Kamis, 10 Januari 2013

Mengapa Banyak Wanita Menjadi Penghuni Neraka?


Bismillahirrohmanirrohim

Mengapa Banyak Wanita Menjadi Penghuni Neraka?

Sebuah kisah terceritakan bahwa Rasululullah SAW pulang dari Isra’ Mi’raj. Suatu hari, Rasulullah berkumpul dengan para sahabat. Lalu, Rasululullah berujar, “Saya telah melihat surga dan neraka, Wahai Sahabat. Keindahan surga sama sekali belum belum pernah terlintas dalam pikiran manusia. Dan hebatnya neraka pun tak pernah t
erbayangkan pedihnya. Namun, sungguh saya diherankan oleh sebuah pemandangan.”

Mendengar cerita Rasulullah, para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, pemandangan apakah yang engkau lihat?”
“Ternyata, kebanyakan penghuni neraka itu para wanita” jawab Rasulullah. Para sahabat pun terdiam lalu berpikir tentang cerita nabinya. Mengapa justru kebanyakan wanita menjadi penghuni neraka? Bukankah surga itu di bawah telapak kakinya?

Konon wanita tercipta dari tulang rusuk laki-laki. Tulang rusuk itu berbentuk pipih dan melengkung. Jika dipaksakan, tulang rusuk itu mudah patah. Oleh karena itu, tulang rusuk perlu dilindungi agar tidak terkena benda-benda tajam. Mengapa demikian? Karena tulang rusuk itu melindungi organ tubuh yang teramat vital: jantung, hati, dan paru-paru. Apa jadinya jika organ tubuh itu tidak dilindungi? Tentu itu dapat berakibat fatal.

Ciri-ciri tulang rusuk itu sering digunakan sebagai analogi untuk menggambarkan sifat wanita. Konon perasaan wanita itu tajam sekali. Ia mudah tersinggung dan patah hati. Jika sudah tersinggung dan patah hati, wanita itu sulit disembuhkan. Bahkan, banyak wanita memilih hidup sendiri karena merasa dirinya pernah disakiti pasangannya. Sesungguhnya, setiap wanita menyimpan tiga potensi negatif. Mudah-mudahan Anda - para wanita - tidak memiliki satu pun dari ketiganya.

Gemar Menggosip

Gosip atau ngrasani adalah kebiasaan buruk. Menggosip berarti suka membicarakan aib orang lain. Orang yang gemar menggosip berarti melebih-lebihkan berita yang belum tentu benar. Orang yang gemar menggosip berarti bahwa dirinya merasa lebih baik daripada orang yang dibicarakan. Anggapan demikian sudah termasuk ke ranah sombong atau takabur.

Dalam suatu riwayat yang pernah dimuat Republika, dosa orang yang menggosip sulit diampuni Allah SWT. Mengapa? Jika dosa itu dikaitkan dengan Allah, manusia cukup melakukan tiga hal: istighfar, bertaubat, dan berjanji tidak mengulangi dosa lagi. Namun, gosip tidaklah demikikian. Karena gosip dilakukan kepada sesama manusia, pelaku harus meminta maaf kepada orang yang digosipkan dan ia pun diberinya maaf. Tanpa pemberian maaf, penggosip tetap menanggung dosanya. Bagaimana jadinya jika orang yang digosipkan itu sudah meninggal dan kita belum meminta maaf dan kesalahan kita belum dimaafkan?

Gemar Mengumbar Syahwat

Wanita itu makhluk yang teramat indah. Dalam segala sisi, wanita itu memiliki daya magnet yang teramat kuat. Kita dapat menelisik lukisan. Hampir semua kepunyaan wanita dapat menjadi objek indah bagi pelukis untuk menciptakan karya terbaiknya. Bahkan, aktivitas wanita pun tak luput untuk diamati sehingga diperoleh sebuah keindahan. Banyak penyair dan sastrawan menggunakan aktivitas wanita sebagai sumber inspirasi untuk berkarya.

Sayangnya, banyak wanita tidak memelihara keindahan itu. Banyak wanita menjual keindahannya dengan harga yang relatif murah. Bahkan, keindahan yang dimilikinya itu kadang digratiskan. Dengan dalih kebebasan berekspresi atau tuntutan profesi, banyak wanita mengikuti irama zaman. Maka, begitu mudahnya kita menjumpai para wanita yang mengumbar syahwat. Kadang justru wanita sering menyalahkan lelaki yang iseng menggodanya. Maka, saya pun berandai-andai menemukan wanita yang masih berkesadaran tinggi untuk menjaga keindahannya hingga akhir hayatnya.

Tidak Pandai Bersyukur

Rezeki itu sudah diatur Allah SWT. Manusia diperintahkan untuk menjemputnya. Karena kemampuan manusia untuk menjemput rezeki itu berbeda-beda, hasil yang didapatkannya pun berbeda-beda. Kadang manusia mendapatkan banyak rezeki, tetapi sering manusia berpulang dengan tangan hampa. Karena mencari nafkah adalah tugas lelaki, mestinya kondisi itu disadari dengan baik oleh wanitanya. Diberi banyak ya bersyukur dan diberi sedikit pun bersyukur. Mestinya para istri itu mudah berucap terima kasih kepada suaminya, berapa pun sang suami memberikan nafkah.

Namun, sungguh berita pernah tersiarkan dan teramat menyedihkan. Banyak keluarga berantakan karena ekonomi menjadi penyebabnya. Karena sang suami dianggap tidak becus mencari nafkah, sang istri pun mengajukan cerai. Bagi suami, satu kata itu adalah najis yang mesti terhindarkan dari mulut. Namun, berita berkata lain. Maka, mungkin pepatah ada uang abang disayang tak ada uang abang ditendang mengandung kebenaran. Saya merasa kasihan sekali kepada abang tersebut.

Pernikahan bukanlah menyatukan dua perbedaan karena air dan minyak tak mungkin bercampur. Pernikahan hanyalah berfungsi sebagai media untuk memertemukan dua perbedaan. Kelanggengan pernikahan teramat dipengaruhi kesadaran dari masing-masing pihak. Sebaiknya setiap pasangan itu mengutamakan tertunaikannya kewajiban daripada tuntutan atas hak. Kewajiban itu harus dilunasi tetapi hak boleh tidak diminta.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar