Breaking

Selasa, 11 Agustus 2015

Agustus 11, 2015

♣ Apa itu Shalawat?

Saudaraku yang dicintai Allah! Setiap mukadimah khuthbah atau kitab pasti diawali dengan ucapan puji dan dan syukur kepada Allah, kemudian setelah itu ucapan shalawat dan salam kepada Rasulallah saw, keluaraga dan para sahabat beliau.

صلاةSekarang timbul pertanyaan kenapa kita perlu mengucapkan shalawat kepada Nabi saw sedangkan beliau adalah orang termulia, tersuci, dan terpilih di muka bumi dan dijamain masuk surga? Tentu jawaban yang tepat karena shalawat merupakan ajuran yang dianjurkan Allah kepada hamba-Nya setelah Allah menganjurkan terlebih dahulu kepada diri-Nya sendiri dan para malaikat untuk berselawat kepada Nabi saw.
إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِيِّ يٰأَيُّهَا ٱلَّذِينَ آمَنُواْ صَلُّواْ عَلَيْهِ وَسَلِّمُواْ تَسْلِيماً
“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (al-Ahzab, 56).
Kalau Allah dan malaikat bershalawat kepada Nabi saw, maka sudah selayaknya kita sebagai umatnya untuk bershalawat pula kepada beliau.
Sholat dalam bahasa artinya do’a. Jadi shalawat kepada Nabi saw, keluarga dan sahabat beliau berarti medoakan mereka agar Allah senantiasa memberikan rahmat dan salam Nya kepada mereka yang tidak terputus putus. Bahkan bershalawat kepada Nabi saw dan keluarga beliau merupakan hal yang wajib dilakukukan dalam setiap sholat. Tidak sah sholat seseorang tanpa bershalawat kepada Nabi saw dan keluarganya.
Di lain fihak ada lagi yang mengatakan bahwa shalawat kepada Nabi saw berarti kita sedang menyambung hubungan atau ikatan cinta dengan beliau. Semakin banyak kita bershalawat kepada Nabi saw semakin kuat hubungan dan ikatan cinta kita kepada beliau, dan semakin banyak pula rahmat dan barokah dari Allah akan turun kepada kita. Maka dari itu kita diajurkan disaat bershalawat jangan hanya sekedar mengucapkan, tapi kita harus tanamkan di diri kita hubungan pendekatan kecintaan kita kepada Nabi saw agar berkat shalawat semua keinginan kita bisa dikabulkan.
Begitu pula jika kita ingin mengadakan hubungan dengan Allah, harus dengan shalawat. Yang dimaksudkan disini bukan membaca shalawat kepada Allah tapi melakukan shalawat atau mendirikan shalat shalat yang diwajibkan dan yang disunahkan. Semakin banyak kita shalat, semakin kuat hubungan dan ikatan kita dengan Allah dan semakin banyak rahmat dan berkat turun dari Allah. Sholat atau doa kita akan didengar. Karena dalam shalat berarti kita berada dalam posisi berhadapan muka secara langsung dan berbicara dengan Allah.
ص 2Sudah barang tentu dalam mengucapkan shalawat kepada Nabi saw harus disertai pula dengan bershalawat kepada keluarga dan para sahabatnya. Yang dimaksud keluarganya adalah mereka yang mempunyai tali hubungan karabat dengan beliau. Dan sahabat Nabi saw adalah orang-orang yang pernah melihat Nabi saw, beriman dengan ajaran yang dibawa Nabi saw dan wafat tetap dalam keadaan keimanan.
Sahabat Nabi saw adalah orang-orang yang mencintai dan dicintai Nabi saw, orang orang mulia, patuh mengikuti jejak Nabi saw dan ta’at dengan segala perintahnya. Mereka tidak ma’shum. Mereka adalah manusia manusia yang tidak terlepas dari kesalahan dan perbuatan dosa. Namun mereka adalah orang-orang yang memiliki keimanan yang kokoh, rela mengorbankan harta dan nyawa demi agama, taat beribadah kepada Allah dengan setulus hati. Bahkan diantara mereka ada yang dijamain masuk surga yaitu Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Zubair bin ’Awwam, Thalhah, Abdurahman bin ’Auf, Saad bin Abi Waqqash, Abu ’Ubaidah bin Jarrah, dan Said bin Zed ra. Karena jasa jasa mereka yang begitu besar, Allah telah memberikan ridha-Nya kepada mereka dan menjanjikan balasan surga di akhirat.
وَالسَّابِقُونَ الأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُواْ عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَآ أَبَداً ذلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (al-Taubah : 100).
 Kalau Allah telah memberi Ridho-Nya kepada para sahabat, maka sudah seharusnya kita sebagai muslim menghormati mereka dan mendoakan mereka, bukan menyalahkan mereka apalagi melaknat dan mengkafirkan mereka (al-’iyadhu billah).
Kisah Mi’raj Tentang Shalawat Atas Nabi
Diriwayatkan bahwa Rasulallah saw bersabda, “Disaat aku tiba di langit di malam Isra’ Miraj, aku melihat satu malaikat memiliki 1000 tangan, di setiap tangan ada 1000 jari. Aku melihatnya menghitung jarinya satu persatu. Aku bertanya kepada Jibril as, pendampingku, ‘Siapa gerangan malaikat itu, dan apa tugasnya?.’
Jibril berkata, “Sesungguhnya dia adalah malaikat yang diberi tugas untuk menghitung tetesan air hujan yang turun dari langit ke bumi.”
Rasulallah saw bertanya kepada malaikat tadi, “Apakah kamu tahu berapa bilangan tetesan air hujan yang turun dari langit ke bumi sejak diciptakan Adam as?.”
Malaikat itupun berkata, “Wahai Rasulallah saw, demi yang telah mengutusmu dengan hak (kebenaran), sesungguhnya aku mengetahui semua jumlah tetesan air hujan yang turun dari langit ke bumi dari mulai diciptakan Adam as sampai sekarang ini, begitu pula aku mengetahui jumlah tetetas yang turun ke laut, ke darat, ke hutan rimba, ke gunung-gunung, ke lembah-lembah, ke sungai-sungai, ke sawah-sawah dan ke tempat yang tidak diketahui manusia.”
Mendengar uraian malaikat tadi, Rasuluallah saw sangat takjub dan bangga atas kecerdasannya dalam menghitung tetesan air hujan. Kemudian malaikat tadi berkata kepada beliau, “Wahai Rasulallah saw, walaupun aku memiliki seribu tangan dan sejuta jari dan diberikan kepandaian dan keulungan untuk menghitung tetesan air hujan yang yang turun dari langit ke bumi, tapi aku memiliki kekurangan dan kelemahan.”
Rasulallah saw pun bertanya, “Apa kekurangan dan kelemahan kamu?.”
Malaikat itupun menjawab, “Kekurangan dan kelemahanku, wahai Rasulallah, jika umatmu berkumpul di satu tempat, mereka menyebut namamu lalu bershalawat atasmu, pada saat itu aku tidak bisa menghitung berapa banyaknya pahala yang diberikan Allah kepada mereka atas shalawat yang mereka ucapkan atas dirimu.’ “
Allahuma shalli a’la sayyidina Muhammadin wa a’la alihi wa shahbihi wa sallim
Wallahu’alam
Agustus 11, 2015

