Breaking

Kamis, 08 Oktober 2015

Oktober 08, 2015

SYUKURI APA YANG ADA


Syaikh Ali Mustafa Thanthawi -rahimahullah-mengatakan:
Tak seorangpun di dunia ini melainkan pernah bertemu dengan orang yang kondisinya lebih baik atau lebih buruk dirinya.
Bila engkau miskin, pasti ada yang jauh lebih miskin darimu. 
Bila engkau sakit, pasti ada yang sakitnya jauh lebih parah darimu. 
Lalu mengapa engkau lebih sering mengarahkan kepala ke atas untuk memandang orang-orang yang kondisinya lebih baik darimu, ketimbang mengarahkannya ke bawah, agar engkau melihat orang yang kondisinya jauh lebih sulit darimu..?

Bila engkau tau bahwa ada orang yang bisa meraih harta dan kedudukan yang belum bisa kau raih. Padahal bila ditinjau dari aspek kecerdasan, pengetahuan serta kepribadian, levelnya jauh berada dibawahmu. Mengapa engkau tidak mengingat bahwa ternyata ada orang yang levelnya berada di diatasmu atau semisal denganmu dalam hal kecerdasan dan pengetahuan namun dia tidak pernah bisa meraih sebagian dari apa yang sudah engkau raih...?
Falsafah rizki itu sangat sulit untuk dimengerti. Tengoklah kehidupan manusia. Diantara mereka ada para penyelam yang Allah jadikan roti (kehidupannya) berserta segenap keluarga tersimpan jauh di dasar lautan. Mereka takkan bisa meraihnya hingga mereka mau menyelam ke dasar lautan yang dalam.
Ada juga para pilot yang Allah jadikan roti (kehidupannya) berada di atas awan, sehingga mereka tidak mungkin mendapatkannya hingga mereka mau terbang tinggi ke angkasa.

Ada juga yang roti (kehidupannya) tersembunyi di dalam bebatuan yang sangat keras, dimana mereka tidak bisa mendapatkannya kecuali dengan memecah batu-batu itu.
Ada pula orang-orang yang rezeki mereka berada di bawah gorong-gorong air yang kotor, atau di tempat-tempat penambangan yang dalam, dimana wajah mentari dan cahaya siang tak dapat dilihat.
Ada orang yang mendapatkan bagian rezekinya dengan tangan, kaki, lisan dan otaknya. Ada juga yang tidak bisa meraihnya kecuali den mempertaruhkan nyawa dan menghadapkan diri kepada kematian, seperti halnya para pemain sirkus yang selalu saja diburu kematian. Kalau ia tidak mendapati rizkinya dengan cara jatuh bertumpuh di atas kepala, ia mendapatinya ketika berada di antara taring-taring singa atau di bawah kaki-kaki gajah.
Maka bersyukurlah kepada Allah, karena Dia telah menjadikan rezekimu berada di atas meja kerjamu. Kau bisa mendapatkannya sambil duduk di atas kursi. Bersyukurlah karena Dia tidak menjadikan rezekimu berada di puncak-puncak gunung yang tinggi, atau di dasar lautan yang dalam, juga tidak harus berhadapan dengan singa maupun macan.

Beliau juga mengatakan:
Dengan gaji yang sedikit engkau bisa menjadi orang yang paling bahagia, asalkan engkau cerdas mengelola keuanganmu dan ridho terhadap pembagian Robb-mu.
(Syekh Ali Musthafa Thanthawi dalam risalah Ma’a An-Naas hal: 78-79)

via : Ustadz Aan Chandra Thalib
Oktober 08, 2015

- Perbuatan Baik Sejatinya Kembali ke Diri Sendiri -

- Perbuatan Baik Sejatinya Kembali ke Diri Sendiri -
Perbuatan baik yang kita lakukan, sejatinya adalah untuk diri kita sendiri. Kemudian Allah memberikan karuniaNya dengan membalas kebaikan yang kita lakukan untuk diri kita sendiri itu dengan sebaik-baik balasan. Maha Baik nya Allah.
Itulah janji Allah yang tak kan meleset:

وَمَا تُقَدِّمُوا لِأَنفُسِكُم مِّنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِندَ اللَّـهِ هُوَ خَيْرًا وَأَعْظَمَ أَجْرًا
Dan kebaikan yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh balasannya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. (al Muzammil: 20)
Oktober 08, 2015

Gila Itu Macam Macam.

