Breaking

Rabu, 12 Agustus 2015

Agustus 12, 2015

Shiam & Shaum

Mari kita lihat perbedaan kata antara shiyam (الصيام) dan shaum ( الصوم )

Ada empat kata shiyam (الصيام) dalam dalam surat Al-Baqarah. Dua kata terdapat dalam ayat 187, satu dalam ayat 196  dan satunuya lagi terdapat dalam ayat 183. Semua kata shiam disini bermakna perintah untuk berpuasa, yaitu menahan diri dari makan, minum dan segala yang membatalkan puasa dari mulai fajar menyingsing sampai tenggelamnya matahari. Puasa ini lebih poluler lagi disebut puasa menahan perut dari lapar dan haus. Sorang muslim berpuasa dari terbit matahari sampai tenggelamnya niatnya hanya cukup untuk menjahui hal hal yang membatalkan puasa. Barang siapa berpegang teguh kepada yang telah ditetapkan syariat, maka puasanya shah dan tidak ada qadha atau kafarah baginya, dan tentu mereka akan memperoleh faidah dunia dan pahala akhirat. Akan tetapi puasa sejenis ini tidak akan mewujudkan faedah-faedah lain yang diharapkan. Inilah yang dinamakan shiam atau puasa syariat atau yang disebut puasa kebanyakan manusia.
Adapun kata shoum ( الصوم ) hanya satu kata terdapat dalam dalam surat Maryam, Allah berfirman di ayat 26:
فَكُلِي وَٱشْرَبِي وَقَرِّي عَيْناً فَإِمَّا تَرَيِنَّ مِنَ ٱلبَشَرِ أَحَداً فَقُولِيۤ إِنِّي نَذَرْتُ لِلرَّحْمَـٰنِ صَوْماً فَلَنْ أُكَلِّمَ ٱلْيَوْمَ إِنسِيّاً
Artinya: ”Maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu. Jika kamu melihat seorang manusia, maka katakanlah: “Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa (diam) untuk Tuhan Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang Manusia pun pada hari ini”.
Kata shaum (الصوم) dalam ayat diatas artinya diam atau tidak berbicara. Itu yang dianjurkan Allah kepada siti Maryam, tetkala ia mengandung anak (Nabi Isa) tanpa bapak, lalu ia menjauhkan diri dari manusia. Ia disuruh makan dan minum tapi berpuasa, maksudnya berdiam atau berzikir.
Jadi yang dimaksud dengan kata shaum yaitu disamping perut berpuasa juga seluruh anggota tubuh yang lain ikut berpuasa. Seperti mata berpuasa, telinga berpuasa, mulut berpuasa, tangan dan kaki ikut pula berpuasa. Puasa jenis ini dinamakan juga dengan puasa untuk mensucikan akhlak dari berbagai hal yang diharamkan dan dari berbagai hal yang dibenci.
Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa orang yang tidak menjaga mulutnya di bulan Ramadhan dari dusta atau mengupat seseorang, atau menuduh sesorang atau menyakiti sesorang dengan lidahnya maka puasanya menjadi batal. Seseorang yang benar benar berpuasa dengan seluruh anggota tubuhnya akan memiliki doa yang mustajab ketika berbuka. Jika anggota tubuh sesorang berpuasa sebagaimana perutnya berpuasa, maka dia akan bisa mencapai derajat yang tinggi pada hari hari terakhir dari bulan Ramadhan.
Pernah satu kali Rasulallah saw mendengar seorang wanita tengah mencaci maki tetangganya sementara dia sedang dalam keadaan berpuasa. Maka Rasulallah saw pun menyuruh wanita itu berbuka.
Rasulallah saw berkata kepada wanitu itu: “Makanlah”.
Wanita itu menjawab: “saya sedang berpuasa”
Rasuallah saw berkata: “Bagaimana mungkin engkau berpuasa sementara engkau mencaci maki tetanggamu. Sesungguhnya puasa bukanlah hanya dari makan dan minum”.
Ini perbedaan antara shiam dan shaum menurut Nabi saw. Wanita itu shiam tapi tidak shaum.
Ada lagi yang lebih tinggi dari jenis shaum, jenis ini merupakan jenis puasa yang amat sulit untuk diikuti yaitu puasa (shaum) hati. Ini biasanya dilakukan oleh orang orang shufi. Jenis ini disamping seseorang harus berpuasa perutnya, dan seluruh anggota tubuhnya, maka hatinya pun harus berpuasa.
Sekarang, bagaiman hati itu harus berpuasa? Hati berpuasa dari lintasan pikiran yang buruk dan dari sifat yang tercela, itu menurut Hb Abdullah Alhaddad dalam kitabnya yang populer Nashaih Diniyah. Maksud beliau meskipun pikiran buruk dan sifat jahat terdetik di dalam hati namun puasa (shaum) mencegahnya untuk tidak dilakukanya. Pikiran buruk itu seperti penyakit dengki, hasut, penyakit pelit dan kikir, penyakit buruk sangka, dan juga penyakit sombong.
Nah, kalau kita sudah bisa menyapai kepada kebersihan hati, dan tidak ada yang terdetik dihati kecuali Allah, tidak ada yang dicintai kecuali Allah, tidak ada yang ditakuti kecuali Allah, berarti hatinya telah menjadi milik Allah. Maka Allah akan menerangi hatinya, menerangi jalannya, menerangi pikiranya sehingga ia akan sampai derajat shufi, mencapai derajat sebagimana yang digambarkan oleh Allah dalam kitab Nya,
رِجَالٌ لاَّ تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلاَ بَيْعٌ عَن ذِكْرِ ٱللَّهِ
“Laki laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak pula oleh jual beli dari mengingat Allah” an Nur 37
Wallahu’alam/ Hasan Husen Assagaf
NB. Kirimlah artikel ini sebanyak mungkin kepada rekan rekan kita yang lain. Semoga Allah membalas kebaikan yang kita anggap sepele ini dengan ganjaran yang tak ternilai.
Agustus 12, 2015

