Breaking

Senin, 10 Agustus 2015

Agustus 10, 2015

Saat 7 Langkah orang terakhir meniggalkan kubur kita, datanglah Malaikat kepadamu dan bertanya :

Saat 7 Langkah orang terakhir meniggalkan kubur kita, datanglah Malaikat kepadamu dan bertanya :
Tanya : Man Rabbuka? Siapa Tuhanmu?
Jawab : Allahu Rabbi. Allah Tuhanku.
Tanya : Man Nabiyyuka? Siapa Nabimu?
Jawab : Muhammadun Nabiyyi. Muhammad Nabiku
Tanya : Ma Dinuka? Apa agamamu?
Jawab : Al-Islamu dini. Islam agamaku
Tanya : Man Imamuka? Siapa imammu?
Jawab : Al-Qur’an Imami. Al-Qur’an Imamku
Tanya : Aina Qiblatuka? Di mana kiblatmu?
Jawab : Al-Ka’batu Qiblati. Ka’bah Qiblatku
Tanya : Man Ikhwanuka? Siapa saudaramu?
Jawab : Al-Muslimun Wal-Muslimat Ikhwani.
Muslimin dan Muslimah saudaraku.. Jawabannya sangat sederhana bukan? Tapi apakah sesederhana itukah kelak kita akan menjawabnya?
Saat tubuh terbaring sendiri di perut bumi.
Saat kegelapan menghentak ketakutan.
Saat tubuh menggigil gemetaran.
Saat tiada lagi yang mampu jadi penolong. Ya, tak
akan pernah ada seorangpun yang mampu menolong kita.
Selain amal kebaikan yang telah kita perbuat selama hidup di dunia…
Astaghfirullahal ‘Adzim…
Ampunilah kami Ya Allah… Kami hanyalah hamba-Mu yang berlumur dosa dan maksiat..
Sangat hina diri kami ini di hadapan-Mu.. Tidak pantas rasanya kami meminta dan selalu meminta maghfirah-Mu.. Sementara kami selalu melanggar larangan-Mu..
Ya Allah…
Izinkan kami untuk senantiasa bersimpuh memohon maghfirah dan rahmat-Mu..
Tunjukkanlah kami jalan terang menuju cahaya- Mu.. Tunjukkanlah kami pada jalan yang lurus. Agar kami tidak sesat dan tersesatkan… Aaammiiiinn……
Agustus 10, 2015