Gila Itu Macam Macam.
Ungkapan di atas adalah arti dari pepatah arab yang berbunyi: 
الجنون فنون
Ada orang gila yg terekspresi dengan bertelanjang ria, ada pula yang dengan memaki maki setiap orang yang dijumpai, ada pula yang dengan berbicara sendiri dan ada pula yang berbicara tanpa kenal aturan dan batasan.

Dan menurut para dokter jiwa, gila itu bertingkat tingkat, ada yang parah seperti yang tergambar pada sikap aneh di atas. Ada pula yang sedang, belum sampai telanjang namun hampir telanjang atau bahkan memakai baju tanpa pernah dicuci.
Ada pula yang ringan, diantaranya dengan berbicara ngelantur alias ngalor ngidul ndak karuan, seakan lupa arah timur dari barat, walaupun penampilannya masih necis bersih dan perlente.
Dari mereka ada yang berkata bahwa istri tetangga adalah istrinya juga, ada lagi yang berkata bahwa ia mengetahui hal gaib, dan ada lagi yang berkata dirinya adalah keturunan malaikat, ada pula yang mengaku sholat subuh di Makkah, Zhuhurnya di Istiqlal Jakarta sedangkan Asharnya di masjid kampungnya. Dan ada pula yang ngakunya baru selesai menunaikan ibadah haji, padahal bukan bulan haji, malah ada pula yang mengaku BISA BERHAJI DUA KALI setahun.

Lebih unik lagi, ada yang mengaku bahwa Ka'bah datang berkunjung ke rumahnya, bukannya ia yang thawaf mengelilingi Ka'bah namun Ka'abahlah yang mengelilingi dirinya.
Dan masih banyak lagi ekspresi penyakit mental alias gila.
Ketika melihat ulah atau mendengar ucapan mereka hanya ada satu sikap yang pantas anda lakukan, yaitu merasa iba kepada mereka dan bersyukur anda selamat dari petaka yang menimpa mereka.

الحمد لله الذي عافاني مما ابتلاك به وفضلني على كثير مما خلق تفضيلا
Segala puji hanyak milik Allah Yang telah menyelamatkan aku dari petaka yang menimpamu, dan benar benar telah memberiku banyak kelebihan dibanding kebanyakan makhluq ciptaan-Nya.
Oktober 08, 2015