Bacalah! (Iqra’)

IQRA’

2Ada peristiwa besar dalam kehidupan Rasulallah saw yang patut direnungkan dan  dipikirkan kembali oleh kita sebagai pengikutnya. Yaitu peristiwa ketika beliau menyendiri di Gua Hira di Jabal Nur, jauh dari kesibukan kehidupan kota Mekkah.
Tiba-tiab sebuah suara terdengar: “ Iqra’ “ artinya bacalah.
Tubuh Rasulallah saw pun menggigil berkeringat.
Lalu beliau menjawab: “saya tidak bisa membaca”.
Kemudian suara itu terulang lagi: “ Iqra’ ”.
Mendengar perintah itu tubuh beliau makin menggigil.
Beliau menjawab lagi: “saya tidak bisa membaca”.
Kemudian suara itu terulang lagi: “ Iqra’ ”.
Seiring itu pula Rasulallah saw menjawab dengan ucapan yang sama:
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ
“Bacalah atas nama Tuhan mu yang menjadikan”
941277294_2481909890_m“Bacalah atas nama Tuhan mu yang menjadikan” adalah wahyu pertama, surat al-Alaq, dari Allah turun kepada Rasulallah saw melalui perantara malaikat Jibril as di puncak jabal Nur, di gua Hira’-Makkah. Mulai saat itu beliau menerima wahyu dari Allah berturut turut 23 tahun hingga usia beliau 63 tahun. Wahyu itu lalu dikumpulkan oleh para shahabat sehingga menjadi sebuah Mushaf, dan dikenal sebagai al-Qur’an.
Al-Qur’an diturunkan bagi manusia yang memiliki akal dan pikiran. Ini merupakan suatu amanat yang besar dari Allah agar manusia “membaca“.  Dahulu, amanat (akal dan fikiran) ini telah ditawarkan pada langit dan bumi, bulan, bintang dan matahari, gunung, lautan, api, batu, angin, tsunami dan semua benda jamad yang tidak berakal. Semua enggan untuk memikul amanat tersebut karena mereka khawatir akan menghianatinya. Maka dipikulah amanat itu oleh manusia. “Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh“ al Ahzab, 73.
Masa lalu, saat pertama kali saya belajar al-Qur’an bermula di kampung, di Cianjur. Umur saya mungkin kurang lebih tujuh tahun. Saya dibawa ke seorang kiai yang mengajarkan kami membaca al-Qur’an. Saya masih ingat dan tidak bisa melupakan kiai itu. Ia orang tua soleh, ahli dalam bacaan kitab suci, mampu berdoa dan oleh orang kampung ditaruh di garis depan di bidang rohani. Sekarang kenangan ini menimbulkan apa yang barang kali patut disebut dalam bahasa Arab “ihsas muzdawij“ atau perasaan bercampur syukur dan sedih sekaligus pada saat yang sama.
Rasa syukur muncul karena sejak saat itu saya diajari adab sopan santun yang berurusan dengan al-Qur’an, bahwa buat sekadar menyentuh kitab suci saja, diri kita harus pula suci. “tidak menyentuhnya kecuali hamba-hamba yang disucikan “ al-Waqiah,79 . Maka sebelumnya saya pun berwudu’ dan untuk membacanya, mula mula saya membaca doa ta’awudh atau doa mohon perlindungan Allah supaya kita dijauhkan dari gangguan syetan yang jahat.
Adapun yang membuat saya merasa sedih karena kitab suci dihormati cuma dari segi rohaniah saja. Padahal kitab suci, yang dalam firman Allah disebut “ berisi petunjuk yang tak diragukan” bukan hanya untuk dijadikan benda pusaka akan tetapi kitab suci itu untuk dibaca, dipelajari, ditelaah makna-maknanya dan arti-artinya secara mendalam, kemudian diamalkan sebagai kitab yang di dalamnya tak diragukan, mengajak kita supaya bertakwa pada Allah.
Imam besar Ghazali dalam kitabnya Ihya menyebutkan bahwa membaca kitab suci dengan bacaan khusyu’ dan mendalam bisa menghapus segala duka. Di dalam kitab suci, ada amalan-amalan gaib dan kekuatan wahyu yang mampu menghapus gumpalan gelap yang menutup hati. Bacaan mendalam membuat hati yang buta menjadi terang.
Maka dengan membaca al-Qur’an dan menelaah makna-maknanya, seharusnya kita bisa membuat suatu yang bisa merobah diri kita dari alam kegelapan ke alam terang menderang, membawa kita ke alam yang lepas dari kejahilan yang selalu memojokan umat Islam sekarang ini  ke sudut yang gelap, ke sudut yang bisa membuat mereka dilecehkan dan dipecahbelahkan. Kitab suci harus disikapi seperti anjuran Amirul Mu’minin Umar bin Khattab ra, yang mana kita harus bisa sebesar mungkin mengambil manfaat duniawi dari al-Qur’an tadi, bukan hanya sebagai usaha masuk surga.
Jadi apa faedahnya membaca al-Quran sejak berabad-abad bila kita tetap dikalahkan, dilecehkan, dipojokan dan dipecahbelahkan. Memang ada yang salah pada diri-diri kita bahwa kita membaca kitab suci hanya untuk persiapan mati, bukan untuk persiapan hidup. Sedang sejarah Islam telah membuktikan bahwa, dengan al Qur’an, mereka bisa merobah dunia.
Wallahu’alam,

