Januari 25, 2014
Sabtu, 25 Januari 2014
Januari 25, 2014
Wahai Amirul Mukminin, apa yang membuat engkau menangis?
Umar bin Abdul Aziz, Dia seorang hafizh, mujtahid, sangat dalam
ilmunya, zuhud,ahli ibadah dan sosok pemimpin kaum Muslimin yang sejati.
Dia juga disebut Abu Hafsh,dari suku Quraisy,Bani Umayyah.
Istrinya, Fathimah pernah berkata, “ Dikalangan kaum laki-laki memang
ada yang shalat dan puasanya lebih banyak dari Umar. Tetapi aku tidak
melihat seorangpun yang lebih banyak ketakutannya kepada Allah daripada
Umar, jika masuk rumah ia langsung menuju tempat shalatnya, bersimpuh
dan menangis sambil berdoa kepada Alloh hingga tertidur. Kemudian dia
bangun dan berbuat seperti itu sepanjang malam.”
Takkala
menyampaikan khutbah terakhirnya, Umar bin Abdul Aziz rahimahullah naik
keatas mimbar, memuji Allah, lalu berkata, “ Sesungguhnya ditanganmu
kini tergenggam harta orang-orang yang binasa. Orang-orang yang hidup
pada generasi mendatang akan meninggalkannya , seperti yang telah
dilakukan oleh generasi yang terdahulu. Tidakkah kamu ketahui bahwa
siang dan malam akan membawa tubuh ini siap menghadap Allah, lalu kamu
membujurkannya di dalam hamparan bumi, tanpa tikar tanpa bantal, lalu
kamu menimbunnya dalam kegelapan bumi ?. Jasad itu telah meninggalkan
harta dan kekasih-kekasihnya. Dia terbujur dikolong bumi, siap menghadap
hisab. Dia tak mampu berbuat apa-apa menghadapi keadaan sekitarnya dan
tidak lagi membutuhkan semua yang ditinggalkannnya. Demi Allah,
kusampaikan hal ini kepadamu sekalian, karena aku tidak tahu apa yang
terbetik didalam hati seorang seperti yang kuketahui pada diriku sendiri
“
Selanjutnya Umar bin Abdul Aziz menarik ujung bajunya,
menyeka air mata, lalu turun dari mimbar. Sejak itu dia tidak keluar
rumah lagi kecuali setelah jasadnya sudah membeku.
Diriwayatkan
dari Abdus-Salam, mantan budak Maslamah bin Abdul Malik, dia berkata: “
Umar bin Abdul Aziz pernah menangis, melihat ia menangis, istrinya dan
semua anggota keluarganya pun ikut menangis, padahal mereka tidak tahu
persis apa sebabnya mereka ikut-ikutan menangis”.
Setelah
suasana reda, Fathimah, istrinya bertanya: “Demi ayahku sebagai jaminan,
wahai Amirul Mukminin, apa yang membuat engkau menangis? “ .Umar bin
Abdul aziz menjawab, “ Wahai fathimah, aku ingat akan persimpangan jalan
manusia takkala berada di hadapan Allah, ketika sebagian diantara
mereka berada di sorga dan sebagian lain berada di neraka.”
Januari 25, 2014
Tangisan Pohon Kurma
Pada suatu Jumat, warga Madinah digemparkan dengan suara tangis yang amat pilu dan tak ujung henti. Suara yang seperti rengekan bayi itu berasal dari Masjid Nabawi. Para sahabat Rasul yang berada di masjid pun kebingungan, siapa gerangan yang menangis. Saat itu, mereka tengah berkumpul untuk menjalankan shalat Jumat.
Tangisan terdengar sesaat ketika Rasulullah memberikan khutbah. Mendengarnya, Rasulullah pun turun dari mimbar menunda khutbahnya. Sang Nabiyullah kemudian mendekati sebuah pohon kurma. Beliau mengelusnya, kemudian memeluknya. Maka, berhentilah suara tangisan itu. Ternyata, si pohon kurma itulah yang menangis. Hampir saja pohon itu terbelah karena jerit tangisnya.
Sejak Masjid Nabawi berdiri, pohon kurma itu telah di sana. Tak hanya menjadi tonggak, pohon kurma tersebut selalu menjadi sandaran Nabi acapkali beliau memberikan khutbah. Si pohon selalu menanti hari Jumat karena pada hari itu ia akan mendampingi Nabi memberikan nasihat kepada kaum Muslimin. Sejak Jumat pertama masjid berdiri, ia selalu setia dan bahagia menemani Nabi Muhammad. Hingga hari Jumat itulah ia menangis.
Beberapa hari sebelum Jumat yang pilu bagi si pohon, seorang wanita tua Anshar mendatangi Rasulullah. Ia memiliki putra seorang tukang kayu dan ia menawarkan sebuah mimbar untuk Rasul. “Wahai Rasulullah, maukah kami buatkan mimbar untuk Anda?” ujarnya. Rasulullah pun menjawab, “Silakan jika kalian ingin melakukannya,” ujar beliau.