- Perayaan Idul Ghodir Perayaan Kekufuran dan Pengkafiran -


Ajaran Islam dan Ajaran agama Syi'ah tidak mungkin bersatu, karena kedua agama ini saling berlawanan dan bertolak belakang.
Agama Islam tidak mungkin tegak kecuali dengan meyakini bahwasanya para sahabat adalah umat terbaik, karena sumber dasar agama Islam adalah Al-Qur'an dan As-Sunnah. Dan tidak mungkin al-Qur'an dan As-Sunnah sampai kepada kita kecuali melalui jalan dan jalur periwayatan para sahabat. Jika para sahabat bukan umat terbaik dan tidak amanah maka gugurlah sumber agama Islam, dan selanjutnya gugurlah agama Islam.
Adapun agama Syi'ah…
Maka agama mereka tidak mungkin tegak kecuali dengan mengkafirkan para sahabat. Karena agama mereka dibangun di atas keimaman (yaitu meyakini dan mengimani para imam dua belas yang mereka akui). Dan imam pertama mereka adalah Ali bin Abi Tholib radhiallahu 'anhu.
Sementara penunjukan Ali sebagai imam oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam adalah tatkala di Ghodiir Khum (suatu tempat yang terletak antara kota Mekah dan Madinah). Penunjukan dan washiat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tersebut disampaikan tatkala Nabi pulang dari haji Wadaa' dihadapan para sahabat. Lalu ternyata para sahabat kompak menyelisihi Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dengan mengangkat Abu Bakar sebagai khalifah. Karenanya mereka mengkafirkan seluruh para sahabat yang setuju dengan pelantikan Abu Bakar sebagai khalifah, yang berarti para sahabat telah bersepakat menolak aqidah keimaman mereka, maka kafirlah para sahabat. Jadi agama Syi'ah tidak mungkin tegak kecuali dengan mengkafirkan para sahabat.
Dari sini sangatlah wajar jika di mata kaum agama Syi'ah, perayaan 'Idul Ghodir lebih utama dari pada hari raya 'Idul Fitri dan 'Idul Adlha !!!
Idul Ghodir Perayaan Kekufuran
Sangatlah jelas bahwa Hari Perayaan Ghodir Khum adalah hari kekufuran, karena hari Ghodir Khum di mata penganut agama Syi'ah adalah hari menjadikan keimaman sebagai rukun Islam yang paling utama. Dari keyakinan inilah timbul berbagai bentuk kekufuran, daintaranya :
Pertama : Mengangkat para imam mereka hingga pada derajat yang berlebihan, seperti meyakini bahwa para imam mereka mengetahui ilmu ghaib bahkan seluruh yang tercatat di al-Lauh al-Mahfuz juga diketahui oleh para imam mereka. Dan ini jelas merupakan kekufuran, karena telah menyatakan ada makhluk yang statusnya sama dengan Allah dalam hal ilmu ghaib.
Kedua : Meyakini bahwa al-Qur'an telah terjadi padanya perubahan dan distorsi, karena menurut agama Syi'ah seharusnya di dalam al-Qur'an terdapat ayat-ayat yang tegas menunjukkan akan aqidah keimaman mereka, akan tetapi dirubah atau disembunyikan oleh para sahabat. Dan keyakinan bahwa Allah tidak menjaga al-Qur'an adalah kekufuran. Demikian juga meyakini al-Qur'an sudah mengalami perubahan dan tidak bisa dijaga keotentikannya juga merupakan kekufuran
Ketiga : Menyatakan bahwa para imam mereka maksum (tidak mungkin salah dalam perkataan dan perbuatan). Ini merupakan kekufuran !!!. Sebab :
- Meyakini ada tokoh yang maksum setelah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pada hakekatnya adalah mencoreng dan merusak fungsi Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam sebagai Nabi terakhir. Sebab jika ada yang maksum setelah Nabi maka perkataan dan perbuatan orang tersebut juga merupakan syari'at yang merupakan sumber hukum baru, karena orang tersebut maksum (terjaga dari kesalahan oleh Allah).
- Oleh karenanya coba kita tanyakan kepada kaum Syi'ah, apa perbedaan antara imam dan Nabi??. Mereka tidak akan bisa menemukan perbedaan, bahkan pernyataan-pernyataan dalam kitab-kitab mereka menunjukkan bahwa imam-imam mereka lebih afdhol daripada para nabi ??!!
- Mencoreng kesempurnaan agama Islam yang telah Allah sempurnakan di akhir hayat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Karena dengan meyakini bahwasanya kedua belas imam mereka maksum, maka ini melazimkan syari'at agama Islam masih belum sempurna, sehingga akan datang syari'at-syari'at baru yang diambil dari perkataan dan perbuatan para imam maksum Syi'ah.
- Oleh karenanya, kalau agama Islam rujukan dasar hukumnya selain al-Qur'an adalah hadits-hadits Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, adapun kaum agama Syi'ah maka rujukan mereka yang paling utama adalah perkataan-perkataan para imam mereka. Perkataan-perkataan para imam mereka menduduki kedudukan hadits-hadits Nabi shallallahu 'alaihi wasallam.