Apa Itu Syafa’at?





Apa Itu Syafa’at Nabi saw?

Setelah semua mahkluk bernyawa di dunia mati dan hancur binasa, Allah menghidupkan mereka kembali. Maka dengan tiba-tiba mereka pun tegak bangun berdiri. Mereka melihat langit, didapati langit berjalan. Mereka melihat bumi, didapatinya telah bertukar wajah, tidak seperti bumi yang dahulu. Semua makhluk berhimpun, bercampur baur menjadi satu di satu kawasan yang disebut padang Mahsyar, luasnya tak terbatas, berjejal jejal, saling berdesakan, dibanjiri keringat, tanpa pakaian, tanpa busana yang menutupi badan. Dari dahsyatnya hari itu mereka berharap kepada Allah agar dimasukan saja ke neraka ketimbang menghadapinya.

Dalam masa bangkit itu, manusia dalam keadaan bermacam-macam rupa. Lantas mereka berkata: ”Aduh celakanya kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat tidur kami (dari kubur kami)? Lalu dikatakan kepada mereka: “Inilah dia yang telah dijanjikan oleh Allah Yang Maha Pemurah dan benarlah berita yang disampaikan oleh Rasul-rasul!” (Yassin, Ayat: 52).

Di sana semua makhluk hidup nafsi nafsi. Pada hari itu manusia lari dari saudaranya, lari dari ibu dan bapaknya, lari dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang bisa melupakan segala galanya. Pada hari itu tak ada yang bisa diharapkan di hadapan pengadilan Allah kecuali sekelumit harapan yang disebut “Syafaat Nabi saw”.

Syafa’at ini adalah do’a yang Rasulallah saw simpan untuk umatnya di hari kiamat nanti. Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah ra sesungguhnya Nabi saw bersabda, “Setiap Nabi memiliki do’a (mustajab) yang digunakan untuk berdo’a dengannya. Aku ingin menyimpan do’aku tersebut sebagai syafa’at bagi umatku di akhirat nanti.”.

Maka sepatutnya kita sebagai umat Muhammad meyakini wujud syafa’at Nabi saw di hari kebangkitan, disaat manusia dikumpulkan di padang Mahsyar dengan iman dan keyakinan yang kuat, mengetahui apa yang diimani, bukan hanya sekedar angan-angan dan kepercayaan.

Sekarang apa itu Syafa’at?

Kata syafa’at telah disebutkan berulang kali dalam hadits Nabi saw baik yang berkaitan dengan urusan dunia maupun akhirat. Ibnul Atsir mengatakan, ”Yang dimaksud dengan Syafa’at adalah meminta untuk diampuni dosa dan kesalahan di antara mereka.”

Contohnya, manusia banyak berbuat dosa selama hidupnya di dunia. Di hari kiamat mereka tidak bisa terhidar dari hisab atau perhitungan yang harus dipertanggung jawabkan. Mereka berharap agar ada orang yang bisa menolongnya, tapi sia sia belaka. Karena hari itu adalah hari yang sangat dahsyat. Mereka akan menemui musibah dan kesusahan yang tidak mampu untuk dihindarkan oleh seorang pun, hanya ada secerah harapan berupa syafa’at yaitu perantara atau penghubung yang bisa menyelesaikan hajatnya. Di sana mereka meminta pertolongan kepada Allah melalui syafa’at. Akhirnya, orang-orang saat itu mendapatkan ilham untuk meminta syafa’at kepada para Nabi agar bisa menghilangkan musibah dan kesulitan yang menimpah diri mereka saat itu.

