Breaking

Kamis, 08 Oktober 2015

Oktober 08, 2015

Gila Itu Macam Macam.

Gila Itu Macam Macam.
Ungkapan di atas adalah arti dari pepatah arab yang berbunyi: 
الجنون فنون
Ada orang gila yg terekspresi dengan bertelanjang ria, ada pula yang dengan memaki maki setiap orang yang dijumpai, ada pula yang dengan berbicara sendiri dan ada pula yang berbicara tanpa kenal aturan dan batasan.

Dan menurut para dokter jiwa, gila itu bertingkat tingkat, ada yang parah seperti yang tergambar pada sikap aneh di atas. Ada pula yang sedang, belum sampai telanjang namun hampir telanjang atau bahkan memakai baju tanpa pernah dicuci.
Ada pula yang ringan, diantaranya dengan berbicara ngelantur alias ngalor ngidul ndak karuan, seakan lupa arah timur dari barat, walaupun penampilannya masih necis bersih dan perlente.
Dari mereka ada yang berkata bahwa istri tetangga adalah istrinya juga, ada lagi yang berkata bahwa ia mengetahui hal gaib, dan ada lagi yang berkata dirinya adalah keturunan malaikat, ada pula yang mengaku sholat subuh di Makkah, Zhuhurnya di Istiqlal Jakarta sedangkan Asharnya di masjid kampungnya. Dan ada pula yang ngakunya baru selesai menunaikan ibadah haji, padahal bukan bulan haji, malah ada pula yang mengaku BISA BERHAJI DUA KALI setahun.

Lebih unik lagi, ada yang mengaku bahwa Ka'bah datang berkunjung ke rumahnya, bukannya ia yang thawaf mengelilingi Ka'bah namun Ka'abahlah yang mengelilingi dirinya.
Dan masih banyak lagi ekspresi penyakit mental alias gila.
Ketika melihat ulah atau mendengar ucapan mereka hanya ada satu sikap yang pantas anda lakukan, yaitu merasa iba kepada mereka dan bersyukur anda selamat dari petaka yang menimpa mereka.

الحمد لله الذي عافاني مما ابتلاك به وفضلني على كثير مما خلق تفضيلا
Segala puji hanyak milik Allah Yang telah menyelamatkan aku dari petaka yang menimpamu, dan benar benar telah memberiku banyak kelebihan dibanding kebanyakan makhluq ciptaan-Nya.
Oktober 08, 2015