10 PINTU REZEKI...

10 PINTU REZEKI...
............................
Bismillahirrahmanirrahim.
1. MEMPERBANYAK ISTIGHFAR.
Allah swt berfirman: “Maka Aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Robb mu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun. Nescaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, membanyak harta dan anak-anakmu, mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (Qs. Nuh: 10-12)
Al-Qurtubi berkata, “Dalam ayat ini terdapat dalil yang menunjukkan bahwa istighfar merupakan salah satu cara diturunkan rezeki dan hujan.
Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa memperbanyak istighfar (memohon ampun pada Allah), nescaya Allah menggantikan setiap kesempitan menjadi jalan keluar, setiap kesedihan menjadi kelapangan dan Allah akan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangka.” ( Abu Daud)
2. BERTAKWA KEPADA ALLAH
Allah berfirman: “Barangsiapa bertakwa kepada Allah, nescaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (Qs. Ath-Thalaq: 2-3).
Ibnu Katsir berkata, “Maknanya, barangsiapa yang bertakwa kepada Allah dengan melakukan apa yang diperintahkan Nya dan meninggalkan apa yang dilarang Nya, nescaya Allah akan memberinya jalan keluar, serta rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka, yakni dari arah yang tidak pernah terlintas dalam fikirannya.”
3. BERTAWAKAL KEPADA ALLAH
Nabi Muhammad saw bersabda, “Sungguh, seandainya kalian betawakkal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakkal, nescaya kalian akan diberi rezeki sebagaimana rezeki burung-burung, mereka berangkat pagi-pagi dalam keadaan lapar, dan pulang di petang hari dalam keadaan kenyang.” (Ahmad dan Tirmizi)
4. RAJIN BERIBADAH
Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya Allah berfirman, “Wahai anak Adam!, beribadahlah sepenuhnya kepada Ku, nescaya Aku penuhi (hatimu) di dalam dada dengan kekayaan dan Aku penuhi keperluanmu. Jika kalian tidak lakukan yang sedemikian, nescaya Aku penuhi tanganmu dengan kesibukan dan tidak aku penuhi keperluanmu (kepada manusia).” ( Tirmizi, Ahmad, dan Ibnu Majah).
5. HAJI DAN UMRAH
Firman Allah swt, “Lakukanlah haji dan umrah, kerana sesungguhnya keduanya menghilangkan kemiskinan dan dosa, sebagaimana api dapat menghilangkan karat besi, emas, dan perak. Dan tidak ada pahala haji yang mabrur kecuali syurga.” (Ahmad, Tirmizi, dan An-Nasa`i).
6. MENJAGA SILATURAHIM
Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan diakhirkan ajalnya (dipanjangkan umurnya) maka hendaknya ia menyambung (tali) silaturahim.” (Bukhari).
7. BANYAK BERSEDEKAH
Allah berfirman, “Katakanlah: ‘Sesungguhnya Robb ku melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki Nya di antara hamba-hamba Nya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki Nya)’, dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia lah pemberi rezeki yang sebaik-baiknya.” (Qs. Saba`: 39).
Rasulullah saw bersabda dalam hadis Qudsi, “Wahai anak Adam, bersedekahlah, nescaya Aku memberi rezeki kepadamu.” (Abu Daud).
8. MEMBANTU PENUNTUT ILMU
Disebutkan sebuah kisah, “Dahulu ada dua orang saudara pada masa Rasulullah saw. Salah seorang daripadanya mendatangi nabi dan (saudaranya) yang lain bekerja. Lalu saudaranya yang bekerja itu mengadu pada nabi, maka Baginda saw bersabda, “Mudah-mudahan engkau diberi rezeki dengan sebab dia.” (Tirmizi, Hakim).
9. MEMBANTU ORANG LEMAH
Rasulullah saw bersabda, “Bantulah orang-orang lemah, kerana kalian diberi rezeki dan ditolong lantaran orang-orang lemah di antara kalian.” (Muslim dan An-Nasa`i).
10. BERHIJRAH
“Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, nescaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak.” (Qs. An-Nisa`: 100).
Moga kita sama-sama mengambil manfaat dan diberikan kemudahan oleh Allah untuk melakukannya dengan istiqamah…
Agustus 10, 2015