Sekarang mari kita ikuti kisah syafa’at Nabi saw yang dikenal dengan Syafa’at al-‘Uzhma  dalam hadits yang cukup panjang. Kisah ini terjadi ketika semua makhluk  berkumpul di padang masyhar. Imam Bukhari meriwayatkan hadits ini dari Anas bin Malik ra, sesungguhnya Rasulallah saw bersabda, bahwa pada hari kiamat Allah mengumpulkan seluruh makhluk di satu tempat yang luas. Manusia pada saat itu berada dalam kesusahan dan kesedihan. Mereka tidak kuasa menahan dan memikul beban pada saat itu.

Kemudian mereka mendatangi Nabi Adam as, lalu berkata, “Wahai Adam, berilah syafa’at untuk anak cucumu” Adam as berkata, ”Sesungguhnya aku tidak bisa memberi syafa’at untuk kalian pada hari ini. Pergilah kalian kepada Ibrahim as, sesungguhnya ia adalah kekasih Allah (Khalilullah)”. Kemudian mereka mendatangi Ibrahim as. Lalu ia berkata kepada mereka, “Sesungguhnya aku tidak bisa memberi syafa’at untuk kalian pada hari ini. Pergilah kalian kepada Musa, sesungguhnya Allah telah berbicara langsung kepadanya (Kalimullah)”. Kemudian mereka mendatangi Musa as. Lalu ia berkata, “Aku tidak bisa memberi syafa’at pada kalian hari ini. Pergilah kalian kepada Isa, sesungguhnya ia adalah ruh Allah dan kalimat-Nya”. Kemudian mereka mendatangi Isa as. Lalu ia berkata, “Aku tidak bisa memberi syafa’at untuk kalian pada hari ini. Pergilah kalian kepada Muhammad!”

kemudian mereka mendatangiku. Lalu aku berkata, ”Aku memberi syafaat untuk kalian pada hari ini”. kemudian aku pergi meminta izin kepada Allah. Setelah diizinkan aku berdiri dihadapan-Nya. Kemudian Allah memberi ilham padaku dengan pujian dan sanjungan untuk-Nya yang belum pernah Allah beritahukan kepada seorang pun sebelumku. Kemudian aku tersungkur bersujud dihadapan-Nya.  Lalu Dia berfirman, ”Wahai Muhammad, angkatlah kepalamu, katakanlah pasti engkau akan didengar, mintalah pasti engkau akan diberi, berilah syafa’at pasti akan dikabulkan”. Lalu aku mengangkat kepalaku. Kemudian aku berkata, ”Ya Allah, Ummati, Ummati (umatku, umatku).”.  Maka Dia berfirman, ”Wahai Muhammad, pergilah dan keluarkanlah umatmu dari neraka siapa yang di hatinya memiliki sebesar biji gabah atau gandum dari keimanan”.

Kemudian aku pergi dan aku lakukan apa yang diperintahkan, lalu aku kembali lagi kepada Allah dan memuji-Nya dengan pujian dan sanjungan untuk-Nya. Kemudian aku bersujud kepada-Nya, lalu dikatakan kepadaku seperti dikatakan semula. Kemudian aku berkata, ”Ya Allah, ummati ummati (ummatku ummatku). Kemudian dikatakan kepadaku, ”Pergilah, dan keluarkanlah umatmu dari neraka siapa yang di hatinya memiliki sebiji sawi dari keimanan”. Kemudian aku lakukan sebagaimana aku lakukan pertama.

Lalu aku kembali lagi kepada Allah dan aku lakukan sebagai mana yang telah aku lakukan semula. Kemudian dikatakan kepadaku ”Angkatlah kepalamu” sebagaimana dikatakan kepadaku pertama kali. Lalu aku katakan ”Ya Allah, ummati ummati (umatku ummatku). Kemudian dikatakan kepadaku ”pergilah dan keluarkanlah umatmu dari neraka siapa yang dihatinya terdapat lebih kecil dari biji sawi dari keimanan”. Kemudian aku pergi dan melakukan apa yang diperintahkan.

Lalu aku kembali kepada Allah untuk yang keempat kalinya. Lalu aku memuji-Nya dengan berbagai pujian dan sanjungan untuk-Nya. Kemudian aku bersujud kepada-Nya, lalu dikatakan kepadaku ”Wahai Muhammad, angkatlah kepalamu, katakanlah pasti engkau akan didengar, mintalah pasti engkau akan diberi, berilah syafa’at pasti akan dikabulkan”. Lalu aku katakan ”Ya Allah, izinkanlah aku agar bisa mengeluarkan umatku dari neraka bagi yang telah mengucapkan La Ilaha Ilallah (tidak ada Tuhan selain Allah). Kemudian Allah berfirman, ”Ya Muhammad, sesungguhnya hal itu bukan bagimu atau hal itu bukan atasmu. Akan tetapi demi Kemulian-Ku, Keluhuran-Ku, Kesombongan-Ku, dan Kebesaran-Ku, Aku pasti akan keluarkan umatmu dari neraka siapa yang telah mengucapkan “La Ilaha Illallah”.

