Breaking

Minggu, 02 Agustus 2015

Agustus 02, 2015

Kenapa Malaikat Mika'il Tidak Pernah Tertawa ?


Rasulullah pernah bertanya kepada Jibril, "Mengapa saya sama
sekali tidak pernah melihat Mika'il tertawa ?
Jibril menjawab, "Mika'il tidak pernah tertawa semenjak neraka
diciptakan... " [HR. Ahmad]
Wahai yang masih bergelimang kemaksiatan...
apakah engkau tidak takut dengan api neraka ??
Apakah engkau lebih perkasa dari malaikat ?
Malaikat mikail yang ditugaskan untuk memberikan rezeki kepada
seluruh makhluk di dunia. Ia menurunkan hujan dan menumbuhkan tanaman-tanaman untuk dimanfaatkan oleh para makhluk. Meski
bertugas memberi kemakmuran, ia tak pernah tersenyum dan
tertawa.
Malaikat Mika'il yang begitu ta'at dan memiliki banyak keutamaan,
dia takut jika Allah murka kepadanya.
Agustus 02, 2015

Surah At Taubah ayat 1 - 6

Surah At Taubah ayat 1 - 6
1. (Inilah pernyataan) pemutusan hubungan dari Allah dan RasulNya (yang dihadapkan) kepada orang-orang musyrikin yang kamu (kaum muslimin) telah Mengadakan Perjanjian (dengan mereka).

2. Maka berjalanlah kamu (kaum musyrikin) di muka bumi selama empat bulan dan ketahuilah bahwa Sesungguhnya kamu tidak akan dapat melemahkan Allah, dan Sesungguhnya Allah menghinakan orang-orang kafir[627].
3. dan (inilah) suatu permakluman daripada Allah dan Rasul-Nya kepada umat manusia pada hari haji akbar[628] bahwa Sesungguhnya Allah dan RasulNya berlepas diri dari orang-orang musyrikin. kemudian jika kamu (kaum musyrikin) bertobat, Maka bertaubat itu lebih baik bagimu; dan jika kamu berpaling, Maka ketahuilah bahwa Sesungguhnya kamu tidak dapat melemahkan Allah. dan beritakanlah kepada orang-orang kafir (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih.
4. kecuali orang-orang musyrikin yang kamu telah Mengadakan Perjanjian (dengan mereka) dan mereka tidak mengurangi sesuatu pun (dari isi perjanjian)mu dan tidak (pula) mereka membantu seseorang yang memusuhi kamu, Maka terhadap mereka itu penuhilah janjinya sampai batas waktunya[629]. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaqwa.
5. apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu[630], Maka bunuhlah orang-orang musyrikin itu dimana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah ditempat pengintaian. jika mereka bertaubat dan mendirikan sholat dan menunaikan zakat, Maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan[631]. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
6. dan jika seorang diantara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, Maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah ia ketempat yang aman baginya. demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui.
Tafsir :
[627] Sebelum turunnya ayat ini ada Perjanjian damai antara Nabi Muhammad s.a.w. dengan orang-orang musyrikin. di antara isi Perjanjian itu adalah tidak ada peperangan antara Nabi Muhammad s.a.w. dengan orang-orang musyrikin, dan bahwa kaum muslimin dibolehkan berhaji ke Makkah dan tawaf di Ka'bah. Allah SWT membatalkan Perjanjian itu dan mengizinkan kepada kaum muslimin memerangi kembali. Maka turunlah ayat ini dan kaum musyrikin diberikan kesempatan empat bulan lamanya di tanah Arab untuk memperkuat diri.
[628] Berbeda Pendapat antara mufassirin (ahli tafsir) tentang yang dimaksud dengan haji akbar, ada yang mengatakan hari Nahar, ada yang mengatakan hari Arafah. yang dimaksud dengan haji akbar di sini adalah haji yang terjadi pada tahun ke-9 Hijrah.
[629] Maksud yang diberi tangguh empat bulan itu Ialah: mereka yang memungkiri janji mereka dengan Nabi Muhammad SAW. Adapun mereka yang tidak memungkiri janjinya Maka Perjanjian itu diteruskan sampai berakhir masa yang ditentukan dalam Perjanjian itu. sesudah berakhir masa itu, Maka tiada lagi perdamaian dengan orang-orang musyrikin.
[630] Yang dimaksud dengan bulan Haram disini Ialah: masa 4 bulan yang diberi tangguh kepada kamu musyrikin itu, Yaitu mulai tanggal 10 Zulhijjah (hari turunnya ayat ini) sampai dengan 10 Rabi'ul akhir.
[631] Maksudnya: terjamin keamanan mereka.

