Breaking

Minggu, 02 Agustus 2015

Agustus 02, 2015

Abu Lahab Musuh Allah dan Rasulullah saw


Rasulullah menceritakan bahwa Allah Ta’ala meringankan adzab terhadap Abu Lahab di neraka pada setiap hari Senin, dikarenakan kegembiraannya atas kelahiran Nabi Muhammad sehingga ia membebaskan budaknya yang bernama Ummu Aiman yang membawa kabar gembira tersebut kepadanya. Hadist ini disebutkan di dalam Shahih Al-Bukhori.
Padahal Abu Lahab adalah seorang yang kafir yang disebutkan akan kebinasaannya di dalam Al-Quran, sehingga turun surat khusus untuk menceritakan tentang kebinasaannya. Akan tetapi Allah tidak melupakan kegembiraannya dengan kelahiran Nabi Muhammad hingga meringankan adzab baginya setiap hari Senin, hari kelahiran Rasulullah.
Maka bagaimana halnya dengan seorang hamba yang mukmin, yang seumur hidupnya bergembira dengan kelahiran Rasulullah dan meninggal dalam keadaan Islam? Pastilah derajat yang besar bagi mereka. Sebagaimana Allah berfirman,
“Katakanlah (hai Muhammad) bahwa dengan karunia dan rahmat Allah, maka bergembiralah dengan hal itu, itu (kegembiraan kalian) lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.”

Kegembiraan dengan rahmat dan karunia Allah dituntut oleh Al-Quran, dan kegembiraan tersebut lebih mahal dan lebih berharga dari apa yang dikejar-kejar dan dikumpulkan manusia, baik itu harta ataupun kedudukan.
Agustus 02, 2015

