Breaking

Rabu, 12 Agustus 2015

Agustus 12, 2015

Apa Arti Zakat?

APA ARTI ZAKAT?

 
 
عنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رضى الله عنه أَنَّ النَّبِىَّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيهِ إِلاَّ وَمَلَكَانِ يَنْزِلاَنِ فَيَقُولُ أَحَدُهُمَا : اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا ، وَيَقُولُ الآخَرُ : اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا (رواه البخاري ومسلم)
 
Rasulallah saw bersabda: Setiap pagi hari turun dua malaikat kepada hamba2-Nya, kemudian salah satunya berdoa: “Ya Allah, berilah ganti kepada orang yang berinfaq (dermawan).” Sedangkan yang lain berdoa: “Ya Allah berilah kehancuran kepada orang yang tidak berinfak (pelit)”
 
Zakat dalam bahasa artinya pembersihan, penumbuhan atau pengembangan dan dalam ilmu fiqih adalah pengambilan tertentu dari harta tertentu untuk diberikan kepada golongan tertentu dengan niat.
 
Zakat adalah rukun islam ketiga diwajibkan pada tahun kedua Hijrah atas orang yang cukup syarat-syaratnya walau pun orang itu anak kecil atau gila. Dan bagi yang mengingkari zakat dikatagorikan kafir. Perintah zakat yang digandengkan dengan perintah sholat dalam Al Qur’an terdapat 82 kali. Hal ini menunjukkan betapa eratnya hubungan sholat dengan zakat
 
Dari Abu Hurairah ra meriwayatkan bahwa ada seorang badui mendatangi Nabi saw, lalu bertanya: “Tunjukkanlah kepadaku sebuah amalan, jika aku melakukannya aku masuk surga?”, beliau menjawab: “Beribadahlah kepada Allah, jangan menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, mendirikan shalat, membayar zakat dan berpuasa pada bulan Ramadhan”. Orang badwi ini berkata: “Demi yang mengutus kamu dengan kebenaran, aku tidak akan menambah dari ini (dari apa yang kamu katakan)”. Ketika orang tersebut berpaling, Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa yang ingin melihat seseorang dari penghuni surga maka lihatlah orang ini”. (HR Ahmad, al-Baihaqi dan dikuatkan dengan perbuatan sahabat).
 
Pada zaman Nabi saw, pertamanya Islam hanya hanya memerintahkan untuk memberi sedekah, sifatnya bebas tidak wajib. Namum pada kemudian hari menjadi suatu kewajiban. Dan pada zaman khalifah, zakat dikumpulkan oleh pegawai sipil dan dibagikan kepada kelompok tertentu dari masyarakat. Kelompok itu adalah orang miskin, janda, budak yang ingin membeli kebebasan mereka, orang yang terlilit hutang dan tidak mampu membayar. Imam Syafi’i telah mengatur dengan lebih detail mengenai zakat dan bagaimana zakat itu harus dibayarkan. – Lihat Fiqih Nabi oleh Habib Abdurahman bin Saggaf Assagaf
 
Islam mengutamakan dan mengajarkan kepada umatnya untuk berzakat, untuk menginfakan sebagian kecil dari harta yang dimiliki si kaya, Hal ini demi untuk mengajarkan kepada yang kaya agar jangan sekali kali merasa bangga tapi harus menengok kepada yang dibawah agar bisa mengimbangi jarak. Begitu pula kepada yang di bawah jangan selalu mengandalkan kepada yang diatas, jangan tinggal diam tapi harus berusaha itulah satu2nya modal agar yang dibawah bisa berhasil. Sementara yang diatas, jangan tamak, jangan sombong dan serakah. Itulah yang yang diajarkan agama agar kehidupan bersama antara si kaya dan si miskin bisa terjalin dengan baik sehingga jarak antara mereka tidak terpaut jauh
 
Setiap tahun saya tidak bosan bawakan cerita di bawah ini sebagai ibrah (contoh), semoga antum demikian pula. Saya selalu teringat berapa tahun yang lalu dengan berita seorang dermawan besar Hb Ismet Alhabsyi membagikan zakat dan sedakah di rumahnya. Ribuan fakir miskin datang menyerbu rumah kediamannya. Karena terlalu banyak yang datang, akibatnya terjadi eksident yang tidak diinginkan. Mereka berdesakan, ratusan orang berebut ingin mendapatkan uang tunai 20.000 rupiah plus sebuah sarung sedekah dari dermawan terkenal itu. Akibatnya empat wanita meninggal dunia karena jatuh dan terinjak injak. Peristiwa yang sangat menyedihkan ini sebetulnya mereka berencana jika uang dan sarung dari hasil sedekah didapat, mereka bisa membeli sesuatu yang bisa menggembirakan keluarganya di hari raya, tapi Allah berkehendak lain, mereka tewas sebelum kehandak mereka terwujud.
 
