diri dan keluarganya dengan ilmu dan amal. Bacalah al-Qur’an, kajilah Sunnah dan amalkanlah dengan penuh keyakinan.
عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ رض قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَطَيَّرَ، اَوْ تُطُيِّرَ لَهُ، اَوْ تَكَهَّنَ، اَوْ تُكُهِّنَ لَهُ، اَوْ سَحَرَ، اَوُ سُحِّرَ لَهُ، وَ مَنْ اَتَى كَاهِنًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُوْلُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا اُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ ص. البزار  بإسناد جيد
Dari ‘Imran bin Hushain RA, ia berkata, Rasulullah bersabda : “Tidak termasuk golongan kami orang yang percaya tanda-tanda kesialan atau datang bertanya kepada orang yang mempercayai tanda-tanda kesialan, atau orang yang melakukan pedukunan atau orang yang datang berdukun, atau orang yang melakukan sihir atau orang yang datang meminta tolong kepada tukang sihir. Barangsiapa yang datang kepada dukun dan membenarkan apa yang dikatakan dukun itu, maka sungguh ia telah kufur pada apa yang diturunkan kepada Nabi Muhammad.” [HR. Al-Bazzar]
Jangan sakit datang ke dukun, lagi ingin naik jabatan datang ke dukun, ingin selamat dari ancaman orang, datang lagi ke dukun, bahkan ingin menang Pemilu juga datang ke dukun. Kepada dukun ada yang rela membayar mahal, bahkan ada yang menjual dirinya. Sungguh, itu cara setan dan sangat hina di mata Allah Ta’ala. Padahal, dukun itu manusia biasa, tidakkah kita berpikir?

Kiriman : Atok Haryanto A Mh
Sumber : www.hidayatullah.com

Kamis, 19 Desember 2013

Desember 19, 2013

Siapa masih punya Malu, tanda Dia masih Beriman!

SATU di antara sebab utama terjadinya problem bahkan konflik di muka bumi ini adalah karena tidak adanya rasa malu. Nihilnya rasa malu, menjadikan manusia lebih buas dari buaya, lebih ganas dari singa dan lebih jahat dari binatang buas lainnya.

Tetapi tetap saja, rasa malu dianggap sebagai hal biasa. Sudah tidak banyak lagi yang menyadari bahwa rasa malu sejatinya sangat menentukan segala sesuatu, termasuk nasib suatu bangsa dan negara.

Seperti apa yang belakangan ini marak terjadi, korupsi, ketidakadilan, perselingkuhan, perampokan dan pembunuhan dan berbagai macam tindak kemaksiatan, termasuk yang kini lagi populer di ibu kota negara dengan istilah ‘cabe-cabean’, semua berawal dari tidak adanya rasa malu.

Malu ini adalah satu bentuk akhlak yang paling penting dari setiap Muslim. Akhlak yang sangat berpenaruh pada individu, keluarga, dan masyarakat. Namun sayang, akhlak ini seakan-akan sudah asing dalam kehidupan.

Kini, banyak berita di media yang isinya saling salah-menyalahkan, saling berlomba untuk diakui yang terhebat, terdepan dan terpercaya. Bahkan ada yang pamer aurat, cipika-cipiki dengan lawan jenis yang tidak halal.

Arti Malu

Dalam buku Akhlaq al-Mu’min yang ditulis oleh Amru Muhammad Khalid, malu diartikan sebagai terkendalinya jiwa. Yakni, ketidakmampuan seorang Muslim melakukan perbuatan-perbuatan tercela atau sesuatu yang buruk. Dengan kata lain, Muslim yang pemalu adalah Muslim yang tidak bisa melihat dirinya hina di hadapan Allah Ta’ala, di hadapan manusia, atau di hadapan dirinya sendiri.

Dengan demikian, Muslim yang pemalu adalah Muslim yang mulia. Ia memuliakan dirinya di hadapan Allah, di hadapan manusia, dan di hadapan dirinya sendiri. Berarti, Muslim yang pemalu adalah Muslim yang benar-benar kuat keimanannya, sehingga ia tidak melakukan kehinaan meski terhadap dirinya sendiri, lebih-lebih kepada orang lain, apalagi kepada Allah Ta’ala.