Selasa, 11 Agustus 2015

Agustus 11, 2015

Kekuatan Munajat

Alhamdulillah puasa kita jalankan dengan baik. Dan sekarang sudah hampir mencapai puncak terakhir dari bulan Ramadhan. Di puncaknya kita dapatkan pembebasan dari api neraka insyallah. Pada malam-malam terakhir para malaikat turun dari langit untuk menaburkan kasih sayang Allah kepada hambanya dan menyampaikan salam kepada kaum beriman sampai terbit fajar.

 
Pada malam yang indah ini saya akan sampaikan dua hadist.
4
 
لما روي عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ , قَالَ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , يَقُولُ : خَرَجَ نَبِيٌّ مِنَ الأَنْبِيَاءِ بِالنَّاسِ يَسْتَسْقِي فَإِذَا هُوَ بِنَمْلَةٍ رَافِعَةٍ بَعْضَ قَوَائِمِهَا إِلَى السَّمَاءِ , فَقَالَ : ارْجِعُوا فَقَدِ اسْتُجِيبَ لَكُمْ مِنْ أَجْلِ شَأْنِ هَذِهِ النَّمْلَةِ. (الحاكم في المستدرك و قال هذا حديث صحيح الإسناد)
 
Salah seorang Nabi keluar mencari air (maksudnya: shalat istisqa’, meminta hujan kepada Allah), lalu ia melihat seekor semut dengan bersandar ke punggungnya dan mengangkat kedua kakinya ke langit. Kemudian Nabi itu berkata kepada kaumnya, “Kembalilah pulang, Allah telah menerima do’a kalian karena do’a seekor semut ini.” (HR al-Hakim dalam Mustadrak dengan isnad shahih, dari Abu Hurairah ra)
 
فَعَنْ مُصْعَبِ بْنِ سَعْدٍ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : هَلْ تُنْصَرُونَ وَتُرْزَقُونَ إِلا بِضُعَفَائِكُمْ (رواه البخاري)
 
Rasulallah saw bersabda: “Kalian tidaklah mendapat pertolongan dan rizki melainkan disebabkan oleh orang-orang lemah diantara kalian“ (HR: Bukhari, dari Mus’ab bin Sa’ad)
 
Al-kisah, bumi Basrah sudah lama tandus tidak turun hujan. Matahari sangat terik, angin padang pasir berhembus panas dan kering. Kemarau kali ini membuat penduduk gelisah. Air susah dicari, tanaman banyak yang mati, dan ternak mulai kelihatan kurus.
 
Penduduk tidak tinggal diam. Mereka bersepakat untuk medirikan sholat Istisqa’ (shalat minta hujan). Sholat itu dihadiri oleh para alim ulama dan tokoh masyarakat Basrah yang dipimpin oleh salah seorang ulama top di antara mereka.
 
Dengan kehadiran para alim ulama terkemuka, sholat Istisqa’ ini dianggap sesuatu yang istimewa. Mereka berfikir Allah pasti mengkabulkan permintaan mereka. Mereka yakin harapan mereka dikabulkan dan hujan akan segera turun.
 
Setelah selesai sholat istisqa’ dua rakaat dan khotbahnya , ternyata tidak ada tanda-tanda akan turun hujan, tidak ada mendung, tidak ada awan bahkan matahari semakin terik. Kemudian timbul pertanyaan mengapa hujan tidak turun? Sedangkan mereka sholat sama-sama para alim ulama Basrah.
 
Akhirnya mereka memutuskan untuk melakukan sholat Istisqa’ yang kedua kalinya dengan harapan agar Allah mengabulkan do’a mereka. Selesai sholat yang kedua, keadaanya masih sama. Tidak ada tanda tanda turun hujan, tidak ada mendung dan tidak ada tanda-tanda do’a mereka dikabulkan. Langit masih tetap cerah dan matahari masih tetap terik. Para alim ulama dan masyarakat semakin bertanya tanya apa sebabnya tidak turun hujan?
 
Kemudian disusul dengan shalat istisqa’ yang ketiga. Harapan besar mereka agar Allah mengabulkan do’a mereka kali ini. Tapi, masih tetap tidak ada tanda tanda turun hujan, Matahari masih tetap terik, awan tetap cerah. Para ulama mulai gelisah. Timbul tanda tanya kenapa do’a mereka tidak dikabulkan? Akhirnya seluruh penduduk dan ulamanya pulang ke rumah dengan tangan hampa.
 