Agustus 02, 2015

30 ORANG YANG PERTAMA DALAM ISLAM

30 ORANG YANG PERTAMA DALAM ISLAM
1. Orang yang pertama menulis Bismillah : Nabi Sulaiman AS.
2. Orang yang pertama minum air zamzam : Nabi Ismail AS.
3. Orang yang pertama berkhatan : Nabi Ibrahim AS.
4. Orang yang pertama diberikan pakaian pada hari qiamat : Nabi Ibrahim AS.
5. Orang yang pertama dipanggil oleh Allah pada hari qiamat : Nabi Adam AS.
6. Orang yang pertama mengerjakan saie antara Safa dan Marwah : Sayyidatina Hajar (Ibu Nabi Ismail AS).
7. Orang yang pertama dibangkitkan pada hari qiamat : Nabi Muhammad SAW.
8. Orang yang pertama menjadi khalifah Islam : Abu Bakar As Siddiq RA.
9. Orang yang pertama menggunakan tarikh hijrah : Umar bin Al-Khattab RA.
10. Orang yang pertama meletakkah jawatan khalifah dalam Islam : Al-Hasan bin Ali RA.
11. Orang yang pertama menyusukan Nabi SAW : Thuwaibah RA.
12. Orang yang pertama syahid dalam Islam dari kalangan lelaki : Al-Harith bin Abi Halah RA.
13. Orang yang pertama syahid dalam Islam dari kalangan wanita : Sumayyah binti Khabbat RA.
14. Orang yang pertama menulis hadis di dalam kitab / lembaran : Abdullah bin Amru bin Al-Ash RA.
15. Orang yang pertama memanah dalam perjuangan fisabilillah : Saad bin Abi Waqqas RA.
16. Orang yang pertama menjadi muazzin dan melaungkan adzan: Bilal bin Rabah RA.
17. Orang yang pertama bersembahyang dengan Rasulullah SAW : Ali bin Abi Tholib RA.
18. Orang yang pertama membuat minbar masjid Nabi SAW : Tamim Ad-dary RA.
19. Orang yang pertama menghunuskan pedang dalam perjuangan fisabilillah : Az-Zubair bin Al-Awwam RA.
20. Orang yang pertama menulis sirah Nabi SAW : Ibban bin Othman bin Affan RA.
21. Orang yang pertama beriman dengan Nabi SAW : Khadijah binti Khuwailid RA.
22. Orang yang pertama mengasaskan usul fiqh : Imam Syafei RH.
23. Orang yang pertama membina penjara dalam Islam: Ali bin Abi Tholib RA.
24. Orang yang pertama menjadi raja dalam Islam : Muawiyah bin Abi Sufyan RA.
25. Orang yang pertama membuat perpustakaan awam : Harun Ar-Rasyid RH.
26. Orang yang pertama mengadakan baitul mal : Umar Al-Khattab RA.
27. Orang yang pertama menghafal Al-Qur'an selepas Rasulullah SAW : Ali bn Abi Tholib RA.
28. Orang yang pertama membina menara di Masjidil Haram Mekah : Khalifah Abu Ja'far Al-Mansur RH.
29. Orang yang pertama digelar Al-Muqry : Mus'ab bin Umair RA.
30. Orang yang pertama masuk ke dalam syurga : Nabi Muhammad SAW.
✔ Rugilah kalau tak SHARE sebab hanya 1 peluang dakwah yang MUDAH. . . Jom share !!! Sebarkan...
Wallahualam
Agustus 02, 2015

MENINGGIKAN RASA SYUKUR


Manusia, di alam fana ini perlu meninggikan rasa syukur ke hadirat Allah Suhanahu wa ta’ala (Swt), karena rahmat-Nya tiada mampu kita hitung. Sayangnya, di antara manusia banyak yang kufur nikmat atas rahmat-Nya. Terhadap mereka yang kufur nikmat lagi enggan bersyukur, Allah memberikan ancaman dengan siksa yang amat pedih.
MUQADDIMAH
Terdapat di dalam sebuah ayat Alqur-an yang mengingatkan manusia agar selalu mensyukuri nikmat dan rahmat yang telah Allah berikan dalam hidup dan kehidupan ini. Sebagai pencipta, Allah juga telah membekali semua makhluq ciptaan-Nya, termasuk manusia, dengan rahmat-Nya. Dengan bekal dari-Nya, makhluq melata di bumi ini pun dapat melanjutkan hidup dalam dinamika kehidupan alam fana dan seterusnya.