Kata haya’ yang artinya malu berasal dari kata ‘hayah’ yang artinya ‘Kehidupan.’ Karena itu kalau kita berkata, “Orang itu malu,” berarti orang itu memiliki denyut kehidupan yang kuat, sehingga ia benar-benar menjaga diri agar tidak terperosok dalam kehinaan.

Jadi, tidak salah jika ada ungkapan seperti ini, “Manusia yang paling sempurna hidupnya adalah manusia yang paling sempurna rasa malunya.”

Malu bukan Minder

Namun demikian, masih banyak orang yang salah paham. Malu kadangkala dianggap sebagai sifat rendah diri alias minder. Padahal, keduanya sangatlah jauh berbeda. Menurut satu pendapat, minder diartikan sebagai kebingungan yang muncul pada diri manusia sebagai akibat dari situasi tertentu.

Lebih dari itu, minder tidak berasal dari keimanan yang kuat. Ia justru lahir dari sifat pengecut dan dari sifat takut. Karena pribadi yang minder adalah pribadi yang lemah, yang tidak mengetahui nilai dirinya.

Sedangkan malu, tidak bersumber dari sifat buruk seperti pengecut dan penakut. Malu bersumber dari keimanan yang kuat, sehingga Muslim yang pemalu adalah Muslim yang menjauhi segala bentuk kehinaan.

Bagian dari Iman

Rasulullah bersabda, “Iman mempunyai enam puluh lebih cabang. Dan malu adalah salah satu cabangnya.” (HR. Bukhari).

Mari kita kaji secara logis, mengapa dari enam puluh cabang iman malu yang beliau sampaikan? Berarti, malu adalah pengantar terbaik seorang Muslim sampai pada 59 cabang iman lainnya. Mengapa?

Dengan malu, seorang Muslim tidak akan berzina, menampakkan auratnya kepada semua orang, mencuri apalagi korupsi. Bahkan dengan malu seorang Muslim tidak akan menghina atau membicarakan aib saudaranya. Jadi, malu bisa mencegah seorang Muslim dari berbuat jahat.

Kemudian, secara naqli, Rasulullah menjelaskan pada hadits yang lainnya. “Malu seluruhnya baik.” (HR. Muslim). Kemudian pada hadits lainnya lagi, “Malu selalu mendatangkan kebaikan.” (HR. Bukhari).

Dengan demikian, maka malu adalah out put keimanan. Siapa yang keimanannya baik maka rasa malunya akan sempurna. Atau, siapa yang malunya kuat, maka imannya sempurna. Hal ini ditegaskan oleh Rasulullah, “Malu dan iman saling bertaut. Jika salah satunya diangkat, yang lainnya juga terangkat.” (HR. Hakim).

Jadi, tidak salah jika ada ungkapan, “Milik siapa kebaikan, iman dan akhlak?” Semuanya adalah milik Muslim yang memelihara rasa malu.

Tidakkah Kita Malu?

Suatu ketika datang seorang lelaki kepada Ibrahim ibn Adham dan berkata, “Wahai Imam, aku ingin bertaubat dan meninggalkan dosa. Tetapi, tiba-tiba aku kembali berbuat dosa. Tunjukkan padaku sesuatu yang bisa melindungiku hingga aku tidak lagi bermaksiat kepada Allah.”

Ibrahim ibn Adham pun menjawab, “Jika engkau ingin bermaksiat kepada Allah, jangan bermaksiat di bumi-Nya.”

Orang itu pun bertanya, “Lalu di mana aku bisa bermaksiat, sementara seluruh bumi ini adalah milik Allah?” Ibrahim ibn Adham pun menjawab, “Tidakkah engkau malu seluruh bumi ini milik Allah tetapi engkau masih bermaksiat di atasnya?”