Hanya satu orang sufi yang tidak pulang. Ia bernama Malik bin Dinar (*1). Ia duduk di lapangan, beberapa saat memudian pergi ke masjid yang tidak berjahuan dari lapangan. Ia duduk di masjid sampai larut malam. Tiba-tiba ia dikejutkan dengan kehadiran seseorang ke dalam masjid. Orang itu berkulit hitam, penampilannya sangat sederhana sekali, dan memakai sarung dan baju tidak terurus.
 
Malik mengamati gerak-geriknya dan ingin mengetahui apa yang akan dilakukan di larut malam seperti ini. Orang itu pergi ke tempat wudu lalu menuju ke mihrab. Ia kemudian mengerjakan sholat dua raka’at. Sholatnya pun tidak terlalu lama, surat yang dibaca tidak panjang, begitu pula kiam, ruku dan sujudnya sekedar tuma’ninah.
 
Selesai sholat, orang itu mengangkat kedua tangannya ke langit sambil berdo’a. Malik bin Dinar mendengar isi do’a yang ia sampaikan dengan nada yang tidak terlalu keras tapi bisa didengar orang. Ia berkata:
 
5Ya Allah, sesungguhnya hamba-hamba-Mu telah datang berkali-kali kepada-Mu memohon sesuatu yang sebenarnya tidak mengurangi sedikitpun dari kekuasaan-Mu. Apakah rahmat dan belas kasihan-Mu terhadap mereka telah habis? Atau jika Kamu kabulkan harapan mereka akan mengurangi kekuasaan-Mu? Ya Allah, aku bersumpah demi nama-Mu dan kecintaan-Mu kepadaku turunkanlah hujan kepada kami dengan secepatnya
 
Setelah do’a dibaca oleh orang tersebut, angin dingin datang dengan sekerasnya, awanpun mendung, bumi mejadi gelap gulita dan suara halilintar terdengar dengan sekerasnya. Tidak lama kemudian, hujan turun dengan lebatnya. Dengan seketika bumi Bashrah menjadi basah.
 
Malik bin Dinar tercengang menyaksikan keadaan tsb. Ia menunggu hingga orang itu selesai dari munajatnya lalu menghampirinya dan berkata: “Wahai pemuda, kamu tidak malu kepada Allah dengan dengan isi do’a yang kamu bacakan tadi.”. Pemuda itu bertanya: “isi do’a yang mana yang kamu maksudkan?”. Malik bin Dinar berkata, “Do’a yang kamu baca bahwa yang mana Allah mencitaimu. Apakah kamu memang yakin bahwa Allah mencintaimu?” Lalu orang itu menjawab dengan singkat, “Karena Aku sangat mencintai Allah, maka aku yakin Allah akan mencitaiku. Bagaimana aku beribadah tanpa menanamkan rasa cintaku kepada-Nya? Maka sesuai dengan kadar cintaku kepada-Nya aku dapatkan cinta-Nya kepadaku”. Setelah itu, ia segera pergi. Malik bin Dinar mencoba menahannya. “Tunggu sebentar, aku ingin tahu siapa kamu itu sebenarnya? “Aku adalah seorang pembantu yang mempunyai kewajiban untuk mentaati perintah majikanku” jawabnya.
 
Akhirnya Malik mengikutinya dari jauh. Pemuda itu memasuki rumah orang kaya di Basrah. Pagi harinya ia segera menuju rumahnya dan menanyakan jika orang kaya itu ingin menjual pembantunya. Orang kaya itu berkata, “Ambillah budak ini. Terserah berapa saja kamu ingin bayar harganya. Ia tidak berguna bagiku, karena malam ia habiskan waktunya untuk menangis dan siang untuk shalat dan puasa
 
6Kemudian Malik bin Dinar menuntun tangan pemuda tadi dan dibawa ke rumahnya. Di tengah jalan ia meminta untuk mampir ke masjid. Setibanya di masjid, ia berwudu dan terus mengerjakan sholat sunat dua rakaat. Malik bin Dinar mengamatinya, ia ingin tahu apa yang ingin dilakukan oleh pemuda itu. Selesai sholat, ia mengangkat kedua tangannya dan berdoa seperti yang dilakukannya malam itu. Tetapi kali ini dengan do’a yang berbeda:
 
Ya Allah, rahasia antara aku dan Engkau telah telah diketahui oleh semua makhluk. Bagaimana aku bisa hidup dengan tenang di dunia ini karena telah ada orang ketiga menjadi penghalang antara aku dan diri-Mu. Aku bersumpah demi kecintaan-Mu kepadaku, cabutlah nyawaku sekarang juga,”
 
Setelah diturunkan kedua tangannya pemuda itu sujud. Malik bin Dinar mendekatinya, menunggu dia bangun dari sujudnya. Tetapi ia sujud agak lama dan tidak bangun-bangun. Malik menggerakkan badannya, tapi… ia sudah tidak bernyawa lagi. Subhanallah.
 