Renungan Kehidupan


Wahai saudaraku, semoga hidayah Allah subhanahu wa ta’ala selalu mengiringi kita, tak bisa dimungkiri bahwa kehidupan dunia ini dikitari dengan keindahan dan kenikmatan. Semuanya dijadikan indah pada pandangan manusia. Itulah kesenangan hidup di dunia. Namun di sisi Allah-lah sesungguhnya tempat kembali yang baik. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada segala apa yang diingini (syahwat), yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (al-Jannah).” (Ali Imran: 14)
Betapa pun menyenangkannya kehidupan dunia itu, sungguh ia adalah kehidupan yang fana. Semuanya bersifat sementara. Tiada makhluk yang hidup padanya melainkan akan meninggalkannya. Tiada pula harta yang ditimbun melainkan akan berpisah dengan pemiliknya. Keindahan dunia yang mempesona dan kenikmatannya yang menyenangkan itu pasti sirna di kala Allah subhanahu wa ta’ala menghendakinya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah di antara kalian serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur, dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya, dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (al-Hadid: 20)
Sudah sepatutnya bagi setiap pribadi muslim untuk memahami hakikat kehidupan dunia, agar tidak salah jalan dalam menempuhnya. Terlebih ia bukan akhir dari perjalanan seorang hamba dalam menuju Rabb-nya. Masih ada dua fase kehidupan berikutnya; kehidupan di alam kubur (barzakh) dan kehidupan di alam akhirat.
Di alam kubur (barzakh), masing-masing akan menghuninya seorang diri tanpa ditemani oleh kawan atau orang yang dicinta. Sedangkan segudang harta yang telah lama ditimbunnya di dunia tak lagi setia di sampingnya. Dengan hanya mengenakan kain kafan yang melilit di tubuh, berbaring di liang lahat yang sempit dan tak beralaskan sesuatu pun, masing-masing akan mendapatkan azab kubur atau nikmat kubur sesuai dengan perhitungannya di sisi Allah subhanahu wa ta’ala.
Adapun di alam akhirat, masing-masing akan menghadap Allah subhanahu wa ta’ala seorang diri pula guna mempertanggungjawabkan segala amal perbuatan yang dikerjakannya selama hidup di dunia, kemudian akan diberi balasan yang setimpal oleh Allah subhanahu wa ta’ala atas segala yang diperbuatnya itu. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
“Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja (berbuat) dengan penuh kesungguhan menuju Rabb-mu, maka pasti kamu akan menemui-Nya (untuk mempertanggungjawabkan segala perbuatan yang dilakukan).” (al-Insyiqaq: 6)
“Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah (unsur yang amat kecil) pun, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejelekan seberat dzarrah (unsur yang amat kecil) pun, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya.” (az-Zalzalah: 7-8)
Mewaspadai Gaya Hidup Bebas
Wahai saudaraku, semoga kasih sayang Allah subhanahu wa ta’ala selalu bersama kita, tak bisa dipungkiri bahwa gaya hidup bebas, lepas sama sekali dari kewajiban, tuntutan, perasaan takut, dan berbagai aturan (termasuk syari’at) yang ada merupakan fenomena yang terjadi pada sebagian manusia. Padahal bila dirunut hakikat dan ihwalnya, tak sepantasnya bagi mereka memilih kehidupan yang bersifat bebas tersebut.
Betapa tidak, dengan segala hikmah dan keadilan-Nya Allah subhanahu wa ta’ala menciptakan manusia sebagai makhluk yang dilingkupi segala kelemahan dan keterbatasan. Mengawali kehidupannya dalam keadaan lemah, kemudian sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
“Allah, Dialah yang menciptakan kalian dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kalian) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kalian) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.” (Ar-Rum: 54)
Sungguh tanpa nikmat, karunia, pertolongan dan kekuatan dari Allah subhanahu wa ta’ala, tak mungkin manusia bisa menjalani pahit getirnya kehidupan ini dengan selamat. Karena itu, Allah subhanahu wa ta’ala mengingatkan mereka dengan firman-Nya:
“Hai sekalian manusia, kalianlah yang amat butuh kepada Allah, dan Allah Dia-lah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji.” (Fathir: 15)
Demikianlah manusia dengan segala kelemahan dan keterbatasannya. Semua pada hakikatnya dalam perjalanan menuju Rabb-nya. Sedangkan kemampuannya untuk beramal sangat terbatas pada umur yang Allah subhanahu wa ta’ala tentukan. Saat kematian tiba, tak seorang pun dapat menghindar atau menangguhkannya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
“Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan.” (al-Munafiqun: 11)
Wahai saudaraku, semoga nikmat husnul khatimah mengiringi akhir kehidupan kita, ketahuilah bahwa gaya hidup bebas, lepas sama sekali dari kewajiban, tuntutan, perasaan takut, dan berbagai aturan termasuk syari’at agama merupakan perbuatan tercela yang dimurkai oleh Allah subhanahu wa ta’ala.
Gaya hidup bebas sangat berbahaya bagi kehidupan umat manusia, terkhusus kaum muslimin. Dengannya, berbagai tatanan kehidupan sosial kemasyarakatan akan hancur. Masing-masing akan berbuat sesuai dengan kehendak hawa nafsunya. Yang penting senang, yang penting puas… Ada yang berbuat zina, minum minuman keras (miras), narkoba, berjudi dengan segala modelnya, pornoaksi, pornografi, dan berbagai kemaksiatan lainnya. Sementara pembunuhan, perampokan, penjambretan, pencurian, korupsi, penipuan, dan berbagai tindakan kriminalitas lainnya pun menjamur di mana-mana.
Demikian pula dalam kehidupan baragama, gaya hidup bebas dapat merusak akidah dan ibadah kaum muslimin. Di antara mereka ada yang berbuat kesyirikan dan ada pula yang melakukan berbagai amalan tanpa bimbingan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
“Tidakkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya? Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu).” (al-Furqan: 43-44)
Bisa dibayangkan, betapa hancurnya sebuah masyarakat manakala kehidupannya disamakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dengan kehidupan binatang ternak bahkan lebih parah darinya. Oleh karena itu, dari sisi manakah alasan manusia untuk memilih gaya hidup bebas? Pantaskah perilaku buruk itu ditujukan kepada Allah subhanahu wa ta’ala, Pencipta alam semesta ini?! Betapa naifnya manusia (siapapun dia) bila memilih gaya hidup bebas, dengan menuhankan hawa nafsu, melepaskan diri dari ikatan syari’at Islam yang mulia dan mencampakkan fitrah yang suci.
Indahnya Meniti Kehidupan di Atas Agama Islam
Betapa indahnya agama Islam yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Syari’atnya memerhatikan hubungan antara hamba dengan Allah subhanahu wa ta’ala sang Pencipta, memosisikan-Nya sebagai tumpuan dalam hidup ini, berserah diri kepada-Nya, tunduk dan patuh kepada-Nya, memurnikan ibadah hanya untuk-Nya, dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatupun.
Demikian pula memerhatikan hubungan antara hamba dengan sesamanya, dengan cara menghormati yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda, menyantuni yang lemah, membantu orang yang tertimpa musibah, menyambung tali silaturahmi, menjaga hubungan baik dengan tetangga, memuliakan tamu, jujur dalam berbuat dan berkata, dan lain sebagainya. Syari’at yang bersifat adil dan tepat, tidak berlebihan dan juga tidak bermudahan dalam segala aspeknya.
Atas dasar itu, setiap pribadi muslim berkewajiban untuk meniti kehidupan ini dengan agama Islam dan syari’atnya yang sempurna selama hayat masih dikandung badan. Mengedepankan syariat Islam atas segala dorongan hawa nafsu, adat istiadat/budaya negerinya dan selainnya. Senantiasa menaati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tak menentangnya sedikit pun. Dengan itu, akan terbimbing untuk masuk ke dalam al-Jannah (surga) dan diselamatkan dari azab yang pedih. Itulah jalan keselamatan yang hakiki. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الجَنَّةَ إِلَّا مَنْ أَبَى، قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَمَنْ يَأْبَى؟ قَالَ: «مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الجَنَّةَ، وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى
“Semua umatku akan masuk ke dalam al-Jannah (surga) kecuali yang enggan. Para sahabat berkata: ‘Wahai Rasulullah, siapakah orang yang enggan itu?’ Rasulullah menjawab: ‘Barang siapa yang menaatiku pasti masuk ke dalam al-Jannah (surga), dan barang siapa menentangku maka dialah orang yang enggan’.” (HR. al-Bukhari no. 7280 dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)
Wahai saudaraku, semoga lindungan Allah subhanahu wa ta’ala selalu bersama kita, demikianlah sekelumit tentang renungan kehidupan dunia yang sedang kita jalani. Mudah-mudahan menjadi pelita dalam kegelapan dan embun penyejuk bagi para pencari kebenaran. Amiin..
Wallahu a’lam bish shawab..
Penulis: Ustadz Ruwaifi’ Lc, hafizhahullah
Renungan Kehidupan
Wahai saudaraku, semoga hidayah Allah subhanahu wa ta’ala selalu mengiringi kita, tak bisa dimungkiri bahwa kehidupan dunia ini dikitari dengan keindahan dan kenikmatan. Semuanya dijadikan indah pada pandangan manusia. Itulah kesenangan hidup di dunia. Namun di sisi Allah-lah sesungguhnya tempat kembali yang baik. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada segala apa yang diingini (syahwat), yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (al-Jannah).” (Ali Imran: 14)
Betapa pun menyenangkannya kehidupan dunia itu, sungguh ia adalah kehidupan yang fana. Semuanya bersifat sementara. Tiada makhluk yang hidup padanya melainkan akan meninggalkannya. Tiada pula harta yang ditimbun melainkan akan berpisah dengan pemiliknya. Keindahan dunia yang mempesona dan kenikmatannya yang menyenangkan itu pasti sirna di kala Allah subhanahu wa ta’ala menghendakinya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah di antara kalian serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur, dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya, dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (al-Hadid: 20)
Sudah sepatutnya bagi setiap pribadi muslim untuk memahami hakikat kehidupan dunia, agar tidak salah jalan dalam menempuhnya. Terlebih ia bukan akhir dari perjalanan seorang hamba dalam menuju Rabb-nya. Masih ada dua fase kehidupan berikutnya; kehidupan di alam kubur (barzakh) dan kehidupan di alam akhirat.
Di alam kubur (barzakh), masing-masing akan menghuninya seorang diri tanpa ditemani oleh kawan atau orang yang dicinta. Sedangkan segudang harta yang telah lama ditimbunnya di dunia tak lagi setia di sampingnya. Dengan hanya mengenakan kain kafan yang melilit di tubuh, berbaring di liang lahat yang sempit dan tak beralaskan sesuatu pun, masing-masing akan mendapatkan azab kubur atau nikmat kubur sesuai dengan perhitungannya di sisi Allah subhanahu wa ta’ala.
Adapun di alam akhirat, masing-masing akan menghadap Allah subhanahu wa ta’ala seorang diri pula guna mempertanggungjawabkan segala amal perbuatan yang dikerjakannya selama hidup di dunia, kemudian akan diberi balasan yang setimpal oleh Allah subhanahu wa ta’ala atas segala yang diperbuatnya itu. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
“Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja (berbuat) dengan penuh kesungguhan menuju Rabb-mu, maka pasti kamu akan menemui-Nya (untuk mempertanggungjawabkan segala perbuatan yang dilakukan).” (al-Insyiqaq: 6)
“Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah (unsur yang amat kecil) pun, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejelekan seberat dzarrah (unsur yang amat kecil) pun, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya.” (az-Zalzalah: 7-8)
Mewaspadai Gaya Hidup Bebas
Wahai saudaraku, semoga kasih sayang Allah subhanahu wa ta’ala selalu bersama kita, tak bisa dipungkiri bahwa gaya hidup bebas, lepas sama sekali dari kewajiban, tuntutan, perasaan takut, dan berbagai aturan (termasuk syari’at) yang ada merupakan fenomena yang terjadi pada sebagian manusia. Padahal bila dirunut hakikat dan ihwalnya, tak sepantasnya bagi mereka memilih kehidupan yang bersifat bebas tersebut.
Betapa tidak, dengan segala hikmah dan keadilan-Nya Allah subhanahu wa ta’ala menciptakan manusia sebagai makhluk yang dilingkupi segala kelemahan dan keterbatasan. Mengawali kehidupannya dalam keadaan lemah, kemudian sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
“Allah, Dialah yang menciptakan kalian dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kalian) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kalian) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.” (Ar-Rum: 54)
Sungguh tanpa nikmat, karunia, pertolongan dan kekuatan dari Allah subhanahu wa ta’ala, tak mungkin manusia bisa menjalani pahit getirnya kehidupan ini dengan selamat. Karena itu, Allah subhanahu wa ta’ala mengingatkan mereka dengan firman-Nya:
“Hai sekalian manusia, kalianlah yang amat butuh kepada Allah, dan Allah Dia-lah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji.” (Fathir: 15)
Demikianlah manusia dengan segala kelemahan dan keterbatasannya. Semua pada hakikatnya dalam perjalanan menuju Rabb-nya. Sedangkan kemampuannya untuk beramal sangat terbatas pada umur yang Allah subhanahu wa ta’ala tentukan. Saat kematian tiba, tak seorang pun dapat menghindar atau menangguhkannya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
“Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan.” (al-Munafiqun: 11)
Wahai saudaraku, semoga nikmat husnul khatimah mengiringi akhir kehidupan kita, ketahuilah bahwa gaya hidup bebas, lepas sama sekali dari kewajiban, tuntutan, perasaan takut, dan berbagai aturan termasuk syari’at agama merupakan perbuatan tercela yang dimurkai oleh Allah subhanahu wa ta’ala.
Gaya hidup bebas sangat berbahaya bagi kehidupan umat manusia, terkhusus kaum muslimin. Dengannya, berbagai tatanan kehidupan sosial kemasyarakatan akan hancur. Masing-masing akan berbuat sesuai dengan kehendak hawa nafsunya. Yang penting senang, yang penting puas… Ada yang berbuat zina, minum minuman keras (miras), narkoba, berjudi dengan segala modelnya, pornoaksi, pornografi, dan berbagai kemaksiatan lainnya. Sementara pembunuhan, perampokan, penjambretan, pencurian, korupsi, penipuan, dan berbagai tindakan kriminalitas lainnya pun menjamur di mana-mana.
Demikian pula dalam kehidupan baragama, gaya hidup bebas dapat merusak akidah dan ibadah kaum muslimin. Di antara mereka ada yang berbuat kesyirikan dan ada pula yang melakukan berbagai amalan tanpa bimbingan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
“Tidakkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya? Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu).” (al-Furqan: 43-44)
Bisa dibayangkan, betapa hancurnya sebuah masyarakat manakala kehidupannya disamakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dengan kehidupan binatang ternak bahkan lebih parah darinya. Oleh karena itu, dari sisi manakah alasan manusia untuk memilih gaya hidup bebas? Pantaskah perilaku buruk itu ditujukan kepada Allah subhanahu wa ta’ala, Pencipta alam semesta ini?! Betapa naifnya manusia (siapapun dia) bila memilih gaya hidup bebas, dengan menuhankan hawa nafsu, melepaskan diri dari ikatan syari’at Islam yang mulia dan mencampakkan fitrah yang suci.
Indahnya Meniti Kehidupan di Atas Agama Islam
Betapa indahnya agama Islam yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Syari’atnya memerhatikan hubungan antara hamba dengan Allah subhanahu wa ta’ala sang Pencipta, memosisikan-Nya sebagai tumpuan dalam hidup ini, berserah diri kepada-Nya, tunduk dan patuh kepada-Nya, memurnikan ibadah hanya untuk-Nya, dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatupun.
Demikian pula memerhatikan hubungan antara hamba dengan sesamanya, dengan cara menghormati yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda, menyantuni yang lemah, membantu orang yang tertimpa musibah, menyambung tali silaturahmi, menjaga hubungan baik dengan tetangga, memuliakan tamu, jujur dalam berbuat dan berkata, dan lain sebagainya. Syari’at yang bersifat adil dan tepat, tidak berlebihan dan juga tidak bermudahan dalam segala aspeknya.
Atas dasar itu, setiap pribadi muslim berkewajiban untuk meniti kehidupan ini dengan agama Islam dan syari’atnya yang sempurna selama hayat masih dikandung badan. Mengedepankan syariat Islam atas segala dorongan hawa nafsu, adat istiadat/budaya negerinya dan selainnya. Senantiasa menaati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tak menentangnya sedikit pun. Dengan itu, akan terbimbing untuk masuk ke dalam al-Jannah (surga) dan diselamatkan dari azab yang pedih. Itulah jalan keselamatan yang hakiki. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الجَنَّةَ إِلَّا مَنْ أَبَى، قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَمَنْ يَأْبَى؟ قَالَ: «مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الجَنَّةَ، وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى
“Semua umatku akan masuk ke dalam al-Jannah (surga) kecuali yang enggan. Para sahabat berkata: ‘Wahai Rasulullah, siapakah orang yang enggan itu?’ Rasulullah menjawab: ‘Barang siapa yang menaatiku pasti masuk ke dalam al-Jannah (surga), dan barang siapa menentangku maka dialah orang yang enggan’.” (HR. al-Bukhari no. 7280 dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)
Wahai saudaraku, semoga lindungan Allah subhanahu wa ta’ala selalu bersama kita, demikianlah sekelumit tentang renungan kehidupan dunia yang sedang kita jalani. Mudah-mudahan menjadi pelita dalam kegelapan dan embun penyejuk bagi para pencari kebenaran. Amiin..
Wallahu a’lam bish shawab..
Penulis: Ustadz Ruwaifi’ Lc, hafizhahullah
Agustus 02, 2015

INDONESIA AKAN DIPECAH TUJUH BAGIAN, HABIB RIZIEQ : UMAT ISLAM HARUS WASPADA !


Selain menjadi negara dengan mayoritas berpenduduk muslim terbesar di dunia, keistimewaan Indonesia adalah negara muslim yang paling luas wilayahnya. Dengan kondisi tersebut membuat musuh-musuh Islam tidak suka, karenanya mereka berusaha untuk memecah belah bangsa ini.
"Mantan Kepala Badan Koordinasi Intelejen Negara (Bakin) Z.A. Maulani sebelum wafat beliau kumpulkan para ulama dan habaib. Beliau ungkapkan bahwa Amerika dalam dokumennya menyebutkan Indonesia harus dipecah menjadi 5 sampai 7 bagian negara," kata Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Syihab dihadapan puluhan ribu jamaah di Cilebut Kabupaten Bogor, Sabtu malam (9/5/2015).
Kenapa Almarhum Z.A Maulani menyampaikan pesan tersebut kepada para ulama, karena kalau bukan ulama dan umat Islam siapa lagi yang jaga negara ini, ujar Habib Rizieq. Menurutnya, tentara harus bersatu dengan umat Islam untuk menjaga bumi pertiwi.
Ia mengingatkan lepasnya Timor Timur sebagai pengalaman. "Kita ditipu oleh AS dan Eropa, mereka menggunakan PBB untuk menekan referendum sampai Timor Timur lepas dari Indonesia. Seminggu setelah referendum, 120 negara kafir mendukung kemerdekaan Timor Timur," jelas Habib Rizieq.
"Coba bandingkan dengan Palestina, sudah puluhan tahun mereka menuntut kemerdekaan, tapi belum juga merdeka," tambahnya.
Menurut Imam Besar FPI, sudah cukup lepasnya Timor Timur jadi pelajaran. Ia pun khawatir saat ini seperti Papua mulai dikondisikan agar lepas juga. "Jika AS Eropa datang ke Papua mengacak-acak agar Papua juga lepas dari Indonesia. Maka saya akan ajak para pemuda, umat Islam dimanapun berada untuk angkat senjata berjihad kesana melawan Amerika dan sekutunya," tegas Habib Rizieq.
Ia meminta umat Islam jangan lengah, contohlah Uni Soviet, negara besar dengan kekuatan tentara yang luar biasa juga tetap bisa dipecah belah.
"Karena itu tentara tidak bisa sendiri, harus bersatu bersama umat Islam, maka kita akan kuat. Dan kalau para ulama bersatu, ormas Islam bersatu, pesantren bersatu, semua bersatu. Jangankan satu Amerika seribu Amerika tidak akan bisa menghancurkan negara ini," pungkas Habib Rizieq.
Agustus 02, 2015

Keutamaan Shalat Shubuh


Dari Jundab bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Barangsiapa yang shalat subuh, maka ia berada dalam jaminan Allah. Oleh karena itu, janganlah menyakiti orang yang shalat Shubuh tanpa jalan yang benar. Jika tidak, Allah akan menyiksanya dengan menelungkupkannya di atas wajahnya dalam neraka jahannam.” (HR. Muslim no. 657)
Ada beberapa faedah dari hadits di atas:
Pertama: Menunjukkan agungnya shalat fajar (shalat shubuh) di sisi Allah Ta’ala.
Kedua: Barangsiapa yang shalat Shubuh, maka ia mendapat jaminan dan rasa aman dari Allah. Jaminan ini adalah tambahan setelah seseorang berislam dengan mengakui “laa ilaha illallah”, tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah.
Ketiga: Secara tekstual menunjukkan bahwa orang yang shalat shubuh secara berjamaah atau sendirian akan mendapatkan jaminan Allah tadi.
Tentang keutamaan shalat Shubuh lainnya, disebutkan dalam dua hadits berikut.
Dari Abu Musa, Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Barangsiapa yang mengerjakan shalat bardain (yaitu shalat shubuh dan ashar) maka dia akan masuk surga.” (HR. Bukhari no. 574 dan Muslim no. 635).
Dari ‘Umaroh bin Ruaibah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Tidaklah akan masuk neraka orang yang melaksanakan shalat sebelum terbitnya matahari (yaitu shalat shubuh) dan shalat sebelum tenggelamnya matahari (yaitu shalat ashar).” (HR. Muslim no. 634).
Agustus 02, 2015