- Perayaan Idul Ghodir Perayaan Kekufuran dan Pengkafiran -


Ajaran Islam dan Ajaran agama Syi'ah tidak mungkin bersatu, karena kedua agama ini saling berlawanan dan bertolak belakang.
Agama Islam tidak mungkin tegak kecuali dengan meyakini bahwasanya para sahabat adalah umat terbaik, karena sumber dasar agama Islam adalah Al-Qur'an dan As-Sunnah. Dan tidak mungkin al-Qur'an dan As-Sunnah sampai kepada kita kecuali melalui jalan dan jalur periwayatan para sahabat. Jika para sahabat bukan umat terbaik dan tidak amanah maka gugurlah sumber agama Islam, dan selanjutnya gugurlah agama Islam.
Adapun agama Syi'ah…
Maka agama mereka tidak mungkin tegak kecuali dengan mengkafirkan para sahabat. Karena agama mereka dibangun di atas keimaman (yaitu meyakini dan mengimani para imam dua belas yang mereka akui). Dan imam pertama mereka adalah Ali bin Abi Tholib radhiallahu 'anhu.
Sementara penunjukan Ali sebagai imam oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam adalah tatkala di Ghodiir Khum (suatu tempat yang terletak antara kota Mekah dan Madinah). Penunjukan dan washiat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tersebut disampaikan tatkala Nabi pulang dari haji Wadaa' dihadapan para sahabat. Lalu ternyata para sahabat kompak menyelisihi Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dengan mengangkat Abu Bakar sebagai khalifah. Karenanya mereka mengkafirkan seluruh para sahabat yang setuju dengan pelantikan Abu Bakar sebagai khalifah, yang berarti para sahabat telah bersepakat menolak aqidah keimaman mereka, maka kafirlah para sahabat. Jadi agama Syi'ah tidak mungkin tegak kecuali dengan mengkafirkan para sahabat.
Dari sini sangatlah wajar jika di mata kaum agama Syi'ah, perayaan 'Idul Ghodir lebih utama dari pada hari raya 'Idul Fitri dan 'Idul Adlha !!!
Idul Ghodir Perayaan Kekufuran
Sangatlah jelas bahwa Hari Perayaan Ghodir Khum adalah hari kekufuran, karena hari Ghodir Khum di mata penganut agama Syi'ah adalah hari menjadikan keimaman sebagai rukun Islam yang paling utama. Dari keyakinan inilah timbul berbagai bentuk kekufuran, daintaranya :
Pertama : Mengangkat para imam mereka hingga pada derajat yang berlebihan, seperti meyakini bahwa para imam mereka mengetahui ilmu ghaib bahkan seluruh yang tercatat di al-Lauh al-Mahfuz juga diketahui oleh para imam mereka. Dan ini jelas merupakan kekufuran, karena telah menyatakan ada makhluk yang statusnya sama dengan Allah dalam hal ilmu ghaib.
Kedua : Meyakini bahwa al-Qur'an telah terjadi padanya perubahan dan distorsi, karena menurut agama Syi'ah seharusnya di dalam al-Qur'an terdapat ayat-ayat yang tegas menunjukkan akan aqidah keimaman mereka, akan tetapi dirubah atau disembunyikan oleh para sahabat. Dan keyakinan bahwa Allah tidak menjaga al-Qur'an adalah kekufuran. Demikian juga meyakini al-Qur'an sudah mengalami perubahan dan tidak bisa dijaga keotentikannya juga merupakan kekufuran
Ketiga : Menyatakan bahwa para imam mereka maksum (tidak mungkin salah dalam perkataan dan perbuatan). Ini merupakan kekufuran !!!. Sebab :
- Meyakini ada tokoh yang maksum setelah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pada hakekatnya adalah mencoreng dan merusak fungsi Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam sebagai Nabi terakhir. Sebab jika ada yang maksum setelah Nabi maka perkataan dan perbuatan orang tersebut juga merupakan syari'at yang merupakan sumber hukum baru, karena orang tersebut maksum (terjaga dari kesalahan oleh Allah).
- Oleh karenanya coba kita tanyakan kepada kaum Syi'ah, apa perbedaan antara imam dan Nabi??. Mereka tidak akan bisa menemukan perbedaan, bahkan pernyataan-pernyataan dalam kitab-kitab mereka menunjukkan bahwa imam-imam mereka lebih afdhol daripada para nabi ??!!
- Mencoreng kesempurnaan agama Islam yang telah Allah sempurnakan di akhir hayat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Karena dengan meyakini bahwasanya kedua belas imam mereka maksum, maka ini melazimkan syari'at agama Islam masih belum sempurna, sehingga akan datang syari'at-syari'at baru yang diambil dari perkataan dan perbuatan para imam maksum Syi'ah.
- Oleh karenanya, kalau agama Islam rujukan dasar hukumnya selain al-Qur'an adalah hadits-hadits Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, adapun kaum agama Syi'ah maka rujukan mereka yang paling utama adalah perkataan-perkataan para imam mereka. Perkataan-perkataan para imam mereka menduduki kedudukan hadits-hadits Nabi shallallahu 'alaihi wasallam.

Keempat : Bahkan sebagian Syi'ah ada yang berani menyatakan bahwa :
- Jibril salah dalam menurunkan wahyu, yang seharusnya kepada Ali namun Jibril 'alaihis salam menurunkannya kepada Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam. Keyakinan kufur ini berangkat dari aqidah pengkultusan para imam mereka
- Nabi Muhammad telah salah karena tidak menjelaskan secara gamblang kepada para sahabat bahwa keimaman akan diwariskan kepada Ali bin Abi Tholib.

Idul Ghodir Perayaan Pengkafiran
Dari aqidah keimaman inilah lahirlah bentuk-bentuk pengkafiran yang membabi buta. Diantaranya :
Pertama : Pengkafiran seluruh para sahabat, kecuali hanya empat orang. Hal ini dikarenakan para sahabat telah berkhianat terhadap wasiat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam di Ghodir Khum yang menyatakan bahwa Ali adalah imam penerus Nabi shallallahu 'alaihi wasallam
Kedua : Pengkafiran seluruh muslim yang tidak beriman kepada imam-imam mereka. Karena barang siapa yang tidak beriman kepada imam mereka maka berarti telah meninggalkan rukun Islam yang paling utama, yaitu keimaman.
Dari sini maka ikut merayakan perayaan 'Idul Ghodir, atau ikut membenarkan atau membela 'Idul Ghodir, demikian juga ikut mempromosikan 'idul Ghodir merupakan bentuk ikut serta mensukseskan dan melariskan kekufuran !!!.
Membenarkan diadakannya perayaan 'Idul Ghodir di tanah air adalah bentuk pengkhianatan dan penipuan serta penyesatan kepada rakyat muslim Indonesia !!!
Sebaliknya menolak perayaan 'Idul Ghodir merupakan bukti keimanan, dan pembelaan terhadap agama Islam, pembelaan terhadap al-Qur'an, pembelaan terhadap Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, juga pembelaan terhadap para sahabat yang mulia !!!
via : firanda.com

Oktober 08, 2015

Penjelasan yang menarik tentang akhlak terpuji dari Syaikh Prof. Dr. ‘Abdurrazzaq bin Abdil Muhsin Al Abbad hafizhahullah :

Penjelasan yang menarik tentang akhlak terpuji dari Syaikh Prof. Dr. ‘Abdurrazzaq bin Abdil Muhsin Al Abbad hafizhahullah :
Dari sahabat ‘Abdullah bin Mas’udradhiyallahu ‘anhu, dia berkata :
إنَّ الله تعالى قَسَمَ بينكم أخلاقكم، كما قسم بينكم أرزاقكم
“Sesungguhnya Allah Ta’ala membagi akhlak (yang terpuji) kepada kalian, sebagaimana Allah membagi rezeki kepada kalian” (H.R Bukhari dalamAdabul Mufrad).
Akhlak (yang terpuji) adalah anugerah dari Allah dan merupakan pembagian dari Allah, serta merupakan bentuk keutamaan yang Allah berikan untuk hamba. Allah yang menganugerahi rezeki, Dia pulalah yang menganugerahi akhlak yang terpuji. Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyyah rahimahullah berkata,
فإنَّ الأخلاق مواهب يهب الله منها ما يشاء لمن يشاء
“Sesungguhnya akhlak yang terpuji adalah anugerah yang Allah berikan kepada para hamba sesuai dengan kehendak-Nya”.
Dalam masalah mendapatkan rezeki, dua perkara yang harus ada yaitu bersandarnya hati seorang hamba kepada Allah dan menyerahkan urusan seluruhnya kepada Allah tentang rezekinya serta berusaha mencari rezeki tersebut dengan usaha yang diperbolehkan oleh syariat. Maka demikian pula dalam masalah akhlak yang terpuji, seseorang hendaknya bersandar kepada Allah dalam mendapatkan akhlak dan adab yang terpuj disertai dengan usaha melawan dan menundukkan hawa nafsu untuk mendapatkannya.
Hanya Allah-lah satu-satunya Dzat yang bisa memberi petunjuk
Oktober 08, 2015

BAGAIMANA RUQYAH SYARIAH?

BAGAIMANA RUQYAH SYARIAH?
Oleh Ustadz Abu Yahya Badrussalam Lc
Pertanyaan : Jaman sekarang banyak orang yang sedikit-sedikit merasa diganggu oleh jin. Sehingga dia mencari orang-orang yang bisa meruqyah. Nah seperti apakah ruqyah syar’iyah itu ustadz? Dan bagaimanakah dengan seseorang yang membuka konsultasi serta praktek ruqyah . dan sekarang juga sedang rame bagaimana dengan fenomena ruqyah via sosmed yang mana peruqyah berdialog dengan jin yang ada di dalam tubuh pasiennya??
Jawaban :
Tentunya segala sesuatunya harus di lihat apakah perbuatan itu sesuai dgn perbuatan Rasulullah atau tidak
Pertama: Para ulama menyebutkan tentang syarat2 ruqyah sebagaimana yg disebutkan Al hafidz ibnu Hajar dalam Fatuhl Bari
1. Menggunakan Kalamullah atau nama-nama dan sifat-Nya.
2. Menggunakan lisan (bahasa) Arab atau yang selainnya, selama maknanya diketahui.
3. Meyakini bahwa ruqyah tidak berpengaruh dengan sendirinya, namun dengan sebab Dzat Allah Subhanahu wa Ta’ala.
(Fathul Bari, 10/237)