Kisah Ali bin Abi Thalib Dengan Sepuluh Orang Khawarij

Kisah Ali bin Abi Thalib Dengan Sepuluh Orang Khawarij
Kaum Khawarij pernah mendengar hadis dari Rasulluah yang mengatakan bahwa “Aku adalah kota ilmu, dan Ali adalah pintunya”. Mendengar hadis tersebut, kaum Khawarij ingin menguji Ali dengan beberapa pertanyaan, apa Ali memang benar-benar pintar atau tidak. Kemudian dikumpulkanlah sepuluh golangan dari kaum Khawarij dan diutuslah para pembesar dari sepuluh golongan tersbut. Setiap pembesar akan menanyakan satu pertanyaan yang sama. Kalau semua pertanyaan itu dijawab dengan jawaban yang berbeda, maka Ali memang benar-benar pintar dan alim.
Orang pertama: “Hai Ali, Apa yang lebih utama, Ilmu atau Harta? Ali menjawab: “Ilmu lebih utama dari harta”. Apa alasannya, kata orang khawarij tersebut. Ali menjawab: “Ilmu adalah warisan para Nabi, sedangkan harta adalah warisan dari Qorun, Fir’aun dan lainnya”. Setelah mendapat jawabannya orang tersbut pergi.
Orang kedua: “Hai Ali, Apa yang lebih utama, Ilmu atau Harta? Ali menjawab: “Ilmu lebih utama dari harta”. Apa alasannya, kata orang khawarij tersebut. Ali menjawab: “Kalau Ilmu, ia yang akan menjaga kita, sedangkan harta kita yang menjaganya”. Pulanglah penanya yang kedua dengan jawaban yang berbeda.
Orang ketiga: “Hai Ali, Apa yang lebih utama, Ilmu atau Harta? Ali menjawab: “Ilmu lebih utama dari harta”. Apa alasannya, kata orang khawarij tersebut. Ali menjawab: “Orang yang banyak harta akan mendapat musuh yang banyak, sedangkan orang yang banyak ilmu, akan mendapat teman yang banyak”.
Orang keempat: “Hai Ali, Apa yang lebih utama, Ilmu atau Harta? Ali menjawab: “Ilmu lebih utama dari harta”. Apa alasannya, kata orang khawarij tersebut. Ali menjawab: “Apabila harta digunakan, maka akan berkurang. Tapi kalau ilmu digunakan dan diamalkan akan bertambah”.
Orang kelima: “Hai Ali, Apa yang lebih utama, Ilmu atau Harta? Ali menjawab: “Ilmu lebih utama dari harta”. Apa alasannya, kata orang khawarij tersebut. Ali menjawab: “Orang yang memiliki harta akan mendapat panggilan bakhil, sedangkan orang yang memiliki ilmu akan mendapat panggilan mulia”.
Orang keenam: ““Hai Ali, Apa yang lebih utama, Ilmu atau Harta? Ali menjawab: “Ilmu lebih utama dari harta”. Apa alasannya, kata orang khawarij tersebut. Ali menjawab: “Hara dijaga agar tidak diambil pencuri, tetapi ilmu tidak dijaga dari pencuri”.
Orang ketujuh: “Hai Ali, Apa yang lebih utama, Ilmu atau Harta? Ali menjawab: “Ilmu lebih utama dari harta”. Apa alasannya, kata orang khawarij tersebut. Ali menjawab: “Harta akan dipertanggungjawabkan pada hari kiamat, sedangkan ilmu membawa syafaat pada hari kiamat”.
Orang kedelapan: “Hai Ali, Apa yang lebih utama, Ilmu atau Harta? Ali menjawab: “Ilmu lebih utama dari harta”. Apa alasannya, kata orang khawarij tersebut. Ali menjawab: “Harta akan lenyap ketika habis masanya, sedangkan ilmu tidak akan lenyap”.
Orang kesembilan: “Hai Ali, Apa yang lebih utama, Ilmu atau Harta? Ali menjawab: “Ilmu lebih utama dari harta”. Apa alasannya, kata orang khawarij tersebut. Ali menjawab: “Harta membuat keras hati, sedangkan ilmu menerangi hati”.
Orang kesepuluh: “Hai Ali, Apa yang lebih utama, Ilmu atau Harta? Ali menjawab: “Ilmu lebih utama dari harta”. Apa alasannya, kata orang khawarij tersebut. Ali menjawab: “Orang yang memiliki harta menghambakan diri kepada harta, tetapi orang yang memiliki ilmu adalah orang yang menghambakan diri kepada Allah”.
Berapa pertanyaan pun yang kalian tanyakan kepadaku kata Ali, akan aku jawab dengan jawaban yang berbeda. Karena ilmu itu hidup, tidak pernah mati dan selalu berkembang. Akhirnya, para pembesar Khawarij yang sepuluh orang itu masuk Islam semuanya.
Dari cerita di atas bisa kita ambil hikmah atau pelajaran yang sangat berharga kepada kita. Cerita di atas mengajarkan kepada kita agar senantiasa menuntut ilmu sampai kapan pun, karena ilmu tidak akan pernah mati, ilmu akan selalu hidup dan berkembang terus menerus. Cerita tersebut juga mengajarkan kepada kita agar senantiasa lebih mengutamakan ilmu dari pada harta, karena ilmu sifatnya abadi, sedangkan harta sifatnya hanya sementara dan akan musnah mengikuti zaman.
Untuk itu, marilah kita senantiasa menuntut ilmu, karena dengan ilmu kita akan memperoleh harta, jabatan, kekuasaan, dan lain sebagainya. Orang yang berilmu akan mendapat derajat yang tinggi, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Mudah-mudahan kita termasuk orang yang lebih mengutamakan ilmu daripada harta. Amin ya rabbal ‘alamin……
cerita hasil terjemahan dari kitab Al-Mawaizu Al-‘Ushfuriyyah
Agustus 10, 2015