“Jika engkau ingin bermaksiat, jangan memakan rizki dari-Nya. Orang itu pun bertanya, “Bagaimana aku bisa hidup?” Ibrahim bin Adham pun berkata, “Tidakkah engkau malu memakan rizki dari-Nya, sementara engkau bermaksia kepada-Nya?” “Tidakkah engkau malu bermaksiat kepada-Nya, sementara Allah senantiasa bersamamu dan dekat denganmu?”

Lalu, Ibrhamin ibn Adham melanjutkan, “Jika engkau tetap ingin bermaksiat, maka apabila malaikat maut datang kepadamu untuk mencabut nyawamu, katakan padanya, ‘Tunggu sampai aku bertaubat!’”

Orang itu menjawab, “Adakah yang bisa melakukan itu?” Ibrahim berkata, “Tidakkah engkau malu malaikat maut datang kepadamu dan mengambil ruhmu sementara engkau dalam kondisi bermaksiat?”

Bercermin dari kisah hikmah ini, tentu kita tidak punya ruang sesenti pun untuk berbuat hina, kecuali Allah mengetahui. Sementara, setiap hari kita memakan rizki dari-Nya, hidup di bumi-Nya dan menikmati seluruh anugerah-Nya. Lantas, masihkah kita tidak malu kepada-Nya dengan tetap bangga di atas salah dan dosa-dosa yang setiap jiwa pasti pernah melakukannya?

Sekiranya penduduk negeri ini benar-benar beriman, tentu mereka akan malu bermaksiat kepada Allah. Dan, sekiranya penduduk negeri ini benar-benar serius memelihara rasa malunya, tentu tidak akan terjadi segala bentuk kerusakan moral, kerusuhan sosial, atau pun kehidupan bebas tanpa aturan.

Kiriman : Atok Haryanto A Mh
Sumber : www.hidayatullah.com

Minggu, 17 November 2013

November 17, 2013

Percaya Ga, Jomblo Sebelum Menikah itu Pilihan Cerdas..

Percaya Ga, Jomblo Sebelum Menikah itu Pilihan Cerdas..

Bacaan ini khusus Jomblowers, buat yang pacaran pasti pada protes, ambil hikmahnya aja ya

Bismillahirrahmaanirrahiim

Sahabat muslimku..
I proud to be J0mbL0.
I proud ga Pacaran. Serius deh.. , tapi jomblonya yg berkualitas tentunya..

Pacaran ooohhh Pacaran... Asal kamu dari mana sih?, Dibilang tradisi masyarakat Indonesia ga, Dibilang Islami apalagi, jauuuhhh.. Teori darimana sih dirimu? Kok jadi barometer Hebat laku dan nggak-nya seseorang, Hadeuhh, cabeee deeehh

Buat kamu yang jomblo, dan dijadiin bahan dasar ejekan ga laku2, Nyantai aja deh bro & sis. Stay cooL, Jomblo bukan berarti Ga laku, emang barang dagangan #CatetDiJidat

Namun saya ga mau buang2 waktu, Bermain2 dengan sejuta gombalan palsu, hanya untuk kesenangan semu, Bukankah Allah udah kasih rambu2nya, "Dan janganlah kamu mendekati Zina, karena itu sungguh suatu perbuatan yang keji." [Q.S. Al Isra': 32], tuh jelas kan mendekatinya aja udah dilarang, apalagi melakukan. baik itu Zina mata, telinga, lidah, tangan, kaki dan hati. Zina itu Bukan sekedar ‘berhubungan badan’ layaknya suami istri yg sah,

Demi Allah yg mengutus Rasulullah pembawa risalah kebenaran, bahwa kedua tangan, mata, telinga, kaki, dan hati ini semua akan dimintai pertanggung jawaban di akhirat kelak, BUKAN mulut kita yg bicara, tapi anggota tubuh kita yg akan bicara dan menjadi saksi apa yg sudah dilakukan selama didunia, Astagfirullah..

So... Jomblo adalah pilihan yg cerdas, menjadi hamba Allah yg sholeh dan sholehah di akhir zaman Keputusan cerdas, ketika seseorang belum mampu mewujudkan ikatan Cintanya dengan ikatan yang halal yaitu pernikahan..