Tanpa pembekalan berupa rahmat dari-Nya, sangat mungkin, kehidupan di alam fana ini tidak seperti yang dapat kita saksikan dan rasakan sekarang. Bahkan sangat dimungkinkan, tiada lagi kehidupan makhluq melata di muka bumi bila tanpa bekal berupa rahmat dari Allah Yang Mahapencipta.
Oleh karenanya, meninggikan rasa syukur ke hadirat-Nya menjadi terasa amat penting. Sedangkan kufur atau ingkar terhadap rahmat-Nya hanya akan membawa kerugian belaka, karena Allah menjanjikan adzab yang pedih bagi orang-orang laknat yang enggan bersyukur.
PERINGATAN AGAR BERSYUKUR
Sebuah ayat yang mengingatkan agar manusia selalu bersyukur atas nikmat kerahmatan dari Alkhaliq, antara lain sebagai berikut;

“…Apabila kamu bersyukur maka akan Aku (Allah) tambah nikmat-Ku, jika kamu kufur (ingkar atas nikmat Allah) maka ketahuilah adzab-Ku sangat pedih….” (QS. Ibrahim; 7 ).
Peringatan melalui ayat di atas, merupakan rujukan ideal karena Allah jua yang menurunkan ayat tersebut ke dalam Alqur-an untuk peringatan. Oleh karena itu, untuk terfokusnya pembahasan, kata bersyukur perlu menjadi key word (kata kunci). Ada argumentasi yang kuat pada kata bersyukur guna ditemukannya pengaplikasian searah dengan kehendak Alkhaliq.
Sementara permasalahan kufur nikmat dari curahan rahmat -Nya, merupakan persoalan tersendiri. Allah Yang Mahapencipta tidak suka bila rahmat-Nya diingkari. Oleh karenanya, Allah melaknat mereka yang kufur nikmat dengan ancaman siksa yang pedih.
JAUHI KUFUR NIKMAT
Allah Mahapencipta, sekaligus Mahapenguasa di seluruh alam raya. Seluruh alam beserta isinya, tiada yang luput dari rahmat-Nya. Sedangkan manusia, hanyalah sebagian kecil dari makhluq ciptaan-Nya. Manusia tak akan pernah ada tanpa proses penciptaan dari-Nya, dan tidak ada dinamisasinya tanpa rahmat-Nya.

Kehidupan manusia di permukaan bumi, pun tidak luput dari peran-Nya. Udara, air, api, hamparan tetumbuhan, hewan, serta beragam kebutuhan kehidupan bagi manusia telah disediakan-Nya. Agar manusia tiada tersesat menjalani kehidupan di alam fana, Allah berikan juga tuntunan; Mulai dari diturunkan para nabi dan rasul-Nya (terakhir, Muhammad Saw) hingga kepada tuntunan berupa kitab suci (terakhir, Alqur-an).
Semua yang Allah sediakan dan berikan tersebut, tidaklah terpisahkan dari rahmat-Nya. Oleh karena itu, suatu hal amat wajar, manakala Alkhaliq mengingatkan agar manusia bersyukur ke hadirat-Nya dan memberikan ancaman berupa siksa yang pedih bagi mereka yang ingkar atas nikmat rahmat-Nya.
Mengaji hal terkait betapa besar serta banyaknya rahmat yang telah Allah sediakan dan berikan kepada kita semua, tiada jalan lain yang mesti dihadapi manusia pada akhir zaman kelak, yakni berhadapan dengan Alkhaliq, Allah Yang Mahakuasa. Bagi orang-orang yang senantiasa meninggikan rasa syukurnya ke hadirat Allah, punya harapan akan mendapatkan tambahan nikmat. Akan tetapi, bagi mereka yang ingkar lagi kufur nikmat (tidak bersyukur) kepada-Nya, niscaya Allah tepati janji berupa siksa yang amat pedih.
Pada kehidupan alam fana, memang memungkinkan orang yang kufur nikmat lolos dari jeratan siksa hingga ia wafat. Akan tetapi, dalam kehidupan sesudah mati, tidak seorang pun yang akan lolos dari janji Allah, karena Allah menjadi satu-satunya penguasa bahkan selaku penentu.
Oleh karena itu, alangkah bijaknya manusia yang berupaya menjauhi kufur nikmat. Satu-satunya cara untuk menjauhi kufur nikmat adalah dengan mengupayakan semaksimal mungkin agar menjadi orang yang senantiasa berusaha meninggikan rasa syukur ke hadirat Alkhaliq.
MEMETIK HIKMAH BERSYUKUR
Rasa syukur hanya dapat dilakukan oleh pribadi-pribadi yang memiliki kemampuan merasakan betapa besar dan banyaknya rahmat yang Allah curahkan dalam kehidupan ini. Itu pun tak dapat lepas bahwa pribadi tersebut telah mendasari jiwa dan raganya dengan iman kepada Allah, sesuai persyaratan keimanan yang digariskan-Nya.

Selanjutnya, pribadi tersebut juga selalu membuktikan rasa syukurnya melalui aktivitas yang bernilai ibadah kepada-Nya. Tanpa adanya aktivitas yang bernilai ibadah, rasa syukur seseorang sulit diukur, karena aktivitas yang bernilai ibadah merupakan argumentasi baku; Ketetapannya oleh Allah melalui keteladanan yang diperankan rasul-Nya.
Melalui ibadah, rasa syukur seseorang akan terukur. Itu artinya, tata cara pengejawantahan rasa syukur memiliki cerminan logis, masuk akal, serta tidak mengada-ada. Dan, dalam upaya pembuktian rasa syukur bukanlah dengan cara akal-akalan; Misalnya, mengaku bersyukur ke hadirat Allah namun tidak menggunakan tata cara yang telah ditentukan dalam tuntunan-Nya. Rasa syukur seperti ini, boleh jadi batal adanya.
Sedangkan tuntunan Allah untuk hamba-Nya, termasuk tatkala mensyukuri nikmat-Nya, mestilah bermuatan ibadah. Berarti pula, ada tata cara bersyukur atas segala nikmat dan rahmat-Nya dengan berpedoman kepada tuntunan-Nya. Dan, tatkala seseorang merasa bersyukur ke hadirat-Nya segera dapat diukur, karena aktivitas atau pengejawantahan bersyukurnya tidak terpisahkan dari nilai-nilai ibadah.
Dengan demikian, ukuran bersyukur atas segala nikmat dan rahmat Allah berada pada jalur ibadah. Apabila demikian halnya, upaya seseorang untuk meninggikan rasa syukur ke hadirat-Nya memiliki ukuran pada skala kebenaran menurut Alqur-an, sebagai kitab yang menjadi tuntunan bagi mukmin mina al duniya ila al akhirat.
Ciri khas seseorang sebagai makhluq, mestilah serba terukur. Mulai dari keberadaan fisik, jiwa, pikiran, hingga perilaku serta beragam kemampuannya berbuat, memiliki ukuran-ukuran. Ukuran fisik berada pada bobot, tinggi, batas usia, jiwa pada kekuasaan-Nya, pikiran pada kecerdasan serta ilmu dan pengetahuan yang terbatas juga, perilaku terukur pada benar atau salah di hadapan Allah, dan kemampuan-kemampuan lain punya ketergantungan (terukur) pada faktor sehat, gerak, penalaran, hingga pengamalan yang berkandungan ibadah.
Kemampuan pada diri seseorang, boleh jadi, dapat menjangkau berbagai aspek dalam upaya penyelesaian masalah terkait hidup dan kehidupan alam fana. Akan tetapi, hal yang sangat perlu diyakini, kemampuan bersyukur ke hadirat-Nya memiliki hikmah yang amat besar, karena Allah yang akan memberikan ukurannya.
Bagi orang yang pandai bersyukur, Allah janjikan tambahan nikmat kehidupan dalam ukuran-Nya. Maka, selaku makhluq-Nya, kita dianjurkan untuk selalu meninggikan rasa syukur kepada-Nya. Semoga kita mau dan berkemampuan meninggikan rasa syukur sesuai tuntunan dari-Nya….
Agustus 02, 2015