Keempat : Bahkan sebagian Syi'ah ada yang berani menyatakan bahwa :
- Jibril salah dalam menurunkan wahyu, yang seharusnya kepada Ali namun Jibril 'alaihis salam menurunkannya kepada Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam. Keyakinan kufur ini berangkat dari aqidah pengkultusan para imam mereka
- Nabi Muhammad telah salah karena tidak menjelaskan secara gamblang kepada para sahabat bahwa keimaman akan diwariskan kepada Ali bin Abi Tholib.

Idul Ghodir Perayaan Pengkafiran
Dari aqidah keimaman inilah lahirlah bentuk-bentuk pengkafiran yang membabi buta. Diantaranya :
Pertama : Pengkafiran seluruh para sahabat, kecuali hanya empat orang. Hal ini dikarenakan para sahabat telah berkhianat terhadap wasiat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam di Ghodir Khum yang menyatakan bahwa Ali adalah imam penerus Nabi shallallahu 'alaihi wasallam
Kedua : Pengkafiran seluruh muslim yang tidak beriman kepada imam-imam mereka. Karena barang siapa yang tidak beriman kepada imam mereka maka berarti telah meninggalkan rukun Islam yang paling utama, yaitu keimaman.
Dari sini maka ikut merayakan perayaan 'Idul Ghodir, atau ikut membenarkan atau membela 'Idul Ghodir, demikian juga ikut mempromosikan 'idul Ghodir merupakan bentuk ikut serta mensukseskan dan melariskan kekufuran !!!.
Membenarkan diadakannya perayaan 'Idul Ghodir di tanah air adalah bentuk pengkhianatan dan penipuan serta penyesatan kepada rakyat muslim Indonesia !!!
Sebaliknya menolak perayaan 'Idul Ghodir merupakan bukti keimanan, dan pembelaan terhadap agama Islam, pembelaan terhadap al-Qur'an, pembelaan terhadap Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, juga pembelaan terhadap para sahabat yang mulia !!!
via : firanda.com

Oktober 08, 2015

Penjelasan yang menarik tentang akhlak terpuji dari Syaikh Prof. Dr. ‘Abdurrazzaq bin Abdil Muhsin Al Abbad hafizhahullah :

Penjelasan yang menarik tentang akhlak terpuji dari Syaikh Prof. Dr. ‘Abdurrazzaq bin Abdil Muhsin Al Abbad hafizhahullah :
Dari sahabat ‘Abdullah bin Mas’udradhiyallahu ‘anhu, dia berkata :
إنَّ الله تعالى قَسَمَ بينكم أخلاقكم، كما قسم بينكم أرزاقكم
“Sesungguhnya Allah Ta’ala membagi akhlak (yang terpuji) kepada kalian, sebagaimana Allah membagi rezeki kepada kalian” (H.R Bukhari dalamAdabul Mufrad).
Akhlak (yang terpuji) adalah anugerah dari Allah dan merupakan pembagian dari Allah, serta merupakan bentuk keutamaan yang Allah berikan untuk hamba. Allah yang menganugerahi rezeki, Dia pulalah yang menganugerahi akhlak yang terpuji. Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyyah rahimahullah berkata,
فإنَّ الأخلاق مواهب يهب الله منها ما يشاء لمن يشاء
“Sesungguhnya akhlak yang terpuji adalah anugerah yang Allah berikan kepada para hamba sesuai dengan kehendak-Nya”.
Dalam masalah mendapatkan rezeki, dua perkara yang harus ada yaitu bersandarnya hati seorang hamba kepada Allah dan menyerahkan urusan seluruhnya kepada Allah tentang rezekinya serta berusaha mencari rezeki tersebut dengan usaha yang diperbolehkan oleh syariat. Maka demikian pula dalam masalah akhlak yang terpuji, seseorang hendaknya bersandar kepada Allah dalam mendapatkan akhlak dan adab yang terpuj disertai dengan usaha melawan dan menundukkan hawa nafsu untuk mendapatkannya.
Hanya Allah-lah satu-satunya Dzat yang bisa memberi petunjuk