Breaking

Kamis, 08 Oktober 2015

Oktober 08, 2015

BAGAIMANA RUQYAH SYARIAH?

BAGAIMANA RUQYAH SYARIAH?
Oleh Ustadz Abu Yahya Badrussalam Lc
Pertanyaan : Jaman sekarang banyak orang yang sedikit-sedikit merasa diganggu oleh jin. Sehingga dia mencari orang-orang yang bisa meruqyah. Nah seperti apakah ruqyah syar’iyah itu ustadz? Dan bagaimanakah dengan seseorang yang membuka konsultasi serta praktek ruqyah . dan sekarang juga sedang rame bagaimana dengan fenomena ruqyah via sosmed yang mana peruqyah berdialog dengan jin yang ada di dalam tubuh pasiennya??
Jawaban :
Tentunya segala sesuatunya harus di lihat apakah perbuatan itu sesuai dgn perbuatan Rasulullah atau tidak
Pertama: Para ulama menyebutkan tentang syarat2 ruqyah sebagaimana yg disebutkan Al hafidz ibnu Hajar dalam Fatuhl Bari
1. Menggunakan Kalamullah atau nama-nama dan sifat-Nya.
2. Menggunakan lisan (bahasa) Arab atau yang selainnya, selama maknanya diketahui.
3. Meyakini bahwa ruqyah tidak berpengaruh dengan sendirinya, namun dengan sebab Dzat Allah Subhanahu wa Ta’ala.
(Fathul Bari, 10/237)

Kalau kita melihat bagaimana Rasululllah meruqyah orang yang kemasukan jin, disebutkan dalam salah satu riwayat yang shahih bahwa ada seseorang yang di datangkan kepada Rasulullah dan dia kemasukan jin. Maka Rasulullah shalallahu alaihi wasallam mengambil pelepah kurma lalu dipukulkan pelepah itu ke punggung orang tsb sambil dikatakan “keluarlah kamu wahai musuh Allah”
Rasulullah tidak mengajak berdialog, dan Rasulullah sama sekali disitu tidak bertanya dulu kepada jin kamu siapa, kenapa kamu masuk, kenapa begini kenapa begitu.. akan tetapi Rasulullah langsung mengatakan “keluarlah wahai musuh Allah”
Apalagi jin mereka adalah bangsa yang pandai berdusta, bagaimana kita hendak mengajak mereka berdialog sementara ucapannya sendiri tidak bisa dipercayai. Dan sebagian ulama mengingkarinya, bahwa perbuatan sebagian peruqyah yang mengajak dialog dulu karena itu tidak pernah di lakukan rasulullah, tidak pula sahabat tidak pula tabiin tidak pula imam-imam para ulama setelahnya

Hal itu dilakukan oleh para ulama, adapun dijaman sekarang ruqyah yang dilakukan melalui media social kemudian terjadi dialog dengan jin.. Ini semua perkara yang BATHIL ya akhi.. yang tidak pernah di tunjukan oleh dalilnya, dialog-dialog seperti itu tidak dilakukan oleh shalafus shaleh . Terlebih kita bangsa jin adalah bangsa yang ingin menguasai bangsa manusia. Mereka akan melakukan segala macam tipu daya untuk menipu manusia. Dusta pun akan mereka lakukan
Kita tidak melihat kepada hasil, tp yang kita lihat adalah cara. Banyak orang yang berkata “tapi kan berhasil?” sekali lagi kita tidak melihat hasil tapi caranya sesuai tidak dgn cara Rasulullah sshalallahu alaihi wasallam
“ada yang berkata peruqyah ini berhasil mengislamkan beberapa jin”

Yang namanya jin kita tidak bisa percaya masalahnya, betulkah dia masuk islam ataukah hanya berbohong saja?
Bukankah para jin itu diantara mereka juga ada yang berdakwah? Adapun kemudian menjadikan sebagai sarana dengan alasan itu bisa untuk mendakwahinya, Kalau seperti itu Rasulullah mau lakukan pastilah Rasulullah akan lakukan, begitu juga denga para sahabat, tabiin dan tabiut tabiin.
Oktober 08, 2015

# Intropeksi Bersama: Musibah Bencana Bukan SEMATA HANYA Karena Ekploitasi Alam dan Salah Managemen Pemerintah


-Ingatkah kita Banjir di zaman Nabi Nuh alaihissalam? Eksplotasi alam penyebab bencana belum parah, tetapi banjir hampir menenggelamkan dunia karena dosa dan kesyirikan manusia
-Benar memang sebabnya itu, akan tetapi sebab lainnya juga, yaitu karena maksiat dan dosa manusia, istigfar, memperbaiki diri, memperbaiki akhlak dan taubat, semoga bisa dicabut musibah tersebut
-Ingatkah kita Bani Israil? Pemimpin mereka adalah orang-orang hebat, bahkan Nabi dan Rasul, tetapi mereka banyak mendapatkan musibah dan kesusahan di muka bumi.
-Ini menunjukkan bahwa suatu negara/bangsa yang lemah dan tidak sejahtera bukan hanya salah pemerintah/pemimpin saja. Tapi rakyat juga intropeksi diri
Sebagaimana dijelaskan oleh ulama:
كما تكونوا يولى عليكم
"Sebagaimana keadaan kalian, itulah keadaan pemimpin yang diberikan kepada kalian"

