Breaking

Jumat, 18 September 2015

September 18, 2015

- Keajaiban Onta -

- Keajaiban Onta -
Dalam rutinitas jumatan, kita pasti akan mendengar sang imam membaca surat al-Ghasyiyah. Dalam surat ini, Allah menyebutkan beberapa ciptaan-Nya, yang itu menjadi bukti betapa Kuasa Sang Penciptanya.
Di surat al-Ghasyiah, Allah berfirman,
أَفَلَا يَنْظُرُونَ إِلَى الْإِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْ . وَإِلَى السَّمَاءِ كَيْفَ رُفِعَتْ . وَإِلَى الْجِبَالِ كَيْفَ نُصِبَتْ . وَإِلَى الْأَرْضِ كَيْفَ سُطِحَتْ
Apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan, dan langit, bagaimana ia ditinggikan? dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan? dan bumi bagaimana ia dihamparkan? (QS. Al-Ghasyiyah: 17 – 20)
Kita mungkin akan bertanya, mengapa 4 makhluk ini yang disebutkan? Bukankah masih ada makhluk besar lainnya, selain onta atau gunung, yang layak disebutkan? Misalnya saja, matahari atau bulan, atau lautan.
Al-Quran Allah turunkan di tengah masyarakat arab, terutama daerah Hijaz (Mekah dan Madinah). Masyarakat Hijaz dikelilingi dengan pegunungan, dan padang gersang. Mereka bukan makhluk pesisir pantai, bukan pula masyarakat petani sawah. Karena itulah, yang mereka lihat setiap harinya sekitar 4 benda itu: onta sebagai kendaraan utama mereka, langit yang tinggi berikut isinya, pegunungan yang menjulang, dan hamparan bumi sebagai pijakannya. Inilah rahasia, mengapa Allah menyebutkan 4 makhluk ini secara bergandengan, agar mereka bisa merenungkannya.
Selanjutnya, dari keempat makhluk yang disebutkan itu, satu-satunya yang tergolong makhluk hidup adalah onta. Untuk itu, pembahasan kita kerucutkan ke onta. Jika kita perhatikan karakter onta, yang terbayang di benak kita adalah binatang penyabar dan tenang. Hidup di tengah alam yang sangat keras, padang pasir yang menantang.
Onta memiliki peran besar bagi masyarakat Jazirah arab. Onta menjadi kendaraan utama mereka untuk bisa melakukan perjalanan mengarungi samudera gurun pasir.
Karena saking pentingnya onta bagi masyarakat arab, mereka menyebutnya dengan nama-nama yang beragam. Seperti yang kita tahu, jika ada sesuatu yang sangat penting bagi masyarakat, mereka akan memberikan banyak nama untuk sesuatu itu.
Menurut catatan lembaga kemukjizatan al-Quran, bahwa sebagian ahli bahasa menyebutkan, ada sekitar 6000 kata dalam bahasa arab untuk menyebut onta. Diantara yang disebutkan di al-Quran: Ibil [arab:الإبل], naqah [arab: الناقة], jamal [arab: الجمل], Iir [arab: الْعِيرُ], Him [arab:الهيم], An’am [arab: الانعام], dan Ba’ir [arab: البعير]. Dan masing-masing nama, tentu saja memiliki karakter yang berbeda.
Kuatnya Onta
Dalam surat al-Ghasyiyah, Allah mengajak kita untuk merenungkan, bagaimana unta itu diciptakan.
أَفَلَا يَنْظُرُونَ إِلَى الْإِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْ
Perhatikan, bagaimana Allah menciptakan onta, sehingga dia menjadi hewan yang demikian kuat. Yang secara secara ukuran tentu saja jauh di bawah gajah, kulitnya tidak setebal badak, dan larinya tak sekencang kuda. Namun hewan ini mampu menjadi kendaraan utama mengarungi padang pasir yang demikian menakutkan.
Menurut catatan lembaga kemukjizatan al-Quran (al-Haiah al-Alamiyah lil I’jaz al-Ilmi fi al-Quran wa as-Sunnah) bahwa onta mampu berjalan sejauh 50 mil (sekitar 80 km) sehari, dengan kondisi bertahan tanpa makan dan minum selama 5 hari. Itu artinya dia mampu menempuh 250 mil (sekitar 400 km) tanpa bekal makan dan minum. Dan jarak itu sama dengan jarak antara Mekah dan Madinah. Tapi perlu juga dicatat, onta mampu minum hingga 200 liter air. Kira-kira satu drum.
Disamping itu, onta juga mampu berjalan sejauh 20 mil dalam sehari dengan membawa beban seberat 500 kg (½ ton), tanpa makan dan minum selama 3 hari berturut-turut. Subhanallah…, bukankah ini menunjukkan betapa Maha Kuasanya Dzat yang Menciptakannya. Pantas saja jika Allah mengajak kita untuk merenungkan penciptaan onta ini.
Onta Bagaikan Perahu
Diantara keunikan onta yang Allah sebutkan dalam al-Quran,
وَإِنَّ لَكُمْ فِي الْأَنْعَامِ لَعِبْرَةً نُسْقِيكُمْ مِمَّا فِي بُطُونِهَا وَلَكُمْ فِيهَا مَنَافِعُ كَثِيرَةٌ وَمِنْهَا تَأْكُلُونَ . وَعَلَيْهَا وَعَلَى الْفُلْكِ تُحْمَلُونَ
Sesungguhnya pada binatang-binatang ternak, benar-benar terdapat pelajaran yang penting bagi kamu, Kami memberi minum kalian dari air susu yang ada dalam perutnya, dan (juga) pada binatang-binatang ternak itu terdapat faedah yang banyak untuk kamu, dan sebagian daripadanya kamu makan, dan di atas punggung binatang-binatang ternak itu dan (juga) di atas perahu-perahu kamu diangkut. (QS. Al-Mukminun: 21 – 22)
Kita akan menggaris bawahi kalimat, ”di atas punggung binatang-binatang ternak itu dan (juga) di atas perahu-perahu kamu diangkut”
Dalam ayat itu, Allah mensejajarkan onta dengan perahu dari sisi rasa ketika manusia menungganginya. Orang yang naik onta, rasanya seperti naik perahu. Dihuyun-huyun dengan model jalannya onta, layaknya dihuyun ombak ketika naik perahu.
Jika kita perhatikan, cara jalan onta berbeda dengan cara jalan umumnya binatang berkaki empat. Onta berjalan yang kita sebut seperti robot: tangan dan kakinya maju bersamaan. Tangan kanan maju dengan kaki kanan, tangan kiri maju dengan kaki kiri.
Ini berbeda dengan umumnya binatang, mereka kaki tangan ketika berjalan sifatnya bersilang. Tangan kanan maju bersama kaki kiri, atau tangan kiri maju bersama kaki kanan.
Dengan cara jalan yang demikian, orang yang naik onta terhuyun-huyun seperti naik perahu.
Tunduk Kepada Manusia
Onta termasuk binatang yang sama sekali tidak memiliki senjata, tidak bertanduk, tidak bertaring dan tidak bercakar. Meskipun demikian, jika manusia bertarung dengan onta, sama-sama tidak membawa senjara, jelas kita akan kalah. Karena dia jauh lebih kuat dibandingkan kita.
Di sini, Allah ingatkan tanda kekuasan-Nya kepada kita. Onta yang demikian kuat, menjadi begitu tunduk kepada manusia. Tidak liar, dan tidak berontak, ataupun melawan.
أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّا خَلَقْنَا لَهُمْ مِمَّا عَمِلَتْ أَيْدِينَا أَنْعَامًا فَهُمْ لَهَا مَالِكُونَ . وَذَلَّلْنَاهَا لَهُمْ فَمِنْهَا رَكُوبُهُمْ وَمِنْهَا يَأْكُلُونَ
Apakah mereka tidak melihat bahwa Sesungguhnya Kami telah menciptakan binatang ternak untuk mereka Yaitu sebahagian dari apa yang telah Kami ciptakan dengan kekuasaan Kami sendiri, lalu mereka menguasainya? ( ) dan Kami tundukkan binatang-binatang itu untuk mereka; Maka sebahagiannya menjadi tunggangan mereka dan sebahagiannya mereka makan. (QS. Yasin: 71 – 72)
Yang lebih mengherankan, cara menyembelih onta, jauh lebih mudah dibandingkan cara menyembelih sapi. Karena onta ini disembelih dengan posisi berdiri. Mengenai tata caranya, Anda bisa lihat di:http://www.youtube.com/watch?v=aBlh-UlxNg0
Kaitannya dengan ini, Allah ingatkan,
وَالْبُدْنَ جَعَلْنَاهَا لَكُمْ مِنْ شَعَائِرِ اللَّهِ لَكُمْ فِيهَا خَيْرٌ فَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهَا صَوَافَّ فَإِذَا وَجَبَتْ جُنُوبُهَا فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْقَانِعَ وَالْمُعْتَرَّ كَذَلِكَ سَخَّرْنَاهَا لَكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
Telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebahagian dari syi’ar Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya. Sebutlah nama Allah ketika kamu menyembelihnya dalam keadaan berdiri (terikat satu kaki). Kemudian apabila telah roboh (mati), Maka makanlah sebahagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta. Demikianlah Kami telah menundukkan untua-unta itu kepada kamu, Mudah-mudahan kamu bersyukur. (QS. Al-Haj: 36).
Karena begitu mudahnya cara menyembelih onta, Allah ingatkan nikmat itu dengan Allah akhiri firman-Nya, ”Demikianlah Kami telah menundukkan untua-unta itu kepada kamu”.
Sebenarnya masih banyak yang bisa kita lagi, semoga paparan di atas sudah cukup bagi kita untuk semakin termotivasi mengagungkan Allah Sang Pencipta semesta alam.
September 18, 2015