Itulah dunia. Makanya janganlah sekali-kali meremehkan seseorang, berperasangka baiklah kepada setiap manusia. Setiap manusia Allah berikan kelebihan yang berlainan. Janganlah memandang rendah kepada kepada yang lemah, kepada yang miskin, kepada yang bodoh, siapa tahu Allah mengangkat derajat mereka. Dunia itu berputar, sesaat ia berada diatas dan sesaat lagi berada di bawah. Kalau ia sedang  berada di atas jangalah sombong, angkuh dan bangga, sebaliknya kalau ia berada di bawah jangalah gelisah atau putus asa. Sesungghunya di langit ada kerajaan yang Maha Besar, tertulis di depan pintun gerbangya:  “Dan Kami tidaklah lengah terhadap ciptaan Kami” almu’minun 17
 
Katakanlah : Ya Allah yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engaku cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau
hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau maha kuasa atas segala sesuatau. Engkau masukkan malam kedalam siang dan Engkau masukan siang kedalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Dan Engkau beri rizki siapa yang Engkau kehendaki tampa batas” Al-Imran, 26-27
——————–
 
(1)Malik bin Dinar seorang tabi’in yang hidup di zaman Hasan al Bashri, bahkan ia adalah salah seorang muridnya. Ia terhitung sebagai seorang Shufi, ilmuwan yang zuhud dan rendah hati. Dia adalah seorang yang suka merendah dan tidak mau makan kecuali dari hasil kerjanya sendiri. Dan kerjanya adalah menulis mushaf  dengan upah. Ia juga ahli hadits yang diriwatkan dari tokoh-tokoh hadist di masa lampau seperti Anas bin Malik, Ibnu Sirin dll. Malik bin Dinar meninggal sekitar tahun 130 H yang bertepatan tahun 748 M. Dalam do’a nya yang populer Malik bin Dinar berkata : “Ya Allah, janganlah Kamu masukkan apapun ke dalam rumah Malik bin Dinar”.
 