Bagi kita permasalahn hidup kadang terlampaui berat, Tapi jika Allah solusinya semua ayatnya akan terasa benar..


Mana sih hidup yang tak ada masalah? semua pasti mempunyai masalah dan saya yakin kita semua pasti merasa kalau masalah kita paling berat sedunia. Cobalah disaat kita merasa seperti itu kita berkumpul dengan kawan-kawan kita, atau ajaklah seorang saja, atau jalan-jalan saja keluar melihat-lihat sekitar, atau mudahnya sajalah lihat program tivi seperti "Jika Aku Menjadi" Apa yang terjadi setelah itu kita lakukan?
Sungguh kalau kita mau membuka hati dan fikiran,kita akan mendapati baaaaaaaaaannnyaaaaak sekali permasalahan yang lebih berat daripada permasalahan kita dan itu sedang di hadapi orang lain.
contoh : saat ini kita sedang berat dengan masalah uang sekolah,,namun saat kita sedang bersama kawan curhat ternyata kawan kita itu punya masalah lapar dan tidak dapat uang untuk sehari-harinya.. atau saat kita keluar kita melihat tukang becak yang duduk menunggu penumpang, atau kita melihat penjual yang tua renta menjual balon mainan anak2 ? tentunya masalah tukang becak, penjual tua renta dan kawan yang meencari sesuap nasi adalah lebih berat dari sekedar uang sekolah..
setelah melihat kenyataan itu,, ternyata benar kan kalau ALLAH TIDAK AKAN MEMBERI PERMASALAHAN DI LUAR KEMAMPUANNYA.

"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakanny...." (al-Baqarah: 286)
hanya pikiran kita yang kadang BERFIKIR ITU SEMUA BERAT sehingga yaa akhirnya menjadi berat. Padahal Allah saja percaya kita bisa menyeleseikanya, masak kita tidak percaya dengan kemampuan diri kita sendiri?
Semua menjadi berat karena diotak kita hany keberatan yang terasa, andai kita mau berkaca pada orang lain tetntu masih banyak orang yang masalahnya lebih berat dari kita. Namun mereka yang lebih berat dari kita bisa menyeleseikannya. Allah memberi masalah yang berbeda-beda pada umatnya karena Allah tau bahwa mereka semua bisa menyeleseikannya.
DAN KALAULAH KITA MENDAPATI MASALAH SEPERTI ITU :
Jadikan Sabar dan Salat sebagai penolongmu..

salaaat yang khusyuk setelahnya doa, pasrahkan seluruhnya.. saya jamin semua akan terasa plong.. dan otak kita akan fressh lagi.. setelahnya kita mencari solusinya. pasti kita akan berfikir dengan lebih jernih daripada sebelumnya.

"Innama'al usri yusro fa innama'al usri yusro... "
sesungguhnya dibalik kesusahan ada kemudahan..
"Ajaib atau unik urusan orang mukmin itu. Sebab, semua urusannya itu baik, dan itu tidak dimiliki kecuali oleh orang mukmin. Jika ia mendapatkan kebahagiaan (kemudahan) lalu bersyukur, maka hal itu menjadi kebaikan baginya. Dan jika ia ditimpa kesulitan, namun bersabar, maka hal itu pun menjadi kebaikan baginya" (HR Muslim
Tuh kan Allah Maha BaiKl, Penyayang, dan Pemurah..
  1. Hidup ini sudah susah, lalu mengapa kita buat menjadi lebih susah lagi?