Kenapa cerdas? Sabar, jangan emosi dulu, hehe…

Karena dengan Jomblo, seseorang terhindar dari Murka Allah, kita memiliki banyak waktu untuk belajar, lebih fokus beribadah, lebih aktif dan kreatif karena ga ada istilah galau bukan buat mikirin si dia, hati kita bersih karena yg di ingat hanya nama Allah, bukan nama si Doi.

Oh iya, 1 Lagi keuntungannya..
Pundi2 dana bulanan or salary kita aman terkendali, hehehe, Bukankah Begitu ?

Jomblowan dan jomblowati yang diberkahi Allah, Yakinlah, Bahwa Allah sangat menyayangimu, kesendirian jangan dibikin galau, itu artinya kita diberi kesempatan oleh Allah untuk memperbaiki kualitas diri untuk menghadapi masa depan.

Allah tak mau kamu dipermainkan oleh mata pecinta dunia.. DIA sudah myediakan kekasih buat kita yg sudah termaktub di lauhul mahfudz, jangan khawatir, tulang rusukmu takan tertukar.

Kalaupun seseorang itu jodohmu, suatu saat allah akan mempertemukanmu dengan dia di saat yg tepat. Temukanlah ia dalam sujudmu, Dalam penantian ikhlasmu, Dalam sajadah cintamu, Istikharah jua yang menjadi peneguh hatimu...

Bersabarlah... Berpuasalah.

Ingat saudaraku.. jodoh itu cerminan diri kita.. kalau kitanya sholeh, dapat jodohnya juga sholeh juga. janji Allah itu pasti, wanita yg baik akan bersama laki-laki yg baik pula..

Memang.. menikah termasuk ibadah, tapi menikah itu sunnah, jadi utamakan yang wajib dulu, baru yg sunnahnya. namun, nikah juga menjadi wajib hukumnya, jika dikhawatirkan diri takut terjebak dosa, maka menikah lebih baik daripada pacaran, mending nikah... udah halal, berkah, berpahala lagi.. Hehe, sok tau ya si abdul, padahal nikah juga belum..

Nah, Bro & sist, kalau udah siap lahir bathin, ilmu, iman, fisik, mental, materi, dll, tunggu apalagi silahkan ikhtiar semaksimal mungkin.

kuncinya DUIT (Do'a, Usaha, Ikhtiar, Tawakal)

Dekati Allah.. maka Allahpun baik sama kita, tinggal minta apa saja yg kita mau, dengan izinNya akan dikabulkan,, kun fayakun

Kalaupun sampe sekarang masih alone juga, bukan berarti ga laku,
tapi belum ada aja orang yg beruntung dapetin kita..

Buat yg jomblo.. La takhof wala tahzan innallaha maa'na..

Sudah ada jatah masing2 kok, hanya saja masih di sembunyikan oleh Allah, Surprice dari Allah, nanti akan indah pada waktunya

Allah maha tau kapan waktu yg pas untuk kita mendapatkan pangeran atau bidadari itu, hadiah agung dari allah akan dtg disaat yg tepat atas izinNYA

Say : No, Galau.. I'm single, i'm very Happy..

Cinta Allah dulu sebelum cinta yg lainnya.. Allah dulu.. Allah dulu, Allah lagi, Allah teruss.. kan gitu kata ust. masnyur juga.

Apalagi buat yg masih di bangku sekolah, fokus menuntut ilmu dulu deh yg bener, Cita-cita dulu, setelah itu cinta.. (kalau dlm istilah cina nya mah, "tong waka begeur
dihulakeun") hehe..

Mohon maaf jika ada kesalahan dalam tulisan ini, bade di tampi mangga, teu ditampi ge wios..

Hapunten pisan, bilih aya nu kasindir , semua kutuliskan semata2 untuk kebaikan. saya hanya ingin memotivasi buat para jomblowers agar kesendirian ga usah dibikin galau..

Kita tidzk sendirian kok, banyak sayang dan cinta dari Allah, dari orangtua, juga sahabat, teman2 semuanya..

Senin, 26 Agustus 2013

Agustus 26, 2013

Telanjang kok Bangga…!

Telanjang kok Bangga…!