Wallahu’alam
Agustus 11, 2015

Kedahsyatan Do’a

7

Jika suatu kisah disebut dalam Al-Qur’an berarti kisah itu mempunyai arti dan nilai yang sangat besar. Ada suatu peristiwa besar yang diabadikan Allah dalam Al-Qur’an, yaitu peristiwa penyerangan tentara gajah ke Makkah. Peristiwa yang telah diabadikan Allah dalam surat Al-Fill ini terjadi pada abad keenam atau tahun 570M. Pada saat itu negara Yaman dikuasai oleh seorang raja Kristen dari Habasyah bernama Negus yang berhasil mengusir bangsa Yahudi dari negeri itu. Lalu mengangkat Abrahah Ashram sebagai seorang gubernur di negeri Yaman.
Tidak berjauhan dari negeri Yaman, ada sebuah kota tua bersejarah, yaitu Makkah. Di sana terdapat sebuah Baitullah, Ka’bah namanya, rumah yang didirikan oleh nabi Ibrahim as dan dan putranya Ismail as beberapa abad silam. Seluruh manusia dari berbagai bangsa dan negeri datang setiap tahun berkumpul menunaikan haji ke tempat itu. Tidak sedikit pula dari penduduk Yaman sendiri datang ke sana berkumpul dan berhaji menurut cara mereka pada masa itu.
Dengan kumpulnya manusia di Makkah yang begitu banyak setiap tahun, maka kota Makkah menjadi ramai dan bangsa Quraisy sebagai penguasa Baitullah semakin terhormat dan mendapat kedudukan yang layak pula. Lalu timbul hasut dan niat busuk di hati Abrahah ingin memindahkan Ka’bah ke Yaman sebagai pengganti Ka’bah di Makkah dan membelokkan ummat manusia agar jangan datang ke Makkah, ia berniat ingin memindahkan Ka’bah ke Yaman sebagai pengganti Ka’bah di Makkah.
Niat itu segera dilaksanakannya. Lalu dia membangun sebuah gereja besar di kota San’a, ibukota negeri Yaman yang diberi nama gereja Al-Qulais. Gereja besar itu dibuatnya dengan bentuk yang sebaik-baiknya dan dihiasi dengan berbagai macam ukiran antik, dan dipenuhi dengan benda benda berharga. Setelah selesai pembangunan gereja ia mengundang semua manusia menunaikan haji ke sana.
Kehadiran gereja itu cukup mengundang kemarahan bangsa Arab. Mulailah terjadi pembekotan, tidak seorangpun di antara bangsa Arab yang mau menunaikan haji ke Yaman, sekalipun sudah dianjurkan dan diperintahkan oleh Abrahah. Hati hati mereka sudah tertancap di Ka’bah, sekalipun bentuk Ka’bah tidak begitu menarik, bahkan tidak diukir oleh ukiran-ukiran antik dan tidak pula dihiasi dengan perhiasan-perhiasan yang mewah. Ini karena janji Allah kepada nabi Ibrahim as dan putranya Ismail as ketika meletakkan batu pertama di Ka’bah. Pada saat itu nabi Ibrahim berdoa:
فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِّنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِّنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ
“Ya, Allah, Jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” Ibrahim 37
Dari kemarahan bangsa Arab timbul isu isu bahwa seorang laki-laki dari suku Kinanah membuang hajat di dalam gereja. Tatkala Abrahah mengetahui hal itu, ia marah besar dan bersumpah akan memimpin seluruh tentaranya berangkat menuju Makkah untuk menghancurkan Ka’bah. Ia berharap pula jika Ka’bah sudah diruntuhkan, terpaksa semua bangsa Arab akan datang ke Yaman, ke gereja besar yang sudah disediakannya sebagai pengganti Ka’bah. Abrahah lalu mempersiapkan tentera yang besar jumlahnya dengan berkenderaan gajah. Pasukan ini lalu berangkat menuju ke kota Makkah untuk meruntuhkan Ka’bah.
Mendengar berita Abrahan akan datang dengan tenteranya yang berkenderaan gajah untuk meruntuhkan Ka’bah, rumah suci yang mereka hormati, mereka bersiap untuk mempertahankannya dengan segala kekuatan yang ada pada mereka. Tetapi mustahil mereka bisa melawanya karena tentara Abrahah sangat besar jumlahnya. Mereka sadar bahwa mereka tidak mempunyai kekuatan apapun untuk melawannya, kemudian mereka semuanya terpaksa pasrah dan menyerah.
Tetkala Abrahah tiba di Al-Mughamas, daerah dekat Thaif, ia mengutus seorang laki-laki dari Habasyah yang bernama Al-Aswad bin Maqshud untuk segera berangkat ke Makkah. setibanya di kota Makkah ia menggiring harta penduduk bangsa Quraisy dan lainnya. Diantara harta yang dirampasnya ada 200 ekor unta milik kakek Nabi saw, Abdul Muthalib bin Hasyim yang pada saat itu ia sebagai pemimpin dan pembesar kaum Quraisy. Mereka semua tidak bisa melawanya dan tidak bisa berbuat apa apa.
Sebelum memasuki kota Makkah, Abrahah memerintahkan pasukannya untuk berhenti duhulu. Lalu ia mengutus Hunathah Al-Himyari ke Makkah untuk membawa surat seruan terhadap penduduk Makkah. Dalam surat itu penduduk Makkah diperintahkan tunduk dan mengalah dan membiarkan pasukannya masuk meruntuhkan Ka’bah, dan pula keinginannya ingin bertemu dengan ketua dan sesepuh kota Makkah.
Abdul Muthalib Bin Hasyim kakek Nabi saw datang menemui utusan sebagai pemimpin rakyat Quraisy dan orang yang bertanggungjawab terhadap Ka’bah. Utusan itu segera berkata kepadanya: “Abrahah berpesan kepada tuan bahawa ia bukan datang untuk memerangi bangsa Quraisy, tetapi hanya untuk menghancurkan Ka’bah. Kalau tuan dan bangsa Quraisy tidak menghalangi maksudnya, maka tidak akan terjadi pertumpahan darah dan Abrahah berpesan supaya tuan datang menemuinya”.  Abdul Muthalib menjawab: “Demi Allah, kami tidak akan memerangi kamu, karena kami tidak mempunyai kekuatan untuk berperang”.  “Kalau begitu mari kita menghadap Abrahah”,  kata utusan itu mengajak Abdul Muthalib.
Utusan itu berangkat bersama sama Abdul Muthalib dan beberapa pemuka Quraisy menuju perkemahan tentera Abrahah untuk bertemu dengan Abrahah. Setibanya di kemah, Abrahah terharu melihat ketampanan rupa Abdul Muthalib dan kewibawaanya. Ia lalu bangun dari singgasananya dan tidak dipersilahkannya untuk duduk di bawah dan ia memutuskan untuk turun ke bawah dan duduk di sampingnya di tikar permadani. Ia memperlakukan Abdul Muthalib sebagai tamu terhormat.
Lalu Abrahah berkata: “Katakanlah kepadaku, apa keperluan tuan?”. Abdul Muthalib mejawab: “Keperluanku hanya agar kamu mengembalikan kepadaku 200 unta yang kau rampas dariku”.  Mendengar permintaan itu, Abrahah menjadi heran dan berkata: “Kami datang untuk mehancurkan Ka’bah, sekarang kenapa tuan hanya membicarakan tentang 200 ekor unta yang kami rampas, dan tuan lupakan agama dan Ka’bah yang tuan puja?”. Dengan tangkas Abdul Muthalib menjawab: “Saya ini hanya pemilik unta, sedangkan Ka’bah itu ada Pemiliknya dan Dia sendiri yang akan menjaga dan memeliharanya.”.  Lalu Abrahah berkata: “Kalau begitu tuan tidak akan menghalangi niat kami?”. Abdul Muthalib menjawab: “Itu adalah urusan kamu dengan Pemilik Ka’bah”. Maka untuk menyenangkan hati Abdul Muthalib, semua unta yang dirampasnya dikembalikan kepadanya.
Hari mulai malam dan gelap-gulita. Di malam itulah tentera Abrahah akan memasuki kota Makkah untuk menghancurkan Ka’bah. Keadaan penduduk kota Makkah mulai panik, Abdul Muthalib kembali ke Makkah dan dilihatnya semua penduduk Makkah besar-kecil, laki-laki perempuan sibuk bersiap siap semuanya untuk mengungsi, Mereka membawa semua barang dan ternak mereka, ingin menghindarkan diri dari bahaya yang mungkin akan menimpah mereka.  Lalu Abdul Muthalib dan beberapa masyarakat Quraisy pergi menuju Ka’bah. Mereka semua berdoa kepada Allah sambil memegang pintu Ka’bah agar Dia menurunkan pertolongnan-Nya dan menghalangi Abrahah dan pasukanya. Abdul Muthalib menangis sambil memegang pintu Ka’bah seraya berdoa: “Ya Allah, sesungguhnya seorang hamba hanya mampu melindungi dirinya dan hewannya, maka lindungilah rumah-Mu. Janganlah Engkau biarkan pasukan salib dan agama mereka mengalahkan kekuatan-Mu esok hari”.
Setelah mereka masing-masing mencium Hajar Aswad serta berdoa agar Allah memelihara Ka’bah dari bencana tentera Abrahah, mereka meninggalkan Ka’bah menuju ke atas sebuah bukit, untuk menyaksikan kejadian selanjutnya. Di pagi harinya kota Makkah sunyi senyap dari penduduk dan tentera Abrahah mulai bergerak untuk memasuki kota Makkah. Tetkala Abrahah mengarahkan gajahnya ke Makkah, gajahnya tidak mau berdiri walaupun dipukuli tapi tetap tidak mau berdiri. Lalu Abrahah mencoba mengarahkan gajahnya ke arah Yaman, gajahnya berdiri dan berlari. Lalu diarahkan gajahnya ke Syam, gajahnya melakukan hal yang sama dan demikian seterusnya.
6Tiba-tiba Allah mengutus burung burung laut yang bernama Ababil. Setiap seekor burung membawa 3 buah batu kecil sebesar kacang Arab atau kacang adas, satu di paruhnya dan dua di kakinya. Batu-batu itu dijatuhkan kepada pasukan bergajah. Subhanallah, hasilnya sangat ajaib, bukan hanya luka parah tetapi pasukan Abrahah dan gajah-gajahnya menjadi hancur lebur, daging dan tulang mereka coplok berceceran di atas tanah, tidak seorang pun yang terluput dari bahaya maut, semuanya habis binasa. Melihat kejadian yang luar biasa itu, Abrahah mulai takut, lalu kembali melarikan diri, pulang menuju San’a. Ia terkena sebuah batu dan tubuhnya yang tersisa tinggal sebesar anak burung. Ia mati di Sana’ karena luka yang dideritanya dalam perang ajaib itu.
Sunguh peristiwa pasukan gajah ini telah membawa bukti besar atas kekuasaan Allah dan membawa kesan besar terhadap Quraisy dan kedudukanya. Peristiwa ini mengangkat kedudukan Abdul Muthalib martabatnya di kalangan masyarakat Arab. Karena ia telah melakukan sesuatu hal dengan penuh kecerdasan dan strategi yang indah dan menyelamatkan kaumya dari bencana yang besar. Begitulah caranya membela agama Allah bukan membelanya dengan kekerasan atau emosi yang tidak terkendalikan.
25Kejadian hebat itu, menjadi tahun sejarah pertama bagi seluruh bangsa Arab dan di tahun itu pula lahir seorang manusia suci Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib bin Hasyim di kota Makkah. Dengan lahirnya Rasulallah saw, Ka’bah akan tetap menjadi rumah suci dengan arti yang sebenarnya sampai sekarang dan sampai hari kiamat nanti. Ke sanalah ummat Islam dari berbagai negeri, dari berbagai bangsa dan warna kulit berkumpul setiap tahun, untuk menunaikan ibadat haji seperti yang diperintahkan Allah. Dari tahun ke tahun, dari abad ke abad, kota kesayangan Nabi, Makkah, tidak pernah tidur dikunjungi ummat manusia dari segala penjuru yang jumlahnya lebih banyak dari pengunjung kota Patikan, Washington, London, ataupun Paris.
Wassalamu’alaikum wr wb 
Agustus 11, 2015