- Allah atau Alloh? -

- Allah atau Alloh? -
Ya ustadz, mana yg benar penulisan kata Allah atau Alloh. Syukron
Jawaban:
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,
Berikut penjelasan Imam Abul Baqa’ al-Ukbari tentang asal usul kata ‘الله’,
والأصل في الله الإلاه فألقيت حركة الهمزة على لام المعرفة ثم سكنت وأدغمت في اللام الثانيى ثم فخمت إذا لم يكن قبلها كسرة ورققت إذا كانت قبلها كسرة ومنهم من يرققها في كل حال، والتفخيم في هذا الاسم من خواصه
Asal kata ‘الله’ adalah al-ilah [arab: الإلاه] kemudian huruf hamzah di depan dibuang, kemudian lam pertama disukun dan dimasukkan ke lam kedua, lalu dibaca tebal (tafkhim) jika sebelumnya bukan kasrah, dan dibaca tipis (tarqiq) jika sebelumnya kasrah. Dan ada diantara mereka yang membaca tipis (tarqiq) dalam setiap keadaan.
Dan tafkhim (dibaca tebal) untuk kata ini, bagian dari kekhususan lafdzul jalalah. (at-Tibyan fi I’rab al-Quran, hlm. 2).
Contoh kata Allah yang dibaca tebal (tafkhim)
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ
Kita baca: qul huwa-llohu ahad, kata Alloh dibaca tebal.
Contoh kata Allah yang dibaca tipis (tarqiq)
Lillahu mulkus samawati : لِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ
Haajaruu fillaahi : هَاجَرُوا فِي اللَّهِ
Bagaimana cara penulisan ‘Allah’ yang benar?
Kata Allah termasuk salah satu dari sekian kata dalam bahasa arab yang menjadi kita dalam bahasa Indonesia
Mengingat huruf bahasa Indonesia dan huruf bahasa arab berbeda, masyarakat akan sangat kerepotan jika harus menuliskan kalimat ini dengan teks arabnya. Sehingga kita perlu melakukan transliterasi untuk menuliskan kata ini dengan huruf latin.
Karena itu, sebenarnya mengenai bagaimana transliterasi tulisan [اللَّهُ] yang tepat, ini kembali kepada aturan baku masalah transliterasi kata asing dalam bahasa kita. Bagi sebagian orang, baku itu bukan suatu keharusan. Yang penting masyarakat bisa memahami.
Sebagai catata, transliterasi kalimat bahasa asing, dibuat untuk membantu pengucapan kalimat asing itu dengan benar. Anda bisa bandingkan, transliterasi teks arab untuk masyarakat berbahasa inggris dengan transliterasi teks arab untuk orang Indonesia. Karena semacam ini disesuaikan dengan fungsinya, yaitu untuk membantu pengucapan kalimat arab tersebut dengan benar.
Dengan demikian, sebenarnya transliterari kata [اللَّهُ] tidak bisa diberikan penilaian benar dan salahnya tulisan. Karena tidak ada aturan yang disepakati di sana. Semua kembali kepada selera penulis. Misalnya ditulis Allah, Alloh, ALLOH atau ALLAH. Yang lebih penting adalah bagaimana cara pengucapannya yang tepat, sehingga tidak mengubah makna.
September 18, 2015