22 Agustus 2013 pukul 15:58
Telanjang kok Bangga…!

[ Harap di Baca !! ]

Mereka, remaja-remaja muslimah, tidak risih lagi bercelana pendek dan kaos ketat untuk keluar
rumah. Busana muslimah hanya untuk menghadiri pengajian, atau acara kematian. Setelah pulang
tak ada bekasnya.

Dulu, hanya wanita nakal yang tidak malu keluar rumah dengan pakaian seperti itu. Namun sekarang, para remaja justru bangga ketika bisa tampil dengan mengumbar auratnya. Apalagi, bila ia memiliki kulit putih mulus,
seperti bintang iklan sabun di televisi. Memang, propaganda media yang jor-joran mengumbar kecantikan aurat wanita, sangat
berpengaruh terhadap makin “terbuka”-nya penampilan remaja saat ini.

Sementara itu, model pakaian panjang tetapi sangat ketat pun makin digandrungi. Dari anak-anak, remaja hingga ibu-ibu banyak yang mengenakannya.
Bukannya aurat tertutup, malah terkesan ditonjolkan detail lekuk tubuhnya. Sungguh sangat jauh dari busana syar’i yang harus longgar, tidak transparan dan menutup aurat, kecuali wajah dan telapak tangan.

Tidak takutkah mereka dengan ancaman Rasulullah Shallallahu’ala ihi wa Sallam, “Para wanita yang berpakaian tetapi (pada hakikatnya) telanjang, lenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta, mereka tidak akan masuk surga dan tiada mencium semerbak harumnya.” (Riwayat Abu Daud).

Di akhirat, mereka tidak akan mencium wanginya surga, apalagi memasukinya! Sedangkan di dunia, cara berpakaian seperti itu
secara ilmiah terbukti merugikan kesehatan.

Penelitian ilmiah kontemporer telah menemukan, perempuan yang tidak berjilbab atau berpakaian tetapi ketat atau transparan, sangat berisiko terkena penyakit kanker ganas milanoma. Majalah kedokteran Inggris melansir hasil penelitian ini dengan mengutip beberapa fakta, di antaranya maraknya kanker ganas milanoma pada usia dini, yang semakin bertambah dan menyebar sampai di kaki.

Penyebabnya, sengatan ultraviolet dari matahari dalam waktu lama di sekujur pakaian yang ketat, selama bertahun-tahun.

Yang muncul pertama kali adalah seperti bulatan berwarna hitam
agak lebar, terkadang berupa bulatan kecil saja. Kebanyakan di daerah kaki atau betis, juga di sekitar mata; kemudian menyebar ke seluruh bagian tubuh disertai pertumbuhan di daerah-daerah yang biasa terlihat, pertautan
limpa (daerah di atas paha), dan menyerang darah, dan menetap di hati serta merusaknya.

Na’udzubillah...

Jadi berbahagialah, jika kamu telah berpakaian syar’i..

~* SEMOGA BERMANFA'AT
Agustus 26, 2013

Islam Kristen Memang Beda

Islam Kristen Memang Beda

23 Agustus 2013 pukul 15:36

Islam Kristen Memang Beda
tanggal : 08/09/2005

al-islahonline.com : Pada saat ini ada kelompok yang berpendapat bahwa ‘semua agama adalah sama’, baik dan benar, artinya semua agama tujuannya sama hanya caranya saja yang berbeda, mereka mengatakan setiap agama pasti ingin menuju kepada Tuhannya, tetapi setiap agama mempunyai caranya masing-masing. Islam dengan Al-Qur’an dan Al-Hadist sedang Kristen dengan Alkitabnya, pendapat ini sering dihubung-hubungkan dengan kata-kata mutiara : “banyak jalan menuju Roma ”