Hikmah Dan Atsar

Dari hadits diatas kita bisa menarik beberapa kesimpulan dan hikmah penting diantaranya:

-Pertama tidak ada seorang pun yang dapat memberi syafa’at  kecuali dengan izin Allah. Contohnya makhluk yang paling mulia dan penutup para Nabi yaitu Rasulallah saw, disaat ingin memberi syafaat kepada umatnya yang sedang mengalami kesulitan di padang mahsyar pada hari kiamat, beliau tersungkur dan bersujud di Arsy di hadapan Allah, beliau memohon kepada-Nya. Beliau tidak lepas dari sujudnya sampai dikatakan pada beliau, “Angkatlah kepalamu. Mintalah pasti engkau akan didengar. Berilah syafa’at pasti akan dikabulkan“.

-Kedua betapa mulianya kedudukan Rasulallah saw di sisi Allah, sehingga tidak ada satu nabi pun yang mampu memberi syafa’at kepada manusia di padang Mahsyar kecuali Nabi saw. Itulah bukti nyata kecintaan Allah kepada Nabi saw, cinta yang tidak berkesudahan. Dari kecintaan-Nya kepada beliau, apa yang dipintanya dikabulkan.

-Ketiga, hadits di atas bisa pula dijadikan bukti nyata akan kecintaan sejati Nabi saw terhadap umatnya. Cinta sejati beliau terhadap umatnya dibawa sampai ke padang Mahsyar, ketika manusia dalam keadaan sangat gawat. Ketika manusia dimintai pertanggung jawaban atas semua perbuatannya, ketika para nabi menolak dimintai syafa’at (pertolongan) oleh umatnya. di saat itulah Rasulullah saw justru tidak meninggalkan ummatnya. Beliau tersungkur dan bersujud di Arsy di hadapan Allah, beliau memohon kepada-Nya. Allah berkata, ”Wahai Muhammad, angkatlah kepalamu, mintalah pasti engkau akan diberi, berilah syafa’at pasti akan dikabulkan”. Lalu beliau mengangkat kepalanya dan tidak ada yang dikatakan Nabi saw kecuali, ”Ya Allah , umati, umati”.

-Keempat dan terakhir, Rasulallah saw adalah bukan milik orang Arab, bukan milik orang Saudi, bukan milik orang Riyadh, bukan milik orang Jeddah, bukan milik orang Makkah, bukan milik orang Madinah, bukan milik orang Kuwait, atau Qatar, bukan milik orang Mesir, bukan milik orang Hadramut, bukan milik para ulama atau orang-orang tertentu.. Rasullallah datang sebagai rahmat lill’alamin, rahmat bagi semua, rahmat bagi manusia, rahmat bagi hewan dan tumbuh2an, rahmat bagi langit dan bumi, rahmat bagi air, batu dan kerikil. Rahmat beliau tidak terputus hanya diwaktu hidupnya, tapi rahmat beliau dibawa sampai keakhirat, sampai hari kiamat.

Allah humma shalli wasallim ‘ala sayyidina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohabatihi wasallim tasliman katsirah ..