# Akibat Mengumbar Pandangan #

# Akibat Mengumbar Pandangan #
Ibnul Qayyim rahimahullah :
« ليس على العبد شيء أضر من إطلاق البصر؛ فإنه يوقع الوحشة بين العبد وبين ربه »
"Tidak ada sesuatu yang lebih berbahaya bagi seseorang daripada mengumbar pandangan. Karena dapat menjauhkan hubungan seseorang dengan Rabb-nya."
(الداء والدواء، ص. ٤١٦)
via : Ustadz Didik Suyadi
September 18, 2015

- Diantara Adat Jahiliyah bagian 2 -

- Diantara Adat Jahiliyah bagian 2 -
Sesungguhnya, masa fatrah (masa tidak adanya rasul) terus berlangsung di tengah bangsa Arab dalam jangka waktu yang begitu panjang, tanpa turunnya wahyu ilahi dan tidak pula ada pengemban hidayah (hidayah al-irsyad). Kurun waktu itu terjadi antara masa kenabian Ismail ‘alaihissalam dan masa kenabian Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sang penutup para nabi. Oleh sebab itu, beragam adat kebiasaan buruk pun mulai bermunculan di tengah masyarakat Arab jahiliah. Adat kebiasaan baik yang dahulunya ada, akhirnya tertutupi oleh adat kebiasaan buruk yang mulai mendominasi.
Adat buruk bangsa Arab jahiliah (bagian 2)
8. Menjajakan para budak perempuan sebagai pelacur. Di depan pintu rumah si budak perempuan akan dipasang bendera merah, supaya orang-orang tahu bahwa dia adalah pelacur dan para lelaki akan mendatanginya. Dengan begitu, budak perempuan tersebut akan menerima upah berupa harta yang sebanding dengan pelacuran yang telah dilakukannya.
9. Fanatisme golongan. Islam datang memerintahkan seseorang menolong saudaranya sesama muslim, dekat maupun jauh, karena “al-akh” (saudara) yang dimaksud dalam pembahasan ini adalah saudara seislam. Oleh sebab itu, pertolongan kepadanya –jika dia dizalimi– adalah dengan menghapuskan kezaliman yang menimpanya. Adapun pertolongan yang diberikan kepadanya kala dia berbuat zalim berupa tindakan melarang dan mencegahnya agar tak berbuat zalim. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (dalam riwayat Bukhari),
انصر أخاك ظالما أو مظلوما. فقيل: يا رسول الله أنصنره إذا كان مظلوما فكيف أنصره إذا كان ظالما؟ قال: تحجزه عن الظلم.