Pendapat ini didukung dan di motori mereka yang menamakan dirinya Islam Progresif, Plural dan Liberal, bahkan mereka telah melempar sebuah opini bahwa tidak adil kalau hanya orang Islam saja yang masuk surga, orang Kristen, Hindu dam Budha juga berhak masuk surga. Tetapi aneh, mereka memaksakan pendapatnya ini hanya kepada umat Islam saja, artinya, hanya umat Islamlah yang diperkosa akidahnya agar mau berpendapat bahwa ‘semua agama adalah sama’ dan mau berpendapat bukan orang Islam saja yang akan masuk surga.
Sementara di sisi yang lain, mereka sama sekali tidak menerapkan pendapatnya kepada umat Kristen, agar umat Kristen juga berpendapat bahwa ‘semua agama adalah sama’, mereka membiarkan umat Kristen tetap dalam akidahnya yaitu agama yang paling benar hanyalah Kristen.
Tentu saja ini menunjukkan bahwa mereka yang memaksakan opini ‘semua agama adalah sama’, hanyalah ingin mengobok-obok dan mengotori akidah umat Islam, mari kita buktikan bahwa ‘setiap agama memang berbeda’.
SURGA DAN NERAKA
Orang-orang Yahudi mengatakan :
Surga hanya diperuntukkan bagi orang-orang Yahudi, artinya, siapapun yang bukan Yahudi tidak akan dapat masuk surga, melainkan akan masuk neraka semuanya di akhirat kelak. Talmud
Demikian di antara yang disebutkan di dalam kitab mereka yaitu Talmud.
Orang-orang Kristen juga mengatakan hal yang sama :
Kata Yesus kepadanya: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. Yohanes 14:6
Menurut pemahaman orang-orang Kristen, tidak akan masuk surga kecuali orang-orang yang beragama Kristen, artinya, sipapun yang tidak beragama Kristen kelak di akhirat akan dicampakkan ke dalam neraka.
Namun Allah SWT membantah perkataan mereka dengan firman-Nya bahwa perkataan mereka itu hanyalah angan-angan kosong belaka :
Dan mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata:"Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang (yang beragama) Yahudi dan Nasrani". Demikian itu (hanya) angan-angan mereka yang kosong belaka. Katakanlah:"Tunjukkan kebenaranmu jika kamu adalah orang-orang yang benar". QS. 2:111
Maksudnya, Allah SWT menyangkal pengakuan orang-orang Yahudi yang mengatakan hanya Yahudilah yang akan masuk surga, dan Allah SWT juga menyangkal pengakuan orang-orang Kristen yang mengatakan hanya orang-orang Kristenlah yang akan masuk surga.
Allah SWT menyangkal pengakuan orang-orang Yahudi dan Nasrani tersebut dengan firman-Nya :
Demikian itu (hanya) angan-angan mereka yang kosong belaka. Dan dalam ayat lainnya, Allah SWT menegaskan setegas-tegasnya bahwa mereka semua yaitu Yahudi dan Nasrani akan masuk ke neraka Jahannam :
Sesungguhnya orang-orang kafir yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahan-nam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk. QS. 98:6
Dari uraian di atas sangat jelas bahwa setiap agama mengklaim hanya ajarannya saja yang benar dan ajaran agama yang lain adalah sesat tidak akan mengantarkan ke surga. Tentu saja kenyataan ini membuktikan kelompok yang berpendapat semua agama adalah sama dan semua berhak masuk surga adalah kelompok yang tidak berdasar-kan dalil kitabiah.
Namun kelompok ini tidak dapat menerima begitu saja keterangan Allah SWT yang sudah amat jelas tersebut, mereka dengan akalnya yang cerdas berusaha mencari penafsiran lain (takwil) untuk menolak maksud ayat tersebut.
Bukankah usaha mereka ini secara tidak disadarinya telah menolak ayat-ayat Allah SWT ? dan bukankah itu menjadikannya keluar dari Islam ?
Padahal sudah jelas, orang-orang kafir yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik pasti masuk neraka. Lalu dari mana mereka sampai bisa mengatakan setiap pemeluk agama apapun akan masuk surga ???