Agustus 11, 2015

A I R

1
AIR adalah makhluk yang tidak memupanyai rasa, warna dan bau. Lebih dari dua pertiga tubuh manusia mengandung air. Dan tiga perempat dari permukaan bumi diliputi dengan air.Ada sebagian mahluk yang bisa hidup tanpa hawa tapi tidak ada satu makhlukpun yang bisa hidup tanpa air. Semua benda akan jatuh kebawah karena daya tarik gravitasi bumi kecuali air, setelah menguap ia akan naik keatas dan berlawanan dengan gravitasi bumi.
Manusia yang paham hidup mengatakan bahwa yang paling lezat bagi orang yang sedang kehausan adalah air. Rasa air baginya lebih lezat dan nikmat dari pada rasa madu atau susu. Bahkan nilai air lebih mahal dari jutaan rupiah, emas dan perak bagi orang yang akan mati kehausan. Pada saat itu air merupakan surga.
Tetkala orang yang kehausan meminum air, ia merasakan tegukan yang masuk kedalam tenggorokanya telah membasahi semua urat-urat dan otot-otot tubuhnya. Setelah itu ia merasakan bahwa air telah membangkitan sel sel tubuhnya untuk bekerja kembali dengan semangat baru.
Jelasnya, kita tidak akan mendapatkan dalam kamus bagaimana rasanya air. Bohong, kalau ada orang mengatakan air itu tidak mempunyai rasa. Sesungguhnya air itu mempunya rasa ajaib. Air mempunyai rasa kehidupan setelah kematian. Air mempunya rasa kebangkitan setelah kehancuran. Bahkan Air mempunya rasa kesembuhan setelah kesakitan.  Maka tidak heran jika air merupakan dewa atau Tuhan yang disembah manusia dahulu kala.
Dalam al-Quran air banyak sekali disebut, lebih dari 50 ayat tercantum di dalamnya kata air. Ini menunjukan betapa besarnya kelebihan dan keistimewaan yang diberikan  Allah kepada makhluk yang bernama air. Dari salah satunya ialah: pertama-tama yang diciptakan sebelum alam semesta, langit, bumi, dan makhluk hidup, Allah terlebih dahulu meciptakan Arsy dan air. “Dia telah mencitakan langit dan bumi dalam enam hari, dan adalah Arsy Nya di atas air” Al-Huud
Setelah diciptakan Adam dari tanah dan Hawa dari tulang rusuknya, Allah menciptakan anak cucunya dari setetes air yang terpancar keluar dari tulang sulbi yang jika ditimbang beratnya hanya beberapa gram. Didalam air itu terkandung jutaan mahluk hidup (sperma) yang jika seandainya semuanya, dengan seizin Allah menjadi manusia maka cukup dari setetes air itu bisa menjadi penduduk satu negara. Tapi dari kekusaaan Allah, yang jadi dari jutaan makhuk itu hanya satu yang paling unggul.
Maka dari itu, Allah tidak segan-segan menyuruh hambanya untuk memikirkan keunggulan dan keistimewaan yang diberikan kepada makhuk Nya yang bernama air. “Maka terangkanlah kepadaku tentang air yang kamu minum”. Al-Waqiah 67
Zaman dulu, air merupakan sebagai sumber kehidupan yang sangat berharga dan mempunyai peran yang penting sekali. Di mana ada air disitu ada kehidupan. Tidak ada air berarti tidak ada kehidupan.  Orang-orang badwi suka berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain karena mencari air. Tak heran, kadang kadang terjadi peperangan besar antara dua kabilah hanya karena air.
Menurut Fatul Bari (Bab: kitab Alanbiya’), bahwa Kabilah Jurhun yang hidup di Jaziraul Arab senang sekali berhijrah. Tapi setelah melihat ada tanda wujudnya air dikotaMakkah, mereka segera membuat perkampungan dan mendirikan kemah-kemah di sekitar air. Tentu yang pertama kali menemukan air itu adalah  seorang wanita yang tak punya tempat bernaung, tak berdaya, namun penuh iman, ikhlas, dan ta’at, dangan harapan agar kelak menjadi symbol kepatuhan dimasa mendatang. Dialah siti Hajar yang melahirkan anaknya Ismail as dilembah yang tandus tak berair. Ia tinggalkan anaknya dan berusaha (sa’i) mencari air. Ternyata ia tidak memperoleh air. Air kehidupan yang penuh dengan kenikmatan, keberkahan dan kesembuhan itu justru muncrat deras dari pasir gersang yang dikorek-korek tumit si bayi.
Subhanallah, dari pasir gersang itu keluarlah air. Mulai saat itu Makkah yang dulu merupakan kota tandus, gersang, tak ada pepohonan yang tumbuh, dan tak ada manusia yang hidup, berkat nabi Ismail as, datok nabi kita Muhammad saw, menjadi kota yang subur, makmur dan terlimpah didalamnya aneka ragam dari keberkahan Allah. Semua ini karena air Zamzam yang keluar deras dari kaki nabi Ismail. Maka, terjadilah setelah itu penghidupan di Makkah, kabilah Jurhum mulai berdatangan kesanauntuk menetap dan mendudukinya. Campur baur pun antara mereka dan keluarga nabi Ismalil tak bisa dielakan. Darisana, terbentuklah masyarakat baru dan keluarlah di kemudian hari, bangsa Quraisy dan bani Hasyim. Itulah sebahagian dari keunggulan dan keistimewaan air yang diciptakan Allah.
