Breaking

Senin, 14 September 2015

September 14, 2015

- Apa itu Zina Hati ? -

- Apa itu Zina Hati ? -
Pertanyaan:
Apa yang dimaksud zina hati ?
Jawaban:
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, wa ba’du
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ حَظَّهُ مِنَ الزِّنَا، أَدْرَكَ ذَلِكَ لاَ مَحَالَةَ، فَزِنَا العَيْنِ النَّظَرُ، وَزِنَا اللِّسَانِ المَنْطِقُ، والقلب تَمَنَّى وَتَشْتَهِي، وَالفَرْجُ يُصَدِّقُ ذَلِكَ كُلَّهُ وَيُكَذِّبُهُ
“Sesungguhnya Allah menetapkan jatah zina untuk setiap manusia. Dia akan mendapatkannya dan tidak bisa dihindari: Zina mata dengan melihat, zina lisan dengan ucapan, zina hati dengan membayangkan dan gejolak syahwat, sedangkan kemaluan membenarkan semua itu atau mendustakannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis di atas menjelaskan kepada kita hakikat zina hati yang dilakukan manusia. Membayangkan melakukan sesuatu yang haram, yang membangkitkan syahwat, baik dengan lawan jenis maupun dengan sejenis, itulah zina hati.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam riwayat yang lain bersabda:
الْعَيْنُ تَزْنِي، وَالْقَلْبُ يَزْنِي، فَزِنَا الْعَيْنِ النَّظَرُ، وَزِنَا الْقَلْبِ التَّمَنِّي، وَالْفَرْجُ يُصَدِّقُ مَا هُنَالِكَ أَوْ يُكَذِّبُهُ
“Mata itu berzina, hati juga berzina. Zina mata dengan melihat (yang diharamkan), zina hati dengan membayangkan (pemicu syahwat yang terlarang). Sementara kemaluan membenarkan atau mendustakan semua itu.” (HR. Ahmad)
Bagaimana jika yang dibayangkan adalah suami atau istrinya?
Dalam Fatawa Syabakah Islamiyah dinyatakan,
Jika seseorang membayangkan melakukan hubungan dengan suaminya atau istrinya maka tidak masalah. Karena pada asalnya dia dibolehkan untuk bersentuhan, melihat tubuhnya. Sementara membayangkan jelas lebih ringan dibanding itu semua, namun jika yang dibayangkan adalah selain suami atau istri, hukumnya terlarang.
(Fatawa Syabakah Islamiyah, di bawah bimbingan Dr. Abdullah al-Faqih, no. 72166)
September 14, 2015

Larangan Menceritakan Setiap Apa yang Didengar

# Larangan Menceritakan Setiap Apa yang Didengar #
Yang namanya perkataan manusia ada yang benar dan ada yang dusta. Maka dalam hal ini dapat dikatakan bahwa jika ada seseorang yang menceritakan setiap yang ia dengar maka ia juga ikut menyebarkan kedustaan itu. Rasulullah shalallahu 'alayhi was salam bersabda :
كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ
“Rasulullah bersabda : “Cukuplah seseorang itu dikatakan sebagai pendusta, kalau dia menceritakan semua yang dia dengar.” (HR Muslim)
Maka ada baiknya bagi kita untuk tidak terlalu terburu-buru dalam menyebarkan berita ke tengah-tengah masyarakat tanpa diperiksa terlebih dahulu kebenarannya.
September 14, 2015

- Ingin Dimaafkan oleh Allah ? -

- Ingin Dimaafkan oleh Allah ? -
Bukankah engkau ingin dimaafkan dan diampuni oleh Allah?, maka maafkanlah dan ampunilah hamba-hambaNya..
Akan tetapi sikap memaafkan bertingkat-tingkat…

1. Ada yang memaafkan akan tetapi masih menggerutu..
2. Ada yang memaafkan akan tetapi tetap saja menyimpan dendam, hanya saja tidak membalas kesalahan saudaranya tersebut
3. Ada yang memaafkan dengan sesungguh-sungguhnya, bahkan bersikap baik dengan saudaranya tersebut…, kesalahan saudaranya benar-benar ia lupakan…
4. Ada yang memaafkan dan melupakan setelah ia berkesempatan untuk membalas. Allah berfirman
أَوْ تَعْفُوا عَنْ سُوءٍ فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ عَفُوًّا قَدِيرًا
"Atau (jika engkau) memaafkan sesuatu kesalahan (orang lain), Maka Sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Kuasa" (QS An-Nisaa : 149). Yaitu Allah Maha Pemaaf padahal Allah Maha Mampu Untuk membalas dan menyiksa
Maka…sejauh mana tingkat memaafkannya kepada saudaranya tersebut maka demikianlah Allah akan memaafkannya…
September 14, 2015

- Neraka Melihat Calon Penghuninya dari Jauh -

- Neraka Melihat Calon Penghuninya dari Jauh -
Sedari jauh, sebelum penghuninya masuk, neraka telah mengincar siapa saja yang menjadi calon-calon penghuninya.
Allah berfirman,
بَلْ كَذَّبُوا بِالسَّاعَةِ وَأَعْتَدْنَا لِمَنْ كَذَّبَ بِالسَّاعَةِ سَعِيرًا ( ) إِذَا رَأَتْهُمْ مِنْ مَكَانٍ بَعِيدٍ سَمِعُوا لَهَا تَغَيُّظًا وَزَفِيرًا
Namun mereka mendustakan hari kiamat. dan Kami menyediakan bagi siapa yang mendustakan hari kiamat, neraka yang menyala-nyala. ( ) apabila neraka itu melihat mereka dari tempat yang jauh, mereka mendengar kegeramannya dan suara nyalanya. (QS. Al-Furqon: 11 – 12)
Bayangkan ketika neraka melihat kita dari jauh, dia menjadikan kita incarannya. Dia menampakkan keganasannya, siap untuk melahap kita. Dia melihat kita untuk mencabik-cabik diri kita…
Ya Rabb.., hanya kepada-Mu kami berlindung dari neraka
September 14, 2015

- Bertamu Ala Rasulullah -

- Bertamu Ala Rasulullah -
Saling berkunjung dan bertamu di antara kita adalah hal yang biasa terjadi. Baik bertamu di antara sanak famili, dengan tetangga, atau teman sebaya yang tinggal di kos. Namun, banyak di antara kita yang melupakan atau belum mengetahui adab-adab dalam bertamu, dimana syari’at Islam yang lengkap telah memiliki tuntunan tersendiri dalam hal ini. Nah, alangkah indahnya jika setiap yang kita lakukan kita niatkan ibadah kepada Allah ta’ala dan ittiba’ pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, termasuk dalam hal adab bertamu ini.
1. Minta Izin Maksimal Tiga Kali
2. Mengucapkan Salam & Minta Izin Masuk
3. Ketukan Yang Tidak Mengganggu
4. Posisi Berdiri Tidak Menghadap Pintu Masuk
5. Tidak Mengintip
6. Pulang Kembali Jika Disuruh Pulang
7. Menjawab Dengan Nama Jelas Jika Pemilik Rumah Bertanya “Siapa?”