Tragedy itu, terus terang melukiskan betapa besar kemiskinan yang melanda di negara kita terutama di kota-kota besar. Kejadian seperti itu sudah tidak asing bagi kita untuk didengar, bahka banyak yang lebih kejam dari itu sering kita dengar. Memang dalam kondisi miskin semua serba sulit dikendalikan, termasuk emosi. Karena lapar telah mengubah sifat sabar menjadi berangasan. Sayyiduna Ali bin Abi Thalib ra berkata: “Jika seandainya kemiskinan itu menjelma menjadi manusia, maka saya akan bunuh”
 
Orang kaya dan dermawan seperti Hb Ismet Alhabsyi tidak sedikit bilangannya, begitu pula fakir miskin yang membutuhkan satunan dari mereka tidak terhitung banyaknya. Yang sulit kita dapatkan adalah perantara atau yang disebut Amil Zakat  yang berfungsi sebagai penyambung hubungan antara si kaya dan si miskin. Sehingga zakat dan sedakah mereka bisa terorganisir atau bisa disalurkan secara baik.
 
Amil zakat yaitu panitia zakat atau orang yang dipilih oleh imam untuk mengumpulkan dan membagikan zakat kepada golongan yang berhak menerimanya. Amil zakat harus memiliki syarat tertentu yaitu muslim, akil dan baligh, merdeka, adil (bijaksana), medengar, melihat, laki-laki dan mengerti tentang hukum agama. Pekerjaan ini merupakan amanah dan tugas baginya dan harus diberi imbalan yang sesuai dengan pekerjaaanya yaitu diberikan kepadanya zakat. Sayangnya, zakat fakir miskin kebanyakanya tersalur ke kantong-kantong si perantara Amil zakah atau mungkin sampai kepada mereka tapi setelah nilainya dikentit dan dicatut. Sehingga, maaf, bulan puasa merupakan panen bagi Amil zakat. Begitulah nasib fakir miskin di negara kita yang kebanyakanya hanya menerima sisa-sisa uang zakat dan sedakah atau mungkin tidak menerima sama sekali. Kalau Sayyiduna Abu Bakar Shiddik ra memerangi orang-orang yang enggan membayar zakat, bagaimana dengan orang orang yang diberi amanah untuk membagikan zakat tapi enggan untuk menyampaikannya kepada yang berhak? Tentu ini lebih parah bukan?
 
“Ya Allah, berilah ganti kepada orang yang berinfaq (dermawan).”
“Ya Allah berilah kehancuran kepada orang yang tidak berinfak (menahan harta)”,
 
Wallahu’alam
Agustus 12, 2015

Keramat IbuKeramat Ibu

Allah berfirman:


وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا (الاسراء 24 )
“Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”. Al-Isra’ 24
 Itulah salah satu inti doa “Birrul Walidain” yang dibacakan setelah khatam tarawih.
Dalam kehidupan, orang banyak mencari para wali baik mereka masih hidup atau sudah mendinggal dunia. Mereka memohon kepada Allah dengan kemurahan dan keberkahan para wali bisa membantu kehidupan mereka menjadi lebih baik, lebih lancar dan sukses. Bahkan mereka rela datang dari tempat yang jauh dengan perjalanan berhari-hari agar Allah memberikan kepadanya ma’unah atau pertolongan dari Allah melalui perantaraan para wali.
Tapi sayang satu karamat yang banyak dilupakan orang adalah keramat seorang ibu. Dialah yang dimuliakan Allah tiga kali lipat dibanding kemuliaan ayah. Dialah karamat diatas segala karamat yang ada di muka bumi. Dialah figur yang digambarkan oleh Rasulallah saw sebagai sosok manusia yang memiliki doa yang sangat mustajab melebihi dari doa2 makhluk lainya. Beliau bersabda, “Doa orang tua kepada anaknya seperti doa nabi kepada umatnya”
Dalam sebuah kisah, ada seorang sahabat yang ingin ikut berperang dengan Rasulullah ternyata ia memiliki seorang ibu yang telah tua. Rasulallah saw berkata: “Pulanglah berbaktilah kepadanya, sesungguhnya surga berada di telapak kakinya”. Hadis ini membuktikan bahwa berbakti kepada orang tua sebanding dengan para mujahidin yang berjihad di medan perang.
Dari kebesaran kewalian seorang ibu Rasulallah saw telah berpesan kepada Umar ra dan Ali ra untuk meminta doa dari seorang wali yang salih, ta’at dan berbakti kepada ibunya, ia bernama Uais Al-Qarni. Ia sangat cinta kepada ibunya yang lumpuh. Ia rela berkorban untuk segala galanya demi mendapatkan keredhoan ibunya.
Rasulallah berpesan: “Nanti, pada zamanmu akan lahir seorang manusia yang doanya sangat mustajab. Pergi dan carilah dia. Dia akan datang dari arah Yaman, dia dibesarkan di Yaman. Kalau kamu berdua berjumpa dengannya mintalah doa darinya untuk kamu berdua.”
Umar ra dan Ali ra bertanya, “Apa yang patut kami minta dari Uais al-Qarni, Ya Rasulullah?“. Beliau menjawab, “Mintalah kepadanya agar Allah mengampuni dosa dosa kalian”
Itulah Uais Al-qarni yang doanya mustajab dan didengar diatas langit. Ia rela memangku ibunya yang lumpuh dengan kedua tangannya berjalan kaki dari Yaman ke Mekah disaat melakukan ibadah haji, memangkunya disaat mengerjakan thawaf, sa’i dan wukuf di padang Arafah. Dan juga ia rela memangku ibunya dengan kedua tangannya berjalan kaki disaat kembali dari Makkah ke Yaman
Pada suatu ketika Hasan al-Bashri thawaf di Ka’bah. Beliau bertemu dengan seorang pemuda yang memanggul keranjang di punggungnya. Beliau bertanya: “Apa isi keranjang ini?. Orang itu menjawab: “Di dalamnya ada ibuku, aku menggendongnya. Aku orang tidak mampu. Selama bertahun-tahun, ibuku ingin beribadah haji, tetapi aku tidak punya ongkos. Aku tahu persis keinginan ibuku amat kuat. Ia sudah terlalu tua, setiap membicarakan Ka’bah kapan saja ia menangis. Aku tak sampai hati melihatnya seperti itu, maka aku membawanya di dalam keranjang ini dari Suriah ke Baitullah”. Kemudian pemuda tadi bertanya, “Ya Imam, apakah aku dapat membayar jasa ibuku dengan berbuat seperti ini?” Hasan al-Bashri menjawab, “Sekalipun engkau berbuat seperti ini lebih dari tujuh puluh kali, engkau tak bisa membayar sebuah tendanganmu ketika engkau berada di dalam perut ibumu!”. Subanallah.
Maka bacalah:
رَبِّ اغْفِرْ لِيَّ وَلِوَالِدَيَّ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِيْ صَغِيْرَا
“Ya Tuhanku! Ampunilah aku, ibu bapakku dan kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.”.
Wallahu’alam
Agustus 12, 2015

Tarawih bersama Hb Zen Alaidrus

Pada awal puasa, masjid al-Mubarak- Krukut, Jakarta, penuh sesak dikunjungi Jama’ah yang ingin sholat tarawih bersama Habib Zen bin Abdullah Alaidrus. Tua muda, besar kecil, laki perempuan datang berbondong-bondong memenuhi masjid.

