Breaking

Rabu, 12 Agustus 2015

Agustus 12, 2015

Al-Qur’an dari Zaman ke Zaman

Mushaf Ustmani
Mushaf Ustmani

Diyakini oleh umat Islam bahwa penurunan Al-Qur’an terjadi secara berangsur-angsur selama 23 tahun. Para ulama membagi masa turun ini dibagi menjadi 2 periode, yaitu periode Mekkah dan periode Madinah. Periode Mekkah berlangsung selama 13 tahun masa kenabian Rasulullah SAW dan surat-surat yang turun pada waktu ini tergolong surat Makkiyyah. Sedangkan periode Madinah yang dimulai sejak peristiwa hijrah berlangsung selama 10 tahun dan surat yang turun pada kurun waktu ini disebut surat Madaniyah.

Penulisan Al-Qu’an dalam bentuk teks sudah dimulai sejak zaman Nabi saw, tapi sangat rare dan jarang didapatkan, karena pada zaman itu mereka kebanyaknya mengandalkan kepada hafalan bukan kepada tulisan. Kemudian sedikit demi sedikit mulai didapatkan perobahan Al-Qur’an dari hafalan ke tulisan dan perobahan Al-Qur’an menjadi teks terus dijumpai dan dilakukan sampai pada zaman khalifah Utsman bin Affan ra.

Pada masa ketika Rasulallah saw masih hidup, terdapat beberapa orang yang ditunjuk untuk menuliskan Al Qur’an yakni Zaid bin Tsabit, Ali bin Abi Talib, Muawiyah bin Abu Sufyan dan Ubay bin Ka’ab. Sahabat yang lain juga secara diam diam menuliskan wahyu tersebut walau tidak diperintahkan. Media penulisan yang digunakan saat itu berupa pelepah kurma, lempengan batu, daun lontar, kulit atau daun kayu, pelana, potongan tulang belulang binatang. Di samping itu banyak juga sahabat-sahabat langsung menghafalkan ayat-ayat Al-Qur’an setelah wahyu diturunkan.

Pada masa kekhalifahan Abu Bakar ra, terjadi beberapa pertempuran diantaranya perang yang dikenal dengan nama perang Ridda yang mengakibatkan tewasnya beberapa penghafal Al-Qur’an dalam jumlah yang tidak terhitung. Umar bin Khattab ra pada saat itu merasa sangat khawatir akan keadaan tersebut lantas meminta kepada Khalifah Abu Bakar ra untuk mengumpulkan seluruh tulisan Al-Qur’an yang saat itu tersebar di antara para sahabat, penghapal Al-Qur’an. Lalu Abu Bakar ra memerintahkan Zaid bin Tsabit untuk membuat lajnah pengumpulan Al-Qur’an yang mengorganisai pelaksaan tugas tersebut. Setelah pekerjaan tersebut selesai dan Al-Qur’an tersusun secara rapi dalam satu mushaf, hasilnya diserahkan kepada Khalifah Abu Bakar ra. Abu Bakar ra menyimpan mushaf tersebut hingga wafatnya kemudian mushaf pertama itu berpindah kepada Umar bin Khattab ra sebagai khalifah penerusnya, selanjutnya diserahkan dan dipegang oleh anaknya Hafsah yang juga istri Nabi saw.

Pada masa pemerintahan khalifah ke-3 yakni Utsman bin Affan, Islam semakin tersebar luas ke suluruh penjuru, dan terjadilah perbedaan dialek (lahjah) antara suku yang berasal dari daerah dan negara berbeda beda. Hal ini menimbulkan kekhawatiran Utsman sehingga ia mengambil kebijaksanaan untuk membuat keseragaman dalam cara membaca Al-Qur’an (qira’at). Lalu ia mengirim utusan kepada Hafsah binti Umar ra untuk meminjam mushaf Abu Bakar yang ada padanya. Ia memanggil Zaid bin Tsabit Al-Anshari dan tiga orang Quraish, yaitu Abdullah bin Zubair, Said bin Al-Ash dan Abdurahman bin Al-Harists bin Hisyam. Ia memerintahkan agar menyalin dan memperbanyak mushaf, dan jika terjadi perbedaan antara dan Zaid dengan ketiga orang Quraish tersebut, hendaklah ditulis dalam bahasa Quraish karena Al-Qur’an turun dalam dialek bahasa mereka.