“Tolonglah saudaramu, baik dia menzalimi ataupun dizalimi.” Kemudian ada yang mengatakan, “Wahai Rasulullah, kami akan menolongnya (saudara kami) jika dia dizalimi, maka bagiamana cara kami akan menolongnya jika dia menzalimi?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Engkau mencegahnya supaya tak berbuat zalim.”
10. Saling menyerang dan memerangi satu sama lain, untuk merebut dan merampas harta. Suku yang kuat memerangi suku yang lemah untuk merampas hartanya. Yang demikian ini terjadi karena tidak ada hukum maupun peraturan yang menjadi acuan pada mayoritas waktu di sebagian besar negeri. Di antara perperangan mereka yang paling terkenal adalah:- Perang Dahis dan Perang Ghabara’ yang berlangsung antara Suku ‘Abs melawan Suku Dzibyan dan Fizarah;
– Perang Basus, sampai-sampai dikatakan, “Perang yang paling membuat sial adalah Perang Basus yang berlangsung sepanjang tahun. Perang ini terjadi antara Suku Bakr dan Taghlub;”

– Perang Bu’ats yang terjadi antara Suku Aus dan Khazraj di kota Al-Madinah An-Nabawiyyah;
– Perang Fijar yang berlangsung antara Qays ‘Ilan melawan Kinanah dan Quraisy. Disebut “Perang Fijar” karena terjadi saat bulan-bulan haram. Fijar (فِجار ) adalah bentukan wazan فَعَّال dari kata fujur (فجور ); Mereka telah sangat mendurhakai Allah (sangat fujur) karena berani berperang pada bulan-bulan yang diharamkan untuk berperang.
11. Enggan mengerjakan profesi tertentu, karena kesombongan dan keangkuhan. Mereka tidaklah bekerja sebagai pandai besi, penenun, tukang bekam, dan petani. Pekerjaan-pekerjaan semacam itu hanya diperuntukkan bagi budak perempuan dan budak laki-laki mereka. Adapun bagi orang-orang merdeka, profesi mereka terbatas sebagai pedagang, penunggang kuda, pasukan perang, dan pelantun syair. Selain itu, di tengah bangsa Arab jahiliah tumbuh kebiasaan berbangga-bangga dengan kemuliaan leluhur dan jalur keturunan.
via : muslimah.or.id
September 18, 2015

- Kapan gerakan itu bisa membatalkan shalat? -

- Kapan gerakan itu bisa membatalkan shalat? -
Imam Ibnu Al-Utsaimin menjelaskan bahwa gerakan selain bagian dari shalat, yang dilakukan ketika shalat tidak secara mutlak bisa membatalkan shalat. Gerakan itu terhitung membatalkan shalat jika terpenuhi beberapa syarat. Beliau menyebutkan,
الشُّروط لإِبطال الصَّلاة بالعمل الذي مِن غير جنسها أربعة:
1 ـ أنه كثير.
2 ـ من غير جنس الصَّلاة.
3 ـ لغير ضرورة.
4 ـ متوالٍ، أي: غير متفرِّق
Syarat batalnya shalat karena melakukan gerakan selain bagian dari shalat ada empat:
1. Sering
2. Bukan bagian dari gerakan shalat
3. Tidak ada kebutuhan mendesak
4. Berturut-turut, artinya tidak terpisah.
(As-Syarh al-Mumthi’, 3/354)
Beliau juga menjelaskan,
Jika gerakan yang banyak tersebut dilakukan secara terpisah-pisah maka tidak membatalkan sholat. Jika ia bergerak tiga kali pada raka’at yang pertama, kemudian bergerak lagi tiga kali di rakaat kedua, kemudian bergerak tiga kali juga di rakaat ketiga, dan bergerak juga tiga kali di rakaat keempat, maka jika seandainya gerakan-gerakan ini digabung tentunya banyak gerakannya, akan tetapi tatkala gerakan-gerakan tersebut terpisah-pisah maka jadi sedikit jika ditinjau pada setiap rakaat masing-masing, dan hal ini tidak membatalkan sholat. (Syarhul Mumti’ 3/351).