Jauhilah Perbuatan Menghasut (Mengadu domba) Untuk Mengelakkan Kemurkaan Allah


Salah satu PERBUATAN yang dibenci oleh Allah s.w.t adalah sikap suka menghasut (mengadu domba), memecah-belahkan ukuwah Islamiyah dan silaturahim.
Nabi s.a.w berwasiat kepada Sayyidina Ali k.w. maksudnya : "Wahai Ali ! Saya melihat tulisan pada pintu Syurga yang berbunyi "Syurga itu diharamkan bagi setiap orang yang bakhil (kedekut), orang yang derhaka kepada kedua orang tuanya, dan bagi orang yang suka mengadu domba (mengasut)."
Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas bahwa ia berkata, Nabi melewati dua buah kubur. Baginda bersabda maksudnya : "Kedua penghuninya sedang disiksa bukan karena dosa besar. Yang satu karena ia suka mengadu domba, dan yang lainnya kerana tidak mau membersihkan air seni sehabis buang air kecil."
Rasulullah s.a.w bersabda yang bermaksud :
"Tidak masuk Syurga mereka yang memutuskan silaturahim."
(Hadis Riwayat al-Bukhari dan Muslim)

Di dalam hadis yang lain Nabi s.a.w bersabda yang bermaksud :
"Sesiapa yang suka supaya diperluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menjalankan hubungan tali silaturahim."
(Hadis Riwayat al-Bukhari).

Sahabat yang dimuliakan,
Berdasarkan hadis-hadis di atas jelaslah kepada kita bahawa penghasut (mengadu domba) dan sikap suka memecah-belahkan persaudaraan Islam dan ukuwah Islamiyah dan memutuskan silaturahim adalah perbuatan tercela dan akan mendapat azab Allah s.w.t di alam kubur dan di hari akhirat nanti.

Jika dikaji mereka yang suka menjadi penghasut (mengadu domba) dan memecah-belahkan persaudaraan Islam adalah kerana disebabkan tiga faktor.
Perkara-perkara tersebut adalah seperti berikut :
Pertama : Perasan iri hati dan hasat dengki melihat kejayaan dan kebahagiaan orang .
Orang yang iri hati tidak boleh menikmati kehidupan yang normal kerana hatinya tidak pernah boleh tenang sebelum melihat orang lain mengalami kesulitan. Dia melakukan berbagai hal untuk memuaskan rasa iri hatinya. Bila ia gagal, ia akan jatuh kepada kecewa. Sayyidina Ali k.w. berkata, “Tidak ada orang zalim yang menzalimi orang lain sambil sekaligus menzalimi dirinya sendiri, selain orang yang dengki.” Selain menyakiti orang lain, orang yang dengki juga akan menyakiti dirinya sendiri. Perasaan ini lahir kerana hati yang tidak bersyukur di atas nikmat dan rezeki yang Allah s.w.t kurniakan keatas dirinya.
Allah berfirman bermaksud: “ Maka ingatlah Aku nescaya Aku akan mengingatimu dan syukurlah atas nikmat- Ku dan janganlah sekali-kali kamu kufuri nikmat Ku. ”
(Surah al-Baqarah, ayat 152)

Firman-Nya bermaksud: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu dan jika kamu mengingkari (nikmat Ku), maka sesungguhnya azab Ku sangat pedih.”
(Surah Ibrahim, ayat 7).
Kedua : Sentiasa mengikut hawa nafsu dan mendengar bisikan syaitan. Nafsu manusia suka kepada jalan kejahatan dan tidak suka kepada kebaikan. Suka menjatuhkan orang lain dan benci kepada keharmonian hidup sesama saudara Muslim.

Firman Allah s.w.t yang bermaksud : "Dan demi jiwa dan penciptaannya yang sempurna, maka Allah mengilhamkan (menunjukkan) jalan kejahatan (mengikut hawa nafsu) dan jalan ketaqwaan. Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu dan rugilah orang yang mengotorinya." (Surah As-Syams ayat 7-10) Firman Allah s.w.t yang bermaksud : "Dan orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan mencegah dirinya dari hawa nafsu, maka Syurgalah tempat kediamannya." (Surah An-Nazi'at ayat 40-41)
Ketiga : Hati dan jiwa penghasut dan suka memutuskan silaturahim adalah berpenyakit.
Orang yang mengidap penyakit hati tidak akan boleh mencintai orang lain dengan benar. Dia tidak mampu mencintai keluarganya dengan ikhlas. Orang seperti itu agak sukar untuk mencintai Nabi s.a.w. apalagi mencintai Allah s.w.t.. Kerana ia tidak boleh mencintai dengan tulus, dia juga tidak akan mendapat kecintaan yang tulus dari orang lain. Sekiranya ada yang mencintainya dengan tulus, ia akan curiga akan kecintaan itu.
Sahabat yang dimuliakan, Mereka yang suka kepada perbuatan menghasut (mengadu domba), memfitnah dan memecah-belahkan persaudaraan Islam adalah mereka yang akan mendapat kutukan Allah s.w.t di dunia ini. Di hari akhirat Allah s.w.t akan menyediakan azab yang pedih.