Cerita tentang air yang menjadi sumber keberkahan dan kesembuhan, saya jadi teringat dengan air yang keluar menggerojok dari dalam tanah di lembah Fatimah atau yang lebih populer lagi disebut wadi Fatimah, yang letaknya tidak berjauhan darikotaMakkah. Nama wadi itu diambil, menurut kisahnya, dari nama Fatimah binti Rasulallah saw, yang katanya pernah singgah di wadi itu. Disana, ia sempat mandi dan berwudhu sewaktu ingin melakukan thowaf. Saya dan rombongan pernah mendatangi sumber mata air itu. Dan konon katanya memiliki rasa khas dan mempunyai kemampuan dapat menyembuhkna penyakti seperti ginjal, asma, gula dan rematik. Tempat ini sampai sekarang banyak diziarahi pengunjung terutama dari luar Saudi.
Pendek kata, kemampuan penyembuhan dari air, menurut pemikiran manusia biasa, sangat sulit untuk diterima kebenarannya semasih mereka belum meyakinkan kebenarnanya secara ilmiah bahwa air itu memang betul mengandung sifat penyembuhan. Tetapi kenapa sebahagian dari sumber mata air memang benar memiliki sifat yang aneh dan ajaib ini?
Sifat air yang aneh dan ajaib ini kita dapatkan dalam kisah nabiyallah Ayyub as. Allah telah memberi kepadanya ujian dan cobaan yang sangat berat, bukan kepada harta benda dan anaknya saja, akan tetapi ujian dan cobaan berat telah menimpah pula terhadap dirinya. Ia menderita penyakit kulit selama 18 tahun yang tidak bisa diobati oleh thabib. Ia bersabar dan bersabar, kemudian memohon pertolongan kepada Allah, iapun berseru “Ya Rab.., sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang”. Al- Anbiyaa 83. Do’a dan seruan nabi Ayyub as terdengar di atas langit dan segera dikabulkan Nya.
Apakah pada saat itu Allah mendatangkan kepadanya spisialis kulit yang bisa mengobati penyakitnya? Tidak. Apakah Allah menurunkan dari langit malaikat yang bisa membantu mengobati penyakitnya? Tidak. Akan tetapi Allah meyembuhkan penyakit Ayyub dengan kekuasaan dan petunjuk Nya, Dia menyembuhkannya dengan sebab yang sangat kecil sekali yaitu AIR. Pada saat itu Allah memerintahkannya agar menghantamkan kakinya ke bumi. Ayyub pun mentaati perintah Nya.
Subhanallah, dengan kehendak Nya  keluarlah air sejuk yang memuncrat dari bekas hantaman kakinya. Ayyub pun mandi dan minum dari air itu sehingga sembuhlah dia dari penyakit yang tidak bisa disembuhkan thabib dan ia dapat berkumpul kembali dengan keluarganya. Sesuai dengan firman Nya:“ hantamkanlah kakimu; inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum” dan kami anugrahi dia dengan mengumpulkan kembali keluarganya dan kami tambahkan kepada mereka sebanyak mereka pula sebagai rahmat dari kami dan pelajaran bagi orang orang yang mempunyai fikiran. Shaad 42-43
Tidak cukup Allah memberikan contoh dalam al Quran dengan kisah Ayyub yang disembuhkan karena air. Akan tetapi ada beberapa sumber mata air yang Allah telah berikan sebagai suatu keistimewaan kepada para nabi-nabi Nya yang tidak syak dan ragu lagi untuk diyakini dan dipercayai seperti terjadi pada nabi Musa as yang mana air merupakan suatu mu’jizat baginya yang diberikan kepada 12 suku dari bani Israil (Al-Ashbat) yang meminta air kepadanya karena kehausan. Allah wahyukan kepada Nabi Musa as “ Pukulah batu itu dengan tongkatmu lalu memancarlah dari padanya dua belas mata air sungguh tiap tiap suku telah mengetahui tempat minumnya masing masing “ – bakarah 60
Air bukan saja dijadikan sebagai sumber penghidupan manusia di dunia, tapi air juga dijadikan sebagai pelengkap hiasan bagi surga Allah di akhirat. Sorga, yang tidak bisa dilihat oleh mata dan didengar oleh ditelinga atau terkhayal sekalipun oleh hati manusia, bukanlah sesuatu yang serba kebetulan atau sesuatu yang tidak disengaja, akan tetapi Allah menciptakan surga dilengkapi dengan segala macam kenikmatan dan keindahan. Adapun air dihadirkan di sorga sebagai pelengkap untuk menjadikan suasana surga lebih nikmat dan lebih indah lagi “Surga yang dijanjikan kepada orang-orang bertakwa yang didalamnya ada sungai sungai dari air yang tiada berobah rasa dan baunya, sungai sungai dari air susu yang tiada berobah rasanya, sungai sungai dari khamar (arak) yang lezat rasanya bagi peminumnya dan sungai sungai dari madu yang disaring dan mereka memperoleh di dalamnya segala macam buah buahan dan ampunan dari Tuhan mereka” Muhammad 15
Allah telah menciptakan di surga mata air yang keluar tak habis-habisnya bagi ahli surga tergantung dari derajat-derajat mereka. Diantara mata air yang diciptakan Nya ada dua mata air yang mempunyai keistimewaan dari yang lainya dan diberikan bagi ahli sorga yang mendapatkan keistimewaan pula. “Didalam kedua surga itu ada dua buah mata air yang mengalir” – Al Rahman 50. Yaitu mata air yang bernama Salsabila yang dikhususkan untuk ahli sorga al Abrar, dan yang kedua bernama Tasnim diberikan kepada ahli sorga yang dekat hubungannya dengan Allah (al Muqarrabun) dan mempunyai derajat lebih tinggi dari ahli surga Al Abrar.
Wallahu’alam
Agustus 11, 2015