Kalau kita melihat bagaimana Rasululllah meruqyah orang yang kemasukan jin, disebutkan dalam salah satu riwayat yang shahih bahwa ada seseorang yang di datangkan kepada Rasulullah dan dia kemasukan jin. Maka Rasulullah shalallahu alaihi wasallam mengambil pelepah kurma lalu dipukulkan pelepah itu ke punggung orang tsb sambil dikatakan “keluarlah kamu wahai musuh Allah”
Rasulullah tidak mengajak berdialog, dan Rasulullah sama sekali disitu tidak bertanya dulu kepada jin kamu siapa, kenapa kamu masuk, kenapa begini kenapa begitu.. akan tetapi Rasulullah langsung mengatakan “keluarlah wahai musuh Allah”
Apalagi jin mereka adalah bangsa yang pandai berdusta, bagaimana kita hendak mengajak mereka berdialog sementara ucapannya sendiri tidak bisa dipercayai. Dan sebagian ulama mengingkarinya, bahwa perbuatan sebagian peruqyah yang mengajak dialog dulu karena itu tidak pernah di lakukan rasulullah, tidak pula sahabat tidak pula tabiin tidak pula imam-imam para ulama setelahnya

Hal itu dilakukan oleh para ulama, adapun dijaman sekarang ruqyah yang dilakukan melalui media social kemudian terjadi dialog dengan jin.. Ini semua perkara yang BATHIL ya akhi.. yang tidak pernah di tunjukan oleh dalilnya, dialog-dialog seperti itu tidak dilakukan oleh shalafus shaleh . Terlebih kita bangsa jin adalah bangsa yang ingin menguasai bangsa manusia. Mereka akan melakukan segala macam tipu daya untuk menipu manusia. Dusta pun akan mereka lakukan
Kita tidak melihat kepada hasil, tp yang kita lihat adalah cara. Banyak orang yang berkata “tapi kan berhasil?” sekali lagi kita tidak melihat hasil tapi caranya sesuai tidak dgn cara Rasulullah sshalallahu alaihi wasallam
“ada yang berkata peruqyah ini berhasil mengislamkan beberapa jin”

Yang namanya jin kita tidak bisa percaya masalahnya, betulkah dia masuk islam ataukah hanya berbohong saja?
Bukankah para jin itu diantara mereka juga ada yang berdakwah? Adapun kemudian menjadikan sebagai sarana dengan alasan itu bisa untuk mendakwahinya, Kalau seperti itu Rasulullah mau lakukan pastilah Rasulullah akan lakukan, begitu juga denga para sahabat, tabiin dan tabiut tabiin.
Oktober 08, 2015

# Intropeksi Bersama: Musibah Bencana Bukan SEMATA HANYA Karena Ekploitasi Alam dan Salah Managemen Pemerintah


-Ingatkah kita Banjir di zaman Nabi Nuh alaihissalam? Eksplotasi alam penyebab bencana belum parah, tetapi banjir hampir menenggelamkan dunia karena dosa dan kesyirikan manusia
-Benar memang sebabnya itu, akan tetapi sebab lainnya juga, yaitu karena maksiat dan dosa manusia, istigfar, memperbaiki diri, memperbaiki akhlak dan taubat, semoga bisa dicabut musibah tersebut
-Ingatkah kita Bani Israil? Pemimpin mereka adalah orang-orang hebat, bahkan Nabi dan Rasul, tetapi mereka banyak mendapatkan musibah dan kesusahan di muka bumi.
-Ini menunjukkan bahwa suatu negara/bangsa yang lemah dan tidak sejahtera bukan hanya salah pemerintah/pemimpin saja. Tapi rakyat juga intropeksi diri
Sebagaimana dijelaskan oleh ulama:
كما تكونوا يولى عليكم
"Sebagaimana keadaan kalian, itulah keadaan pemimpin yang diberikan kepada kalian"

-Memang benar pemerintah/pemimpin yang harus segera bertindak dan kita berusaha untuk mendorong pemerintah agar segera bertindak,
tetapi sikap hanya menyalah saja tanpa memberi solusi nyata, tentu kurang bijaksana

-Semoga negara kita makmur dan berkah dengan iman, takwa dan tauhid, mari kita perbaiki diri kita sendiri dan keluarga serta masyarakat
Musibah karena akibat perbuatan kita sendiri
Allah Ta’ala berfirman,

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (Ar-Rum: 41)
Dalam hadits:
Tidaklah orang-orang mengurangi takaran dan timbangan, kecuali mereka akan disiksa dengan KEDZALIMAN PEMERINTAH kehidupan yang susah, dan paceklik.”[1]
Baca selengkapnya ا:
-Raehanul Bahraen-