Terdapat 6 jenis golongan yang termasuk dikalangan penghasut dan memutuskan silatuirahim :
1. Ibu bapa yang mencampuri urusan perkahwinan anak-anaknya. Ibu bapa yang membenci menatu dan menyuruh anaknya memutuskan ikatan perkahwinan (bercerai). Sanggup menghasut dan memfitnah menantunya . Jika menantunya melakukan sesuatu perkara yang tidak syarak sepatutnya sebagai orang tua memberi nasihat dahulu sekiranya perkara tersebut tidak berhasil barulah jalan terakhir mengusulkan perceraian. Setengah kes orang tua yang fasik ini sanggup mengunakan khidmat bomoh untuk mengenakan sihir keatas menantunya. Golongan ini adalah melakukan d dosa besar dan akan mengundang kemurkaan Allah s.w.t.
2. Rakan sepejabat yang menghasut pegawai atasan untuk memfitnah dan menimbulkan kebencian supaya rakannya tidak mendapat kenaikan pangkat atau gaji. Golongan ini sentiasa memiliki perasaan hasad dengki ini tidak merasai takut dengan azab Allah.
3. Dalam hidup berpoligami sering kita dengan isteri pertama membenci isteri kedua dan membuka rahsia suaminya dan membuat tuduhan kepada madunya dengan harapan untuk mendapat simpati daripada orang lain. Golongan ini jika tidak bertaubat dan menempah dirinya dengan azab Allah s.w.t kerana ramai wanita memasuki Neraka adalah kerana menyakiti hati suami dan suka mengadu domba.
4. Pemimpin politik sering menyerang peribadi pemimpin lain (berbeza fahaman politik) dan menghasut rakyat supaya membenci musuh politiknya dengan tujuan untuk mendapat pengaruh dan sokongan murahan. Jika yang diceritakan itu tidak benar maka ianya menjadi fitnah dan akan berlakulah pergeseran dan pergaduhan sesama Muslim. Golongan ini di hari akhirat nanti amat mudah menjadi muflis kerana dosa 'kering' yang dilakukan di dunia.
5. Permusuhan dan pulau memulau sesama jiran tetangga atau sekampung kerana berbeza pendapat.Perbezaan ini perlu di atasi supaya dapat mengwujudkan ikatan persaudaraan Islam . Kerana semua orang Muslim adalah bersaudara. Golongan ini jika dibiarkan akan menjadi barah kepada penyatuan umat Islam dan akan mengakibatkan Islam akan hilang kekuatannya.
6. Perselisihan sesama adik- beradik kerana pembahagiaan harta pusaka peninggalan orang tua. Tidak mahu bertolak ansur hingga mengakibatkan terputus dan terungkai ikatan silaturahim dan kasih sayang di antara ahli keluarga. Golongan ke 6 ini amat sesuai dengan hadis Nabi s.a.w. yang menyatakan bahawa tidak akan masuk Syurga sesiapa yang memutuskan ikatan silaturahim.
Sahabat yang dikasihi, Marilah sama-sama kita menjaga akhlak dan peribadi kita untuk sentiasa menghiasi hidup kita dengan sifat-sifat mahmudah dan menjauhi sifat-sifat mazmumah. Sifat suka penghasut, memecah belahkan perpaduan umat Islam, mengumpat, memfitnah dan memutuskan silaturahim adalah sifat-sifat mazmumah. Sifat ini amat dibenci oleh Allah s.w.t. dan Nabi s.a.w sendiri memberi amaran keras kepada sesiapa yang hidupnya menyusahkan orang lain dan menimbulkan perpecahan sesama Muslim. Tidak ada tempat yang layak untuk mereka ini melainkan azab Neraka Jahanam.