Silsilah 25 Nabi Dan Rasul

Allah mengutus para nabi dan rasul untuk menyampaikan risalah serta menyebarkan ajaran Islam ke muka bumi.

RASUL
Rasul adalah seorang laki laki merdeka yang menerima risalah atau wahyu dari Allah dan ia juga diperintahkan baginya untuk menyampaikannya kepada kaumnya.  Jadi boleh dikatakan juga bahwa setiap rasul pasti nabi tapi tidak semua nabi itu adalah rasul.
يَـأَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَآ أُنزِلَ إِلَيْكَ مِن رَّبِّكَ وَإِن لَّمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ
Allah berfirman ”Hai Rasul, sampaikanlah apa yang di turunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya.” (al-Maidah: 67)
NABI
Nabi adalah seorang laki laki merdeka yang diturunkan kepadanya risalah atau wahyu dari Allah untuk diamalkan, namun tidak diperintahkan baginya untuk menyampaikannya kepada kaumnya.
Kenabian lebih umum karena semua rasul adalah nabi tetapi tidak semua nabi adalah rasul. Jadi orang yang bukan nabi berarti bukan rasul, dengan kata lain, untuk bisa menjadi rasul dia harus menjadi nabi. Rasul diutus untuk membawa risalah kepada manusia, untuk membawa syariat Allah dan agama yang harus disampaikan lagi kepada manusia, sedangkan Nabi saw diutus dengan dakwah dan syariat namun tidak diperintahkan untuk menyampaikanya kepada manusia.
Kenabian adalah pemberian Allah semata. Tidak semua orang bisa menjadi nabi atau julukan nabi. Kenabian tidak bisa diraih dengan cara mendekatkan diri kepada Allah. Manusia tidak mungkin mendapatkan gelar nabi dengan usaha, karena ia bukan gelar yang mungkin diraih dengan jerih payah. Kenabian adalah derajat tinggi dan kedudukan mulia yang Allah berikan kepada orang yang Dia kehendaki. Orang yang dikehendaki sebagai nabi itu telah disiapkan oleh Allah sedemikian rupa untuk memikul kenabian tersebut. Tentu sebelum jadi nabi, Allah menjaganya dari perbuatan yang buruk dan melindunginya dari segala maksiat serta menganugerahkan kepadanya akhlak yang luhur.
Jelasnya, bahwa kenabian tidak diperoleh dengan usaha tertentu, namun kenabian itu anugrah dari Allah diberikan kepada hamba-Nya yang terpilih dan tertentu. Kenabian bukan diberikan kepada orang yang mengharapkan dan memohon menjadi nabi.
Dan kita sebagai muslim, diwajibkan meyakini bahwa Allah mengutus para rasul untuk masing-masing umat yang menyeru mereka kepada tauhid. Beriman kepada seluruh rasul dan nabi adalah wajib dan merupakan rukun iman tanpa membedakan beriman kepada sebagian dan kufur kepada sebagian yang lain sebab hal tersebut sama dengan tidak beriman kepada semuanya. ”(Mereka mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorang pun (dengan yang lain) dari rasul rasul-Nya”,” (Al-Baqarah, 285).
JUMLAH PARA NABI DAN RASUL
Wajib bagi setiap muslim mengetahui bilangan para nabi dan rasul yang telah disebut dalam al-Qur’an sebanyak 25 dan wajib meyakininya secara keseluruhan bahwa Allah telah mengutus mereka sebagai nabi dan rasul yang dimulai dari nabi Adam as dan diakhiri oleh nabi Muhammad saw.
وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلاً مِّن قَبْلِكَ مِنْهُم مَّن قَصَصْنَا عَلَيْكَ وَمِنْهُمْ مَّن لَّمْ نَقْصُصْ عَلَيْكَ
“Dan sesungguhnya telah Kami utus beberapa orang rasul sebelum kamu, diantara mereka ada yang Kami ceritakan kepadamu dan diantara mereka ada yang tidak Kami ceritakan kepadamu” (al-Ghafir, 78).
Bilangan para rasul sangat banyak, sebagian ulama mengatakan hingga mencapai 315 rasul. Sedangkan bilangan para nabi mencapai 124.000. Di antara mereka ada yang wajib diketahui dan ada yang tidak wajib. Nabi dan rasul Allah yang wajib diketahui berjumlah 25, yakni mereka yang disebutkan di dalam al-Qur’an dengan perincian sebagai berikut: Adam, Idris, Nuh, Hud, Salih, Ibrahim, Lut, Ismail, Ishaq, Ya’qub, Yusuf, Ayyub, Syuaib, Musa, Harun, Dhul Kifli, Daud, Sulaiman, Ilyas, Ilyasa’, Yunus, Zakariya, Yahya, ’Isa, Muhammad
Inilah jumlah nama dan urutan nabi dan rasul Allah yang wajib ketahui. Dimulai dari Nabi Adam as sebagai pembuka para nabi, dan diakhiri Nabi Muhammad saw, nabi dan rasul Allah saw yang terakhir.
Penegasan bahwa Nabi Muhammad saw adalah nabi dan rasul Allah yang terakhir telah banyak ditegaskan Allah dalam al-Qur’an dan dan ditegaskan pula oleh Rasul-Nya di dalam al-hadits. Jadi kalau ada orang mengaku sebagai nabi setelah beliau, pasti dengan tegas umat Islam akan menolak keberadaanya dan tidak mempercayainya, karena Nabi Muhammad saw adalah akhir dan penutup para nabi. Keyakinan bahwa Rasulallah saw adalah nabi terakhir begitu kuat tertanam di dada para sahabat beliau, sehingga ketika ada yang mengaku sebagai nabi, pasti dengan tegas mereka menolaknya dan sekaligus menyatakan perang kepada mereka.
Wallahua’lam
NB/
Dalam silsilah setiap ada tanda warna hijau itu berarti nabi atau rasul.. seperti Adnan dan Syits
sedikit saya jelaskan :
Tanda hijau pertama Adnan
Adnan diberi tanda hijau karena Adnan adalah kakek kedua puluh dua dalam silsilah keturunan Nabi saw. Diriwayatkan bahwa jika beliau menyebutkan nasabnya dan sampai kepada Adnan, maka beliau berhenti dan bersabda, “Para ahli silsilah nasab banyak yang berdusta.” Lalu beliau tidak melanjutkannya.
Jadi Adnan mempunyai peranan penting dalam nasab terakhir Rasullah saw. Segolongan ulama memperbolehkan mengangkat nasab lagi dari Adnan ke atas, dengan berlandaskan kepada hadits yang memang mengisyaratkan hal itu. Menurut mereka, antara Adnan sampai Ibrahim as ada empat puluh keturunan, yang didasarkan kepada penelitian yang cukup mendetail. Makanya dalam nasab juga kita harus berhati hati, jangan asal ngambil saja..
Tanda hijau kedua Syits
Syits adalah Nabi bukan rasul. Al-Qur’an menyebut beberapa orang sebagai nabi. Nabi pertama adalah Adam. Nabi sekaligus rasul terakhir ialah Muhammad saw yang ditugaskan untuk menyampaikan. Selain ke-25 nabi sekaligus rasul, ada juga nabi lainnya seperti dalam kisah Khidir bersama Musa yang tertulis dalam Surah Al-Kahf, terdapat juga kisah Uzayr dan Syamuil. Ada juga nabi-nabi yang tertulis di Hadits dan Al-Qur’an, seperti Yusya’ bin Nun (yang mengikuti perjalanan nabi Musa waktu mencari nabi Khidir), Zulqarnain yang disebut dalam surat al-Kahf, Iys, dan juga nabi Syits. ..
riwayatnya bisa jadi panjang kalau di teruskan.. yang penting untuk merujuk tentang nasab nasab para nabi anda harus merujuk ke kitab kitab yang bisa diterima kebenaranya seperti Qashash Anbiya’ oleh ibnu Katsir .. Albidayah wan Nihayah oleh Ibnu Katsir, hadits hadits yang mutawatir yang bisa diterima keshahihanya.
Sangat dihargai sekali kunjungan dan perhatian anda…
Wallahu’alam