Cintailah Yang Di Langit

4
 
 
عَنْ أِبِي الدَّرْدَاء رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ‏ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ‏:‏ ‏كَانَ مِنْ دُعَاءِ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ‏:‏ ‏” ‏اَللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ حُبَّكَ، وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ، وَالْعَمَلَ الَّذِي يًبَلِّغُنِي حُبَّكَ، اَللَّهُمَّ اجْعَل حُبَّكَ أَحَبَّ إِلَىَّ مِنْ نَفْسِي، وَأَهْلِي، وَمِنَ الْمَاءِ الْبَارِد‏ِ “‏‏. ( رواه الترمذي وقال حديث حسن )‏
 
 
Diantara doa Nabi Daud as adalah: ”Ya Allah, anugrahkan kepadaku cinta-Mu, dan cinta orang orang yang mencintai-Mu, dan amalan yang menyampaikan aku kepada cinta-Mu. Ya Allah jadikanlah cinta-Mu melebihi dari kecintaanku kepada diriku, keluargaku, dan melebihi dari kecintaanku kepada air yang sejuk. (HR at-Tirmidzi, hadits hasan)
 
Saudaraku,
 
Jika Allah ingin membuat sebuah kata yang indah, maka kata yang paling tepat bagi-Nya adalah kata cinta. Cinta kepada Allah akan menimbulkan gairah kepada kita untuk melakukan pengabdian sepenuh hati, ikhlas tanpa pamrih. Jika mendapat kecintaan Allah, kita akan medapatkan semuanya. Tanpa kecintaan-Nya, kita akan kehilangan semuanya. Jika mendapatkan kecintaan Allah kita akan mendapatkan hikmah. Dan barang siapa yang diberi hikmah, ia telah diberi kebaikan yang banyak
 