CARA MUDAH MENIKMATI MUSIBAH

CARA MUDAH MENIKMATI MUSIBAH
Bismillahir-Rahmaanir-Rahim ..... Musibah selalu datang dan pergi, menghiasi hari-hari dalam kehidupan manusia. Ada yang menghadapi dan menyikapinya secara arif, sehingga musibah itu mendatangkan berb
agai kebaikan.
Tapi tidak sedikit yang keliru menyikapinya, sehingga musibah justru semakin memperpanjang penderitaan. Tentu kita ingin sekali mengetahui dan meng uasai sikap positif dalam menghadapi musibah.
Tapi sebelumnya, mari kita waspadai dahulu beberapa sikap yang keliru menghadapi musibah.
1. Memandang musibah sebagai kekejaman Allah Subhanahu wa Ta’ala (SWT) atau kebencian Allah SWT terhadap manusia. Seakan-akan Allah SWT tidak memiliki kasih sayang. Maka musibah tidak membuatnya menjadi sadar serta menyesali kekhilafannya, tetapi membuatnya semakin membenci dan menjauhi Allah SWT. Inilah yang dinyatakan oleh Allah SWT dalam firman-Nya:
“Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezkinya maka dia berkata: “Tuhanku menghinakanku.” (Al-Fajr [89]: 16)
2. Tidak mau mengambil pelajaran. Bisa jadi sesungguhnya musibah datang akibat sikap dan perbuatan kita yang lalai atau banyak berbuat zalim karena mengikuti hawa nafsu. Karena itu musibah sebenarnya berfungsi untuk menyadarkan kita dari kesalahan ini. Tapi, banyak di antara manusia yang mengabaikannya. Fiman Allah SWT:
“Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar” (Al-Baqarah [2]: 12)
3. Merasa kecewa dan sedih yang mendalam dan berlarut-larut. Inilah yang menjadi respon otomatis kebanyakan orang ketika tertimpa musibah. Mereka mengeluh sepanjang waktu dan menyalahkan orang lain. Bahkan tidak sedikit yang berputus asa. Padahal sikap seperti ini tidak sedikitpun bisa mengubah musibah yang telah berlalu. Firman Allah SWT:
“Dan jika Kami rasakan kepada manusia suatu rahmat (nikmat) dari Kami, kemudian rahmat itu Kami cabut daripadanya, pastilah dia menjadi putus asa lagi tidak berterima kasih” (Hud [11]: 9)
4. Menolak musibah dengan berbuat syirik. Sering kali kita saksikan kejahilan terjadi di tengah masyarakat yang terkadang dilakukan bukan oleh orang-orang awam saja, tetapi juga orang-orang berpendidikan. Misalnya tradisi memulai pembangunan gedung atau jembatan dengan menanam kepala kerbau, sedekah bumi, nyadran, larung sesaji, dan sejenisnya untuk menghindari bencana.
Padahal semua itu jelas-jelas tindakan bodoh karena tidak ada yang dapat memberikan manfaat serta madharat selain Allah SWT. Permohonan keselamatan kepada selain Allah SWT merupakan perbuatan syirik yang sangat dibenci-Nya. Alih-alih dapat menyelamatkan musibah, malah justru mengundang kemurkaan Allah SWT.
5. Menyesal ketika musibah datang, tetapi mengulang kembali kesalahan yang sama setelah waktu berlalu. Banyak di antara kita yang begitu ketakutaan, memohon pertolongan dan ampunan Allah SWT saat-saat musibah itu datang. Tetapi setelah beberapa saat musibah itu berlalu kita melupakannya, dan kembali seperti semula. Firman Allah SWT:
“Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan” (Yunus [10]: 12)
Tips Praktis menikmati Musibah ...
1. Muhasabah Diri ...
Lakukan muhasabah (evaluasi diri) mengapa musibah itu terjadi? Adakah itu merupakan ujian yang diberikan Allah SWT untuk kita sebagai peningkatan kualitas keimanan? Atau musibah tersebut merupakan teguran atas kekeliruan kita dalam mengelola serta memanfaatkan sumber-sumber daya yang diamanahkan kepada kita, serta atas kesalahan dan dosa-dosa yang kita lakukan kepada Allah SWT?
Muhasabah ini sangat penting agar kita menyadari titik kesalahan dan kekeliruan kita. Sehingga kita dapat bertindak lebih baik di masa-masa selanjutnya.
2. Menerima dengan Ridha ...
Terimalah musibah yang kita hadapi dengan hati yang ridha. Jikapun kita tidak ridha dengan apa yang terjadi, hal itu tidak akan bisa mengubah apa yang telah berlalu. Dengan keridhaan justru hati menjadi tenang, pikiran menjadi jernih dan lapang untuk menemukan solusi.
Sehingga kita dapat bangkit dengan penuh ketegaran melewati musibah tersebut. Sikap ridha juga akan mendatangkan keridhan serta rahmat Allah SWT atasnya. Firman Allah SWT:
“Jikalau mereka sungguh-sungguh ridha dengan apa yang diberikan Allah dan Rasul-Nya kepada mereka, dan berkata: “Cukuplah Allah bagi kami, Allah akan memberikan kepada kami sebagian dari karunia-Nya dan demikian (pula) Rasul-Nya, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berharap kepada Allah.” (At-Taubah [9]: 59)
3. Bersabar ...
Musibah itu selalu terasa pahit dan tidak menyenangkan. Tetapi orang yang sabar akan berusaha menahan perasaan pahit itu dengan ketegaran dan keteguhan hati. Ia menahan diri untuk tidak mengeluh, bersedih yang berkepanjangan atau meratapinya.
Hal ini akan berbuah kecintaan Allah SWT, di mana Dia kemudian akan menggantinya dengan pertolongan serta ganjaran Surga.
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam (SAW) bersabda: “Setiap sesuatu yang menimpa seorang muslim, seperti kelelahan dan penyakit, juga kegelisahan dan kesedihan, serta aniaya atau kegalauan; hingga duri yang mengenainya, niscaya Allah hapuskan dosa-dosanya.”
4. Bertaubat jika Bersalah ...
Adakalanya musibah itu diberikan oleh Allah SWT untuk mengingatkan kita atas kesalahan dan kekeliruan yang kita lakukan. Maksudnya adalah agar kita segera sadar dan kembali ke jalan yang benar.
Jika kita telah menyadari bahwa ada kekhilafan yang telah kita lakukan, maka bersegeralah untuk bertaubat, yaitu dengan menyesali kesalahan tersebut, berjanji untuk tidak mengulanginya dan berusaha untuk menggantinya dengan amal yang lebih baik.
5. Memahami Sunnatullah ...
Boleh jadi ibadah kita sudah mantap, akhlak juga sudah baik, tetapi jika perilaku kita terhadap lingkungan di sekitar kita tidak sesuai dengan sunnatullah, maka musibah pun akan tetap datang. Maka kita harus memperbaiki perilaku kita agar tidak bertentangan dengan sunnatullah.
6. Besyukur ...
Seorang mukmin yang memiliki kualitas iman yang tinggi bukan saja menerima musibah yang datang dengan sabar serta ridha, bahkan dia dapat bersyukur. Dia menyadari bahwa sesungguhnya musibah yang ditimpakan kepadanya sesungguhnya masih belum seberapa dibandingkan dengan yang diterima orang lain.
Ini akan menjadikan ia terus bersyukur, karena merasa Allah SWT masih sayang kepadanya. Ia yakin masih ada nikmat iman dan Islam yang lebih berharga dari dunia dan seluruh isinya.
7. Tetap Optimis ...
Tidak ada alasan untuk berputus asa, harapan hari esok lebih baik selalu terbuka. Kesenangan itu tidak akan terasa jika tidak ada kesedihan. Sehat juga tidak akan terasa jika tidak ada sakit.
Harapan yang baik pasti diberikan Allah SWT kepada setiap orang, sebagaimana dijanjikan oleh-Nya:
“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan” (Al-Insyirah [94]: 5-6).
8. Mendekatkan diri kepada Allah ...
Puncak dari semua ikhtiar yang kita lakukan untuk menghindari dan menerima musibah itu dengan sebaik-baiknya adalah mendekatkan diri kepada Allah SWT. Kita sadar bahwa Dia mencintai dan menyayangi kita.
Maka, apa pun yang diberikan, kita tidak akan menolak-Nya. Dan kita akan tetap setia untuk mencintai-Nya, mentaati perintah-Nya serta meninggalkan larangan-Nya.
Benarlah apa yang disabdakan oleh Baginda Rasulullah SAW: “Alangkah menakjubkannya kondisi orang yang beriman, karena seluruh urusannya adalah baik. Dan hal itu hanya terjadi pada orang-orang yang beriman.
Yaitu jika ia mendapatkan kesenangan maka ia bersyukur, dan itu adalah kebaikan baginya. Dan jika ia tertimpa kesulitan maka iapun bersabar; dan itu menjadi kebaikan baginya.”
Wallahu a’lam bish shawab... Semoga kita dapat mengambil pengetahuan yang bermanfaat dan bernilai ibadah ..
Wabillahi Taufik Wal Hidayah, ...
Salam Terkasih .. Dari Sahabat Untuk Sahabat ...
... Semoga tulisan ini dapat membuka pintu hati kita yang telah lama terkunci ...
~ o ~
Salam santun dan keep istiqomah ...
--- Jika terjadi kesalahan dan kekurangan disana-sini dalam catatan ini ... Itu hanyalah dari kami ... dan kepada Allah SWT., kami mohon ampunan ... ----
Semoga bermanfaat dan Dapat Diambil Hikmah-Nya ... Silahkan DICOPAS atau DI SHARE jika menurut sahabat note ini bermanfaat ....
Agustus 10, 2015

