Breaking

Senin, 14 September 2015

September 14, 2015

# Air Zam-Zam Bisa Jadi Obat Dan Sesuai Niat Peminumnya

# Air Zam-Zam Bisa Jadi Obat Dan Sesuai Niat Peminumnya
-Air Zam-zam berkah, bisa jadi obat dan sesuai niat yang minum (misalnya agar lebih mudah menghafal atau lebih pintar)
-Jika tidak tercapai, maka bukan Air Zam-zamnya yang salah, bisa jadi karena keimanan yang kurang, maksiat dll

Salah satu keajaiban Air sumur Zam-Zam yang membuat bingung sebagian ahli adalah airnya tidak habis-habis, pahahal diambli dalam jumlah yang sangat banyak dan tiada henti-hentinya. Ada juga keajaiban air zam-zam lainya, Air Zam-zam ini bisa juga digunakan untuk berobat.
Menyembuhkan berbagai penyakit bahkan bisa memenuhi berbagai hajat keinginan manusia dengan izin Allah Ta’ala. Karena Air Zam-Zam itu sesuai dengan apa yang diniatkan peminumnya.
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
زَمْزَمُ لِمَا شُرِبَ لَهُ
“Air zamzam itu sesuai dengan apa yang diniatkan peminumnya”.[1]
Tabi’in Ahli tafsir, Mujaahid berkata,
“Air zamzam sesuai dengan apa yang diniatkan peminumnya. Jika engkau meminumnya untuk kesembuhan, maka Allah akan menyembuhkanmu. Apabila engkau meminumnya karena kehausan, maka Allah akan memuaskanmu. Dan apabila engkau meminumnya karena kelaparan, maka Allah akan mengenyangkanmu. Ia adalah usaha Jibril dan pemberian (air minum) Allah kepada Isma’il”.[2]
Ibnul-Qayyim rahimahullah, seorang ulama dan dokter telah membuktikan mujarrabnya air zam-zam menyembuhkan berbagai penyakit, beliau berkata,
“Sesungguhnya aku telah mencobanya, begitu juga orang lain, berobat dengan air zamzam adalah hal yang menakjubkan. Dan aku sembuh dari berbagai macam penyakit dengan ijin Allah Ta’ala”[3].
September 14, 2015

- Resep Rahasia "Secangkir Kopi" Lezaat. -

- Resep Rahasia "Secangkir Kopi" Lezaat. -
Sobat! Anda gemar minum kopi? Bila anda gemar minum kopi, menurut anda kopi manakah atau merek apakah yang paling lezaat?
Bisa jadi anda akan berkata : kopi lampung, atau kopi luwak, atau bias pula kopi gayo aceh dan bias pula yang lain.
Namun demikian tahukah anda, sebenarnya yang menyebabkan secangkir kopi terasa lezat dan begitu berkesan bukan sekedar “kopi”nya. Namun kelezatan kopi begitu tergantung pada keahlian anda dalam meramunya. Komposisi yang tepat antara kopi, gula dan air panas menentukan lezatnya kopi anda.
Bila anda mampu meramu kopi dengan gula dengan tepat, niscaya kopi anda terasa beeeegitu leezaat, hingga terkesan sampai ke hati, dan akhirnya: waaaah, puaaas dan mantaaap.
Namun bila anda salah komposisi, sehingga 2/3 cangkir kopi diseduh dengan sesendok gula, atau sebaliknya 2/3 cangkir gula dicampur dengan sesendok kopi, pastilah menghasilkan secangkir kopi yang mengecewakan.
Inilah resep rahasia secangkir kopi lezat yang lezatnya begitu mengesankan, dan resep rahasia ini sejatinya juga resep lezatnya kehidupan.
Sebagai seorang suami, bila hanya pandai menuntut hak, dan kurang pandai menunaikan kewajiban niscaya rumah tangga anda terasa pahit sepahit kopi pahit atau bahkan lebih. Demikian pula sebaliknya, bila seorang istri hanya pandai menuntut hak tanpa pandai menunaikan kewajibannya.
Sebagai seorang murid yang hanya pandai menuntut hak dan malas menunaikan kewajiban kepada guru pastilah menjadi murid paling sial, sebagaimana guru yang tiada henti menunut hak penghormatan tanpa menyadari akan kewajibannya menyayangi muridnya, tentu saja ia adalah guru yang paling arogan.
Seorang anak yang terus menerus menuntut haknya sebagai seorang anak tanpa peduli dengan kewajibannya kepada orang tua adalah anak durhaka. Sebagaimana orang tua yang hanya menuntut haknya tanpa sudi menunaikan kewajibannya pastilah menjadi orang tua yang paling bengis dan kejam. Karena itu, dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menekankan pentingnya keseimbangan antara hak dan kewajiban dalam segala hal. 
Sebagai contohnya sebagaimana yang beliau tekankan pada keseimbangan antara hak orang tua dengan hak anak muda:

مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيرَنَا وَيَعْرِفْ حَقَّ كَبِيرِنَا فَلَيْسَ مِنَّا
Orang yang tidak menyayangi orang yang lebih muda dan tidak menunaikan hak orang yang lebih tua bukanlah dari golongan kami. (Ahmad, Abu Dawud dan lainnya).
Dan demikian seterusnya dalam segala urusan hidup ini, komposisi yang berimbang antara hak dan kewajiban adalah resep manjurnya. Karena itu, sebelum anda menuntut hak, alangkah indahnya bila anda terlebih dahulu bertanya kepada diri sendiri: sudahkah saya menunaikan kewajiban saya?
September 14, 2015

- Hukum minum dari mulut botol -

- Hukum minum dari mulut botol -
Pertanyaan, “Apakah larangan minum dari mulut siqa’ (wadah air) itu berlaku untuk minum dari mulut botol?”
Jawaban:
Terdapat larangan dari Nabi untuk minum dari mulut siqa’ (HR Bukhari dari Abu Hurairah dan Ibnu Abbas)
Siqa’ adalah wadah berisi air yang memiliki mulut sehingga air yang ada di dalamnya bisa diminum melalui mulut tersebut semisal qirbah (wadah air terbuat dari kulit).

Para ulama menyebutkan adanya sejumlah illah atau motif hukum untuk larangan ini.
Pertama, apa yang terdapat di dalam qirbah itu tidak terlihat dari luar sehingga boleh jadi di dalamnya terdapat serangga atau bahkan ular yang bisa mengganggunya. Dikisahkan ada orang yang minum melalui mulut qirbah dan yang keluar adalah ular. Motif hukum ini tidak kita jumpai pada botol minuman di zaman ini karena umumnya apa yang ada di dalam botol itu terlihat dari luar.
Kedua, orang yang minum melalui mulut qirbah itu sering kali ketumpahan air karena air yang keluar dari botol tersebut ternyata lebih banyak dari kadar yang dibutuhkan sehingga membasahi baju peminumnya. Motif hukum ini juga kita jumpai pada orang yang minum dari botol sebagaimana bisa kita saksikan.
Ketiga, maksud larangan adalah agar ludah peminum tidak mengenai mulut wadah air atau bercampur dengan air minum yang ada dalam botol tersebut atau nafasnya masuk ke dalam mulut wadah air yang berdampak peminum selanjutnya merasa jijik. Dimungkinkan juga hal tersebut menjadi penyebab tertular penyakit yang ada pada peminum pertama. Motif hukum ini kita jumpai pada aktivitas minum dari botol dengan syarat mulut botol diemut dengan mulut. Oleh karena itu jika minumnya dengan cara ditenggak sehingga mulut peminum tidak bersentuhan dengan mulut botol hukumnya tidak mengapa.
Namun hal tersebut berlaku manakala botol minuman tersebut akan diminum oleh orang lain. Jika botol minuman tersebut hanya diminum sendiri maka tidak mengapa minum dengan mengemut mulut botol.
Tidaklah salah jika kita simpulkan bahwa dilarangnya minum dari mulut wadah air itu dikarenakan ketiga faktor di atas sebagaimana pendapat Ibnul Arabi dan Ibnu Abi Jamrah yang bisa kita simak di Fathul Bari saat penulis Fathul Bari menjelaskan hadits no 5628.
Sebagian motif hukum di atas masih kita jumpai pada orang yang minum dari botol minuman. Oleh karena itu sepatutnya kita tidak minum dari mulut botol minuman terutama jika ada orang lain yang akan ikut minum darinya.
September 14, 2015