MUHAMMAD SAW NABI TERAKHIR
Iman Kristiani tidak bisa mengakui Muhammad saw adalah seorang nabi. Ketika mereka menyatakan Muhammad saw adalah seorang nabi, maka lenyaplah ke-Kristenan-nya. Ketika lenyap ke-Kristenan-nya maka secara otomatis, menurut iman Kristiani dia termasuk orang-orang yang tidak diselamatkan oleh Yesus alias neraka.
Sementara itu, umat Islam wajib mengakui bahwa Muhammad saw adalah seorang nabi, bahkan harus ditegaskan keyakinan tersebut bahwa Muhammad saw adalah nabi terakhir, ketika umat Islam tidak mengakui Muhammad saw sebagai nabi terakhir maka ia secara otomatis keluar dari Islam, dan tentu saja menurut iman Islam, orang tersebut keluar dari Islam.
Bila pandangan terhadap Muhammad saw saja antara umat Kristiani dan umat Islam tidak bisa disamakan, dari mana dapat dikatakan semua agama adalah sama.
Tentu saja, kelompok yang mengatakan semua agama adalah sama dan benar, pastilah mereka sembunyikan kenyataan tersebut atau karena dangkal pengetahuannya tentang akidah Islam dan tentang akidah Kristen ???
STATUS YESUS / NABI ISA AS
Umat Kristen, berkeyakinan bahwa Yesus adalah Tuhan, ketika umat Kristiani mengatakan bahwa Yesus bukan Tuhan alias manusia biasa atau seorang nabi, maka lenyaplah ke-Kristenan-nya, dan itu berarti menurut iman Kristen dia termasuk orang-orang yang akan masuk neraka.
Tetapi, umat Islam berkeyakinan sebaliknya, bahwa Yesus/Isa as bukanlah Tuhan tetapi seorang nabi utusan Allah SWT kepada Bani Israel. Ketika umat Islam berkeyakinan bahwa Isa putra Maryam adalah Tuhan maka kafirlah dia dan keluar dari Islam.
Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata :"Sesungguhnya Allah itu adalah Al-Masih putera Maryam" QS. 5:17
Artinya, menurut Islam, orang-orang Kristen akan masuk neraka karena mengatakan Yesus itu Tuhan, dan menurut Kristen, orang Islam akan masuk neraka karena tidak mengakui Yesus seba-gai Tuhan. Sungguh amat kontradiktif.
Lalu dari mana dalilnya, bahwa Islam dan Kristen adalah sama, kalau persepsi tentang Yesus/Isa as saja tidak bisa disatukan karena bertolak belakang --kontradiksi-- ???.
Tentu saja kelompok yang menyatakan semua agama adalah sama, dia pasti dinyatakan sesat oleh umat Islam dan dinyatakan sesat juga oleh umat Kristen. Lalu anehnya, kelompok ini memaksakan pendapatnya hanya kepada orang Islam, kenapa kelompok ini tidak mencoba membawa pendapatnya kepada orang Kristen ????
Tentu saja jawabannya, karena mereka ingin mengobok-obok akidah Islam yang telah sempurna ini dari dalam. Atau mereka takut ketahuan misinya apabila pendapat mereka ini diterapkan juga kepada agama Kristen, akan tampak sekali kontradiksi antara akidah Islam dan akidah Kristen, dan ini berarti akan menunjukkan dengan sendirinya bahwa Islam dan Kristen memang beda secara akidah, dan tidak bisa saling membenarkan.
Kalau umat Islam dipaksa membenarkan akidah umat Kristen, itu berarti umat Islam dipaksa mengakui Yesus sebagai Tuhan, bukankah ini mengeluarkan dari Islam ????
TENTANG PENYALIBAN
Salah satu akidah umat Kristiani adalah mengakui adanya penyaliban Yesus untuk menebus dosa warisan, Ketika seorang Kristen tidak mengakui Yesus telah mati di salib, maka hilanglah ke-Kristenan-nya, artinya ia bukan lagi sebagai orang Kristen, sehingga menurut iman Kristen ia telah kafir dari Kristen.
Sementara, Allah SWT memberikan petunjuk-Nya yang sangat jelas yaitu bahwa Nabi Isa as sama sekali tidak dibunuh dan tidak pula disalib, tetapi, yang dibunuh dan disalib adalah seseorang yang diserupakan dengan nabi Isa as.