Tafsir surah Al Ghaasyiyah (Hari Kiamat) 1 - 7

Tafsir surah Al Ghaasyiyah (Hari Kiamat) 1 - 7
1. Sudahkah sampai kepadamu berita tentang hari Kiamat
Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyebutkan beberapa peristiwa pada hari Kiamat dan bahwa
malapetakanya menimpa makhluk secara merata.
Hari Kiamat disebut Al Ghaasyiyah, karena malapetakanya merata menimpa makhluk.
2. Pada hari itu banyak wajah yang tertunduk terhina.
Pada hari Kiamat, manusia terbagi menjadi dua golongan; golongan penghuni surga dan golongan
penghuni neraka. Adapun golongan yang menjadi penghuni neraka maka sebagaimana diterangkan dalam
ayat di atas wajahnya tertunduk hina.
Karena hina dan terbuka aibnya.
3. (karena) bekerja keras lagi kepayahan.
Menurut Syaikh As Sa’diy, yakni kelelahan dalam azab sambil menyeret mukanya, sedangkan mukanya
diliputi oleh api. Bisa juga maksud firman Allah Ta’ala, “Pada hari itu banyak wajah yang tertunduk
terhina-- (karena) bekerja keras lagi kepayahan.” Adalah di dunia, karena keadaan mereka di dunia sebagai
ahli ibadah dan suka beramal, namun karena tidak ada syaratnya, yaitu iman, maka pada hari Kiamat menjadi
debu yang dihambur-hamburkan. Maksud ini meskipun secara makna bisa saja, namun tidak ditunjukkan
oleh siyaaqul kalaam (susunan kalimatnya), bahkan yang benar dan sudah pasti adalah maksud pertama
karena dibatasi dengan zharf (keterangan waktunya), yaitu pada hari Kiamat. Di samping itu, maksud yang
diinginkan di sini adalah menerangkan sifat penghuni neraka secara umum, sedangkan kemungkinan
maksudnya seperti itu adalah bagian kecil dari penghuni neraka jika melihat kepada para penghuninya.
Demikian juga karena kalimatnya sedang menerangkan meratanya malapetaka hari Kiamat, sehingga tidak
ada pembicaraan mengenai keadaan mereka di dunia.
4. mereka memasuki api yang sangat panas (neraka).
Yang meliputi mereka dari segala tempat.
5. diberi minum dari sumber mata air yang sangat panas.
Dalam ayat lain disebutkan, “Jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan
air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat
istirahat yang paling jelek.” (Terj. Al Kahfi: 29).
6.Tidak ada makanan bagi mereka selain dari pohon yang berduri,
7. yang tidak menggemukkan dan tidak menghilangkan lapar
Tujuan dari makan adalah agar tercapai salah satu di antara kedua tujuan ini; menghilangkan lapar atau
menggemukkan badannya dari kurus. Adapun makanan penghuni neraka, maka tidak dapat memenuhi tujuan
itu, bahkan makanannya pahit, bau dan busuk, nas’alullahas salaamah wal ‘aafiyah.