- Obat Hati, Lakukanlah Lima Perkara -

- Obat Hati, Lakukanlah Lima Perkara -
Bagaimana cara mengobati hati yang sakit, yang sedih, yang gelisah?
Berikut kita lihat penjelasan Imam Nawawi dalam At Tibyan fii Adabi Hamalatil Qur’an.
Ibrahim Al Khowash berkata, obat hati itu ada lima:
1- Membaca Al Qur’an dan tadabbur (merenungkannya)
2- Rajin mengosongkan perut (dengan gemar berpuasa)
3- Mendirikan shalat malam (shalat tahajud)
4- Merendahkan diri di hadapan Allah (dengan do’a dan dzikir) di akhir malam (waktu sahur)
5- Bermajelis (bergaul) dengan orang-orang sholeh. (At Tibyan karya Imam Nawawi, hal. 87).
Coba praktikkan amalan di atas, niscaya kita akan merasakan kesejukan dan penyejuk hati. Itulah obat hati yang paling mujarab.
Semoga Allah menganugerahkan kita hati yang selamat dari berbagai macam noda.
September 14, 2015

- Cara Berbakti Setelah Orang Tua Meninggal -


Setelah orang tua meninggal, ada banyak cara bagi si anak untuk tetap bisa berbakti kepada orang tuanya. Mereka tetap bisa memberikan kebaikan bagi orang tuanya yang telah meninggal, berupa aliran pahala. Dengan syarat, selama mereka memiliki ikatan iman.
Lebih dari, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan kepada salah seorang sahabat untuk melakukan beberapa amal, agar mereka tetap bisa berbakti kepada orang tuanya.
Dari Malik bin Rabi’ah As-Sa’idi radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan, ‘Ketika kami sedang duduk bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tiba-tiba datang seseorang dari Bani Salamah. Orang ini bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah masih ada cara bagiku untuk berbakti kepada orang tuaku setelah mereka meninggal?’ Jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
نَعَمْ، الصَّلَاةُ عَلَيْهِمَا، وَالِاسْتِغْفَارُ لَهُمَا، وَإِيفَاءٌ بِعُهُودِهِمَا مِنْ بَعْدِ مَوْتِهِمَا، وَإِكْرَامُ صَدِيقِهِمَا، وَصِلَةُ الرَّحِمِ الَّتِي لَا تُوصَلُ إِلَّا بِهِمَا
“Ya, menshalatkan mereka, memohonkan ampunan untuk mereka, memenuhi janji mereka setelah mereka meninggal, memuliakan rekan mereka, dan menyambung silaturahmi yang terjalin karena sebab keberadaan mereka.” (HR. Ahmad 16059, Abu Daud 5142, Ibn Majah 3664, dishahihkan oleh al-Hakim 7260 dan disetujui adz-Dzahabi).
Makna ‘menshalatkan mereka’ memiliki dua kemungkinan,
Menshalatkan jenazah mereka
Mendoakan mereka dengan doa rahmat.
Demikian keterangan as-Sindi yang dikutip Syuaib al-Arnauth dalam Tahqiq beliau untuk Musnad Imam Ahmad (25/458).

Diantara doa yang Allah perintahkan dalam Al-Quran adalah doa memohonkan ampunan untuk kedua orang tua kita,
وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا
“Berdoalah, Ya Allah, berilah rahmat kepada mereka (kedua orang tua), sebagaimana mereka merawatku ketika kecil.” (QS. Al-Isra: 24)