Maka terbentuklah sebuah mushaf standar (menyalin mushaf yang dipegang Hafsah). Standar tersebut kemudian dikenal dengan istilah Mushaf Utsmani yang digunakan hingga saat ini. Besamaan dengan keluarnya penyamaan dengan standar yang dihasilkan, maka khalifah Ustman ra memerintahkan seluruh mushaf yang berbeda untuk dimusnahkan. Hal ini demi untuk mencegah perselisihan di antara umat islam di masa depan dalam penulisan dan pembacaan Al-Qur’an. Setelah mengembalikan lembaran-lembaran asli kepada Hafsah, ia mengirimkan tujuh buah mushaf, yaitu ke Mekkah, Syam, Yaman, Bahrain, Bashrah, Kufah, dan sebuah ditahan di Madinah.

Dari keterangan ini menunjukkan bahwa apa yang dilakukan Utsman telah disepakati dan disetujui oleh para sahabat. Hal ini agar umat bersatu pada satu mushaf, sehingga tidak terjadi lagi perpecahan dan perselisihan.

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. Al-Hijr 9

Artikel di atas telah dimuat di koran Republika dan Republika online.

Wallahua’lam

Foto Al-Qur’an dari zaman ke zaman:

 Ditulis tahun 448 H      
 Ditulis tahun 546 H

 Ditulis tahun 678    
 Ditulis tahun 953 H

 Ditulis tahun 842 H
  Ditulis tahun 952 H
 Ditulis tahun 960 H
 Ditulis tahun 985 H
 Ditulis tahun 1001 H 

 Ditulis tahun1034 H
 Ditulis tahun 1044 H
 
 Ditulis tahun 1066 H
 Ditulis tahun 1090 H   
 Ditulis tahun 1105 H 

 Ditulis tahun 1116 H
 Ditulis tahun 1119H 
 Ditulis tahun 1132H

 Ditulis tahun 1139 H 
 Ditulis tahun 1140H

 Ditulis tahun 1140 H 
 Ditulis tahun 1161 H
 Ditulis tahun 1170 H 
 Ditulis tahun 1172

 Ditulis tahun 1181 H
 Ditulis tahun 1206 H
 Ditulis tahun 1206 H 
 Ditulis tahun 1214 H

 Ditulis tahun 1215
 Ditulis tahun 1242 H 

 Ditulis tahun 1228H
 Ditulis tahun 1234 H 
 Ditulis tahun 1257 H 
 Ditulis tahun 1245 H

 Ditulis tahun 1251 H  

 Ditulis tahun 1254 H 
  Ditulis tahun 1258 H
 Ditulis tahun 1262 H
 Ditulis tahun 1263 H

 Ditulis tahun 1268 H  
 Ditulis tahun 1271 H 

  Ditulis tahun 1271 H
  Ditulis tahun 1273 H 
 Ditulis tahun 1276H 
  Ditulis tahun 1277 H

 Ditulis tahun 1222 H  
 Ditulis tahun 1278 H 

 Ditulis tahun 1286H 
 Ditulis tahun 1309H
 Ditulis tahun 1309H 
 Ditulis abad ke 8 H 
 Ditulis tahun 1294 H 


Agustus 12, 2015

Al-Mu’tashim

Majalah Nisfi al-Dunia (Mesir) pernah memuat artikel kecil yang berjudul “Keanehan Dunia”. Artikel ini menceritakan tetang seorang gadis Mesir memiliki pendengaran sangat tajam sehingga bisa mendengar suara dari jarak puluhan km. Kelebihan ini didapatkan mulai gadis cilik itu berusia dua tahun. Ibunya bercerita pernah satu kali ayahnya mendapat eksident jatuh dari traktor yang mengakibatkan kaki kirinya patah, pada saat itu tidak ada seorangpun yang melihatnya. Kemudian dia ingat anaknya, lalu memangilnya dengan suara lemah. Beberapa saat kemudian anak dan Ibunya datang dengan mobil ambulan yang segra membawanya ke rumah sakit.

Percaya atau tidak percaya, kelebihan yang diberikan si anak ini kelihatannya memang aneh dan ganjil. Tetapi ini bukan pertama kali terjadi pada diri seseorang.. Hal aneh dan ganjil serupa ini banyak terjadi dalam sejarah umat manusia, bahkan yang lebih aneh dari itu sering kita dengar dari sejarah Islam.
Contohnya, disaat Sayyidina Umar bin Khattab ra sedang berkhutbah diatas mimbar. Tiba tiba beliau memotong khutabnya Selesai khutbah, beliau ditanya oleh Sayyidina Ali ra kenapa beliau memotong khutbahnya dan memanggil nama Sariyah bin Husun. Khalifah Umar menjawab bahwa beliau melihat tentara Muslimin di bawah pimpinan Sariyah akan diserbu dari gunung oleh orang-orang kafir di salah satu tempat yang jaraknya ratusan km dari kota Madinah. Maka beliau memotong khutabnya dan berseru agar Sariyah dan pasukannya naik keatas gunung untuk menghadang tentara kafir.
Sebulan kemudian, tentara Sariyah bin Husun datang membawa kabar gembira atas kemenangan Islam yang gemilang. Mereka mengabarkan bahwa pada hari itu mereka mendengar teriakan Umar bin Khattab: “Ya Sariyah bin Husun!..Naik ke gunung!..Naik ke gunung!..“. Mendengar teriakan itu, Sariyah dan pasukan naik kegunung, menghadang tentara kafir yang berada disana sehingga Allah memberikan kemenangan.
Pula pernah terjadi atas diri Al-Mu’tashim khalifah Abbasiyah pada peperangan Romawi dan jatuhnya kota Ammuriah ke tangan Muslimin. Kemenangan gemilang ini disebabkan karena keluhan dan rintihan seorang perempuan dari keturunan Bani Hasyim yang ditawan oleh raja Romawi. Dalam penjara ia berteriak memanggil: “Waa Mu’tashimaah!..Waa Mu’tashimaah!..“, yang artinya: “Wahai Mu’tashim tolonglah aku”. Mendengar teriakan permpuan itu dari jarak ribuan km, khalifah Mu’tashim bangun dari tempat duduknya dan segera menyiapkan tentara untuk menyerbu kota Ammuriah.
2Ringkasnya, ribuan tentara muslim bergerak dari Baghdad menuju Ammuriah. Kota Ammuriah dikepung oleh tentara Muslim selama kurang lebih lima bulan hingga akhirnya takluk ke tangan Khalifah al-Mu’tasim pada tanggal 13 Agustus 833 M. Kemenangan ini disebabkan teriakan seorang perempuan dari keturunan Bani Hasyim yang terdengar diatas kepala Khalifah Mu’tasim dari jarak ribuan km.
Adapun di abad  modern sekarang ini yang memiliki teknologi serba canggih, kita bisa mendengar dan melihat secara langsung semua yang terjadi di dunia melalui siaran tv, radio, internet, dll. Jutaan keluahan dan jeritan wanita wanita muslimah dan anak-anak yang dari alamnya tidak pernah mengetahui apa itu perang, didengar secara langsung melalui media trb. Semua kita mendengar teriakan : “Waa Mu’tasimaaaah..” tapi tidak ada satu dari pemimpin-pemimpin Arab dan Muslimin yang bergerak membantu mereka.
Musibah yang menimpah kita sebagai Muslim sekarang ini, karena kita tidak mempunyai kekuatan iman dan kesatauan kalimat. Muslimin sekarang ini hanya memiliki “Kalimat Tauhid” tapi sayang mereka tidak memiliki “Tauhidul Kalimah”(kesatuan kata). Setiap kelompok menganggap mereka paling benar, setiap kelompok membawa cara mereka masing-masing. Makanya dengan mudah umat Islam bisa dipojokan ke sudut yang gelap, ke sudut yang membuat mereka dilecehkan dan dipecahbelahkan. Ini yang kita rasakan. Umat Islam jumlahnya lebih dari satu milyar tapi tidak bisa berbuat apa apa hanya menonton dan berteriak-teriak.
Rupanya ini tanda hari kiamat sudah dekat. Sesuai dengan hadist Nabi, disaat Rasulallah saw menyatakan kepada para sahabatnya bahwa kelak diakhir zaman akan terjadi fitnah besar, orang Islam akan tertekan dan lemah, dan Islam menjadi asing dikalangan pengikutnya. Rasulallah saw ditanya oleh para sahabat: apakah bilangan Muslimin pada saat itu sedikit ya Rasulallah? Dijawab oleh Rasulallah saw: “Tidak!, pada saat itu bilanganya sangat besar tapi mereka seperti buih yang tidak berfungi”.
“Allahuma Farrij Karbal Muslimin”
Wallahua’lam