dan karena ucapan mereka:"Sesungguhnya kami telah membunuh Al-Masih, Isa putera Maryam, Rasul Allah", padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. QS. 4:157
Ketika umat Islam mengakui atau membenarkan bahwa Nabi Isa as mati disalib, berarti dia secara tegas menyangkal petunjuk Allah SWT tersebut, dan berarti dia telah menginkari ayat-ayat Allah SWT, mengingkari ayat-ayat Allah SWT berarti mengeluarkan dia dari Islam.
Mungkinkah seseorang berkeyakinan Yesus mati disalib sekaligus berkeyakinan Yesus tidak disalib ???, tentu saja dengan hati nurani dan akal yang jernih tidak akan mungkin berkeyakinan demikian.
Hal di atas membuktikan, tidak mungkin mengatakan semua agama adalah sama dan benar. Umat Kristen mempunyai keyakinan Yesus telah mati di salib dan umat Islam berkeyakinan sebaliknya, bahwa nabi Isa as tidak dibunuh dan tidak pula disalib. Itu berarti Islam tidak bisa mengatakan agama Kristen adalah agama yang benar, begitu juga sebaliknya, Kristen juga tidak bisa mengatakan Islam adalah agama yang benar.
Jika akidah Islam dan Kristen tentang penyaliban sangat kontradiksi dan tidak bisa membenarkan satu dengan yang lainnya, maka dengan dalil apa lagi harus mengatakan semua agama adalah sama dan benar dan mengatakan setiap pemeluknya berhak masuk surga ??? Terbukti, jalan menuju surga hanya satu, dan jalan lainnya ke neraka.
HANYA ISLAM AGAMA YANG BENAR
Dari uraian sebelumnya, tidak mungkin mengatakan semua agama adalah sama dan benar, dan tidak mungkin pula mengatakan pemeluk agama lain berhak masuk surga.
Apakah kelompok yang mengatakan semua agama adalah sama dan benar tidak mengetahui dalil tersebut, mereka sangat mengetahui, tetapi, rupanya hati nuraninya kalah dengan hawa nafsunya.
Padahal Allah SWT telah mengingatkan kita, bahwa hanya agama Islam yang diridhoi-Nya, yang berarti agama yang lain dimurkai-Nya :
Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam. QS. 3:19
Apakah masih kurang jelas dan tegas, bahwa hanya agama Islam yang benar di sisi Allah ?, mari kita kutip penegasan Allah SWT, yang menyatakan bahwa selain agama Islam tidak akan diterima :
Barangsiapa mencari agama selain dari agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia diakhirat termasuk orang-orang yang rugi. QS. 3:85
Bahkan Allah SWT, mengingatkan kita, agar kita jangan sampai mati kecuali dalam keadaan Islam.
Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya'kub. (Ibrahim berkata) : "Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam". QS. 2:132
Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah sebenar-benar taqwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. QS. 3:102
Bila dalil-dalil yang begitu jelas dan gamblang, masih belum juga membuka hati untuk mengatakan bahwa hanya agama Islam-lah agama yang benar, maka sebagai penutup untuk orang-orang yang menga-takan semua agama adalah sama dan benar, mari saya kutipkan ayat untuk menjadi perenungan bersama :
…“Mereka itulah yang dikunci mati hati mereka oleh Allah dan mengikuti hawa nafsu mereka”. QS. 47:16
“Maka apakah mereka tidak memperhatikan al-Qur'an ataukah hati mereka terkunci” QS. 47:24
JIKA SEMUA AGAMA SAMA DAN BENAR : Maka tidak salah kalau seseorang yang tidak sempat shalat lima waktu dan sholat Jum’at, menggantikannya dengan pergi ke gereja untuk mengikuti kebaktian pada hari Minggu, atau sebaliknya bagi orang Kristen yang tidak sempat ke gereja hari Minggu karena ingin liburan, dia bisa ikut sholat Jum’at sebagai ganti kebaktiannya. Dan tidak perlu lagi, jauh-jauh ke Makkah untuk ibadah haji, cukup digantikan pergi ke BALI mengikuti apacara NYEPI, setelah itu mampir ke pantai kuta untuk berjemur.