-Memang benar pemerintah/pemimpin yang harus segera bertindak dan kita berusaha untuk mendorong pemerintah agar segera bertindak,
tetapi sikap hanya menyalah saja tanpa memberi solusi nyata, tentu kurang bijaksana

-Semoga negara kita makmur dan berkah dengan iman, takwa dan tauhid, mari kita perbaiki diri kita sendiri dan keluarga serta masyarakat
Musibah karena akibat perbuatan kita sendiri
Allah Ta’ala berfirman,

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (Ar-Rum: 41)
Dalam hadits:
Tidaklah orang-orang mengurangi takaran dan timbangan, kecuali mereka akan disiksa dengan KEDZALIMAN PEMERINTAH kehidupan yang susah, dan paceklik.”[1]
Baca selengkapnya ا:
-Raehanul Bahraen-
Oktober 08, 2015

- Rantai Fitnah -


Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,
Mari kita simak hadis dari Usamah bin Zaid Radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَا تَرَكْتُ بَعْدِى فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ
Tidaklah aku meninggalkan fitnah (ujian) setelahku yang lebih berat bagi lelaki melebihi ujian wanita. (HR. Bukhari 5096 & Muslim 7121).

Kemudian dalam hadis lain dari Ka’ab bin Iyadh Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً وَفِتْنَةُ أُمَّتِى الْمَالُ
Setiap umat memiliki ujian terbesar. Dan ujian terbesar bagi umatku adalah harta. (HR. Ahmad 17934, Turmudzi 2507, Ibn Hibban 3223 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Anda bisa perhatikan karakter umumnya lelaki dan wanita. Selanjutnya mari kita perhatikan korelasi implikasi berikut,
Premis 1: Lelaki mengejar wanita
Premis 2: Wanita mengejar dunia
Konklusi: Lelaki mengejar dunia untuk berebut wanita.
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ مُضِلَّاتِ الفِتَنِ
Oktober 08, 2015

~Hukum Mengaminkan Do'a Khotib dan Mengucapkan Shalawat Apabila Sang Khotib Meyebut Nama Rasulullah~


Pertanyaan:
Bolehkah mengaminkan do'a Khotib pada saat khutbah jum'at dan mengucapkan sholawat apabila sang khotib menyebut nama Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam-..?

Jawaban:
Pertanyaan ini pernah diajukan kepada Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad sebanyak 3 kali pada 3 kesempatan yang berbeda. Beliau menjawab, " Tidak apa-apa mengaminkan do'a Khatib dan Mengucapkan sholawat kepada Rasulullah apabila khotib menyebut nama Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam-, bahkan demikianlah seharusnya. Adapun hadits yang melarang berbicara pada saat khutbah, ini berlaku apabila pembicaraan tersebut diluar konteks khutbah, seperti membicarakan urusan duniawi dll. Maksudnya perkataan tersebut tidak ada kaitannya dengan khutbah.

Wallahu a'lam

Rabu, 07 Oktober 2015

Oktober 07, 2015

# Jangan Lalai dalam Shalat #


Bersikap lalai dalam shalat telah dinyatakan sebagai dosa besar, berdasarkan firman Allah ta’ala dalam surat Al-Ma’un,
فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ. الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلاتِهِمْ سَاهُونَ
“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat. (Yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya.” (QS. Al-Ma’un: 4–5).
Para ulama menerangkan bahwa yang dimaksud “lalai” dalam ayat di atas mencakup tiga bentuk perbuatan, yaitu:
1. Menunda-nunda shalat hingga baru dikerjakan ketika waktu shalat hampir berakhir.
2. Mengerjakan shalat tanpa memperhatikan syarat dan rukunnya sebagaimana yang diperintahkan.
3. Mengerjakan shalat tanpa disertai kekhusyukan dan tanpa merenungi makna bacaan shalat.

Adapun siksa kubur, yang akan dialami oleh orang yang lalai dalam shalatnya, disebutkan dalam hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamdari sahabat Samurah bin Jundab. Dalam hadis tersebut diceritakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat siksa bagi orang yang lalai dalam shalatnya, yaitu kepalanya akan dipecahkan dengan sebuah batu besar dan hal itu dilakukan berulang kali. (HR. Bukhari)