Maka, pada Jumat keesokan hari, mimbar Rasul telah siap digunakan. Mimbar itu pun diletakkan di dalam masjid. Saat Rasul menaiki mimbar, menangislah si pohon karena ia tak lagi menjadi “teman” Rasul dalam khutbah Jumat seperti biasa. “Pohon ini menangis karena tak lagi mendengar nasihat yang biasa disampaikan di sampingnya,” ujar Rasul setelah memeluk pohon tersebut.
Setelah dipeluk Nabiyullah, si pohon bahagia. Ia tak lagi menangis dan dirundung kesedihan. Meski tak lagi mendampingi Nabi, mendapat pelukan dari Nabi cukup mengobati rasa sedihnya. Rasulullah pun berkata kepada para sahabat, “Kalau tidak aku peluk dia, sungguh dia akan terus menangis hingga hari kiamat,” sabda Nabi.
Kisah pohon kurma yang menangis ini sangat populer dalam kisah Islami. Banyak rawi yang meriwayatkan hadis tersebut, sehingga tak perlu lagi dipertanyakan kesahihannya. Para sahabat banyak meriwayatkannya, baik Ibnu Abbas, Anas bin Malik, Jabir, Ibnu Umar, dan lain sebagainya. Kisah ini menunjukkan betapa seluruh makhluk, bahkan pohon sekalipun, mencintai Rasulullah. Maka, sangat mengherankan jika manusia yang berakal dan mengetahui keluhuran akhlah beliau kemudian tak jatuh cinta kepada sang Nabi.
Mari Kita Hadiahkan Bacaan Surat Al-Fatihah Untuk Beliau.. ALFATIHAH...
Januari 25, 2014
Tangisan Pohon Kurma
Pada suatu Jumat, warga Madinah digemparkan dengan suara tangis yang
amat pilu dan tak ujung henti. Suara yang seperti rengekan bayi itu
berasal dari Masjid Nabawi. Para sahabat Rasul yang berada di masjid pun
kebingungan, siapa gerangan yang menangis. Saat itu, mereka tengah
berkumpul untuk menjalankan shalat Jumat.
Tangisan terdengar
sesaat ketika Rasulullah memberikan khutbah. Mendengarnya, Rasulullah
pun turun dari mimbar menunda khutbahnya. Sang Nabiyullah kemudian
mendekati sebuah pohon kurma. Beliau mengelusnya, kemudian memeluknya.
Maka, berhentilah suara tangisan itu. Ternyata, si pohon kurma itulah
yang menangis. Hampir saja pohon itu terbelah karena jerit tangisnya.
Sejak Masjid Nabawi berdiri, pohon kurma itu telah di sana. Tak hanya
menjadi tonggak, pohon kurma tersebut selalu menjadi sandaran Nabi
acapkali beliau memberikan khutbah. Si pohon selalu menanti hari Jumat
karena pada hari itu ia akan mendampingi Nabi memberikan nasihat kepada
kaum Muslimin. Sejak Jumat pertama masjid berdiri, ia selalu setia dan
bahagia menemani Nabi Muhammad. Hingga hari Jumat itulah ia menangis.
Beberapa hari sebelum Jumat yang pilu bagi si pohon, seorang wanita tua
Anshar mendatangi Rasulullah. Ia memiliki putra seorang tukang kayu dan
ia menawarkan sebuah mimbar untuk Rasul. “Wahai Rasulullah, maukah kami
buatkan mimbar untuk Anda?” ujarnya. Rasulullah pun menjawab, “Silakan
jika kalian ingin melakukannya,” ujar beliau.
Maka, pada Jumat
keesokan hari, mimbar Rasul telah siap digunakan. Mimbar itu pun
diletakkan di dalam masjid. Saat Rasul menaiki mimbar, menangislah si
pohon karena ia tak lagi menjadi “teman” Rasul dalam khutbah Jumat
seperti biasa. “Pohon ini menangis karena tak lagi mendengar nasihat
yang biasa disampaikan di sampingnya,” ujar Rasul setelah memeluk pohon
tersebut.
Setelah dipeluk Nabiyullah, si pohon bahagia. Ia tak
lagi menangis dan dirundung kesedihan. Meski tak lagi mendampingi Nabi,
mendapat pelukan dari Nabi cukup mengobati rasa sedihnya. Rasulullah pun
berkata kepada para sahabat, “Kalau tidak aku peluk dia, sungguh dia
akan terus menangis hingga hari kiamat,” sabda Nabi.
Kisah
pohon kurma yang menangis ini sangat populer dalam kisah Islami. Banyak
rawi yang meriwayatkan hadis tersebut, sehingga tak perlu lagi
dipertanyakan kesahihannya. Para sahabat banyak meriwayatkannya, baik
Ibnu Abbas, Anas bin Malik, Jabir, Ibnu Umar, dan lain sebagainya. Kisah
ini menunjukkan betapa seluruh makhluk, bahkan pohon sekalipun,
mencintai Rasulullah. Maka, sangat mengherankan jika manusia yang
berakal dan mengetahui keluhuran akhlah beliau kemudian tak jatuh cinta
kepada sang Nabi.
Mari Kita Hadiahkan Bacaan Surat Al-Fatihah Untuk Beliau.. ALFATIHAH...
Januari 25, 2014