Agustus 11, 2015

Subhanallah! Tanaman Adalah Guru Besar Matematika


Tanaman adalah guru besar matematika. Beberapa tanaman “memperhitungkan" bahwa struktur aerodinamis cocok untuk penyebaran serbuk sari oleh angin. Dan, setiap generasi berikutnya menggunakan cara yang sama.
Sedangkan tanaman yang lain "memahami" bahwa mereka tidak akan cukup dengan memanfaatkan angin. Untuk alasan ini, mereka menggunakan serangga untuk membawa serbuk sari mereka. Mereka "tahu" bahwa mereka harus dapat menarik serangga kepada mereka untuk dapat berkembang biak, dan mencoba berbagai cara untuk menarik para serangga. Mereka secara khusus mengidentifikasi hal yang disukai serangga.
Setelah menemukan nektar dan aroma yang efektif untuk serangga, mereka menghasilkan aroma dengan berbagai proses kimiawi dan memberikan hasil produksinya ketika mereka telah menetapkan waktu yang tepat untuk melakukannya. Mereka mengidentifikasi rasa dalam nektar yang akan disukai oleh serangga dan keseluruhan dari zat-zat di dalamnya, dan memproduksi sendiri.
Jika bau dan nektar tidak cukup untuk menarik serangga kepada mereka, mereka memutuskan untuk mencoba metode lain, dan agar sesuai dengan situasi ini, yaitu dengan cara "meniru dan mengimitasi".
Lebih jauh lagi, mereka "menghitung" volume serbuk sari yang akan mencapai tanaman lain dengan spesies yang sama dan juga jarak yang harus dilakukan untuk melakukan perjalanan. Atas dasar ini, mereka menghasilkan serbuk sari dalam jumlah yang paling sesuai dan pada saat yang paling tepat.
Mereka "berpikir" tentang kemungkinan-kemungkinan yang mungkin mencegah serbuk sari mencapai sasarannya dan "mengambil tindakan" terhadap hal tersebut. Tentu saja, skenario seperti itu tidak akan pernah menjadi kenyataan: pada kenyataannya, skenario seperti ini di luar dari aturan logika.
Tidak ada strategi tersebut di atas dapat dibuat oleh tanaman biasa, karena tanaman tidak bisa berpikir, tidak dapat menghitung waktu, tidak dapat menentukan ukuran dan bentuk, tidak dapat menghitung kekuatan dan arah angin, tidak dapat menentukan sendiri jenis teknik itu akan perlu untuk pembuahan, tidak dapat berpikir bahwa ia akan memiliki untuk menarik serangga itu belum pernah dilihat. Lebih jauh lagi, tidak bisa memutuskan metode apa yang akan harus dilakukan dengan salah satu atau dari semua cara tersebut.
Tidak peduli berapa banyak rincian yang berkembang, dari pendekatan apa kepada subjek yang digunakan, dan logika apa yang digunakan, kesimpulan bahwa ada sesuatu yang luar biasa dalam hubungan antara tanaman dan hewan tidak akan pernah berubah.
Para makhluk hidup ini diciptakan secara serasi satu dengan yang lainnya. Sistem sempurna yang saling menguntungkan ini menunjukkan kepada kita bahwa kekuatan yang menciptakan baik bunga dan serangga mengetahui kedua jenis makhluk hidup tersebut dengan sangat baik, dan mengetahui semua kebutuhan mereka, dan menciptakan mereka untuk saling melengkapi satu sama lain.
Kedua makhluk hidup adalah karya daripada Tuhan semesta alam, Allah SWT, yang mengetahui mereka dengan sangat baik, yang dengan tanpa terkecuali mengatahui segalanya. Mereka dibebankan dengan menggambarkan kebesaran Allah, kekuasaan-Nya Yang Maha Tinggi, dan seni tanpa cela-Nya kepada Manusia.
Tanaman tidak memiliki pengetahuan tentang eksistensi mereka sendiri. Begitu juga cara untuk menjalankan kemampuan luar biasa mereka, karena hal tersebut berada di bawah pengendalian Allah SWT, yang merencanakan setiap kemampuan tersebut, yang menciptakan segala sesuatu di alam semesta, dan yang terus menciptakan setiap saat.
Kebenaran ini diberitakan kepada kita oleh Allah SWT dalam Al Qur'an:
"Dan tumbuh-tumbuhan dan pohon-pohonan kedua-duanya tunduk kepada Nya." (QS. Ar-Rahman; 6)