7Jika ia diberi hikmah maka ia akan bahagia dengan sedikit harta. Jika tidak ada hikmah, ia akan sengsara dengan harta berlimpah. Jika ia diberi hikmah, musuh bisa menjadi teman. Sebaliknya jika tidak diberi hikmah, teman bisa menjadi musuh. Allah menganugrahkan hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barang siapa yang dianugrahi hikmah, ia benar-benar telah dianugrahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang ber-akal-lah yang dapat mengambil hikmah
 
Anugrah yang luar biasa besarnya jika mendapat hikmah. Hikmah adalah anugrah dari Allah sebagai hadiah atas keimanan dan istiqamahnya. Jika diberi hikmah maka ia akan ridho dengan pemberian-Nya. Jika diberi hikmah ia akan percaya terhadap dirinya sendiri. Jika diberi hikmah ia akan mendapatkan sakinah (ketentraman hati)
 
Dengan sakinah, Ashabul Kahfi bisa tidur nyenyak di dalam gua. Dengan sakinah, Nabi Ibrahim bisa selamat dari panasnya api, “Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim”. Dengan sakinah, nabi Yunus bisa hidup tentram dalam perut ikan. Dengan sakinah, nabi Yakub bisa bertemu lagi dengan anaknya Yusuf. Dengan sakinah, Allah mengabulkan doanya Nabi Zakaria. Dengan sakinah, Rasulallah saw dan Sayyiduna Abubakar Shiddik ra selamat di dalam gua Tsaur dari kejaran kafir Quraisy.
 
Dengan sakinah mereka ridho dengan pemberian-Nya, baik atau buruk. Dengan sakinah mereka bersyukur dengan apa yang mereka miliki. Mereka tidak pernah mengeluh apa apa, tidak pernah menggerutu, selalu melihat hal hal yang baik adanya, dan selalu mengabaikan yang buruk.
 
Salah satu contoh dari sakinah (ketentraman hati), Allah telah memberi kepada nabi Ayyub ujian dan cobaan yang sangat berat, bukan kepada harta benda dan anaknya saja, akan tetapi ujian dan cobaan berat telah menimpah pula terhadap dirinya. Ia menderita penyakit kulit selama 18 tahun yang tidak bisa diobati oleh thabib. Ia bersabar dan menerima, kemudian memohon pertolongan kepada Allah, iapun berseru “Ya Rab.., sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang”. Do’a dan seruan nabi Ayyub as didengar di atas langit dan segera dikabulkan-Nya.
 
Apakah pada saat itu Allah mendatangkan kepadanya spisialis kulit yang bisa mengobati penyakitnya? Tidak. Apakah Allah menurunkan dari langit malaikat yang bisa membantu mengobati penyakitnya? Tidak pula. Akan tetapi Allah meyembuhkan penyakit Ayyub dengan kekuasaan dan petunjuk-Nya, Dia menyembuhkannya dengan sebab yang sangat kecil sekali yaitu air. Pada saat itu Allah memerintahkannya agar menghantamkan kakinya ke bumi. Ayyub pun mentaati perintah-Nya.
 
Subhanallah, dengan kehendak-Nya  keluarlah air sejuk yang memuncrat dari bekas hantaman kakinya. Ayyub pun mandi dan minum dari air itu sehingga sembuhlah dia dari penyakit yang tidak bisa disembuhkan thabib dan ia dapat berkumpul kembali dengan keluarganya.
 
Itulah sakinah. Sakinah adalah menyukuri semua nikmat yang diberikan Allah. Sakinah adalah melihat kepada hal hal yang baik adanya, dan selalu mengabaikan yang buruk.
Sakinah adalah mengarahkan perhatian pada semua yang kita miliki. Dan yang kita miliki adalah kekayaan yang melebihi dari kisah kekayaan Karun. Apakah kita bersedia menjual sepasang mata kita kalau dihargai semilyar rupiah? Kita hargai berapa kaki dan tangan kita? Kita hargai berapa pendengaran dan penglihatan kita? Terus, berapa harga anak anak dan keluarga kita?
 
وَإِن تَعُدُّواْ نِعْمَةَ اللَّهِ لاَ تُحْصُوهَا إِنَّ الإنْسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ
 
Artinya: “Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu, sangat lalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).”  Ibrahim 34
 
Apakah kita mensyukuri kesemuanya itu? Kita jarang melihat pada apa yang kita miliki
Yang selalu kita ingat hanya apa yang tidak kita punyai. Kalau kita memiliki sakinah, kita akan mensyukurinya. Kalau kita memiliki sakinah, kita akan mensyukuri nikmat
Kalau kita mensyukuri nikmat berarti kita telah dianugrahi hikmah.
 
وَلَقَدْ آتَيْنَا لُقْمَانَ الْحِكْمَةَ أَنِ اشْكُرْ لِلَّهِ وَمَنْ يَشْكُرْ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ 
 
Artinya: “Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmah kepada Lukman, yaitu: “Bersyukurlah kepada Allah. Dan barang siapa yang bersyukur kepada Allah, maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barang siapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji” Lukman 12
 
Wallahu’alam 
 
NB/ teruskan artikel ini sebayak mungkin kepada yang anda kenal, siapa tahu Allah akan membukakan jalan yang baik bagi kita dibulan yang penuh dengan kebaikan. amin