Sholat isya’ dimulai. Shof-shof jama’ah memenuhi masjid sampai ke ruangan belakang. Yang menjadi imam Habib Muhammad, anak Habib Zen, dan kita ma’mum dibelakangnya. Dengan pakaian serba putih, jubah putih, serban putih, dan syal berwarna hijau, wajahnya putih penuh dengan wibawa, haibah, dan cahaya… cahaya Ilahi, Habib Zen sholat dengan penuh semangat dan khusyu’.
Selepas sholat isya’, doa dan wirid, kemudian dilanjutkan dengan sholat tarawih sebanyak 20 rakaat dan pula diimami Habib Muhammad bin Zen. Selesai sholat tarawih, kita bersama-sama duduk meng-amin-i doa tarawih yang dibacakan Habib Muhammad. Kemudian dilanjutkan dengan sholat witir 3 rakaat yang diimami Habib Zen. Setelah itu, doa witir dibacakan pajang sekali oleh Habib Muhammad bin Zen dan kita meng-amin-i dengan penuh khusyu’an. Selesai doa dan fatihah, kita bersama-sama duduk mencicipi kopi jahe yang dibikin oleh Pok Muna. Kopi ini mempunyai rasa khas, tidak dibuat kecuali khusus pada bulan Ramadhan, dan rasa kopi itu tidak bisa dilupakan oleh masyarakat Krukut.
Selesai istirahat kurang lebih seperapat jam, kemudian dilanjutkan dengan babak kedua dari ibadah bulan Ramadhan, yaitu sholat tasbih (*). Kebanyakan yang mengikuti Habib Zen dalam sholat tasbih adalah orang orang tua, pemuka masyarakat kerukut dan anak muridnya, kurang lebih bilangannya satu shof, sekitar duapuluhan. Sholat tasbih dilakukan sebanyak 8 rakaat dan memakan waktu kurang lebih dua jam. Karena setiap raka’at setelah imam membaca surat Fatihah, yang dibaca bukan surat-surat pendek akan tetapi yang dibaca adalah al-Quran. Dimulai dari surat al-Baqarah pada awal puasa dan diakhiri khatam pembacaan al Qur’an pada shalat tasbih malam tanggal 29 Ramadhan.
Makanya sholat tasbih jarang diikuti masyarakat biasa, karna sholat ini sangat berat dilakukanya kecuali oleh orang-orang yang mepunyai kesabaran,  keikhlasan dan kekhusyu’an dalam ibadah, Selesai sholat tasbih kita masih mendengarkan doa-doa yang panjang sekali dibacakan bergantian antara Habib Zen dan Habib Muhammad bin Zen. Kurang lebih jam 11 malam jama’ah masjid baru bubar dan pulang kerumah masing-masing. Demikianlah setiap malam Ramadhan Habib Zen hidupi ibadah di masjid itu dengan al-Qur’an, zikir, doa-doa dan sholawat.
Pada akhir tahun 1970-an, Habib Zen Alaydrus, yang dicintai masyarakat, berpulang ke rahmat Allah. Kemudian setelah itu disusul oleh keluarganya, murid muridnya, dan kebanyakan pengikutnya yang tua tua. Adapun generasi muda yang tinggal di Kerukut depan, mayoritasnya menjual rumah-rumah warisan mereka dan memilih jalan hengkang dari Kerukut dan mengungsi ke daerah-daerah lain di Jakarta, sehingga Kerukut yang dulu dikenal sebagai kampung Arab, sekarang berobah total menjadi kampung Cina. Pula dinasti Habib Zen yang dulu pernah menjadi umdah dan sesepuh yang disegani di kampung Krukut, sekarang hanya kenangan manis dan cerita indah.
Maka untuk sekedar mengingatkan masyarakat yang mengenal Habib Zen atau yang
tidak mengenal dari generasi muda, telah tersusun buku do’a doa tarawih, witir dan tasbih yang ditulis tangan oleh beliau semasa hidupnya. Hal ini demi untuk mengenang jasa-jasa beliau yang begitu besar terhadap Islam dan umat Islam, dan untuk menghidupkan kembali nama Habib Zen di tengah2 masyarakat Indonesia pada khususnya.
Buku aslinya saya dapatkan dari anak murid Habib Zen dengan susah payah. Karna buku ini konon katanya hilang atau terbengkalai, karna banyak dari generasi muda yang tidak tahu nilai buku trb mengabaikanya dan dibiarkan terbengkalai. Sekarang alhamdulillah buku trb saya telah tulis ulang dengan komputer, tersusun dengan baik dan terpugar menjadi buku yang layak, indah, bisa dibaca oleh masyarakat Muslim yang dilengkapi dengan harakah. Buku ini saya beri judul “Majmu’atul Atsaar Fi Ad’iyah Syahir Ramadhan Wal Awrad wal Adhkar“. Buku trb merupakan kumpulan dari doa-doa para habaib, masyayeikh dan ulama-ulama ternama zaman dulu. Saya tinggal menunggu sponsor yang bisa mencetak buku trb sehingga bisa disebarluaskan keseluruh lapisan masyarakat Islam terutama di Indonesia. Beberpa copy dari buku tsb telah disalurkan dan dibagi-bagikan kepada habaib di Jakarta, wilayah Saudi bahkan sampai ke Hadhramut
Rasulallah bersabda dalam hadithnya:
عَنْ أَبِي ذَرٍّ قَالَ: قَالَ لِيَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:  لَا تَحْقِرَنَّ مِنْ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ  وفي رواية طليق. (رواه مسلم، الترمذي)
Dari Abu Dzar ra, Rasulallah saw bersabda: ” janganlah kamu menyepelekan perbuatan baik sedikitpun walaupun hanya sekedar menatap saudaramu (sesama muslim) dengan wajah cerah. ( HR Muslim, Tirmidzi)
Maka saya menghimbau dan mengajak masyarakat Islam terutama keluarga Habib Zen Alaydrus untuk bisa memikirkan bagaimana cara mencetak buku doa-doa yang dikutip Habib Zen yang telah tersusun baik, agar bisa bermangfaat bagi umat Islam dan kita bisa mendepositkan amal baik trb ke rekening kebaikan Habib Zen Alaydrus di akhirat.
—————
(*) Shalat tashbih adalah sunah. Pendapat ini dikemukakan oleh sebagian ulama penganut mazhab Syafi’e. Dinamakan tasbih karena pelaku shalat akan membaca kalimat tasbih “Subhanallah wal hamdu lillahi walaa ilaaha illallahu wallahu akbar” sebanyak 300 kali yang dilakukan sebanyak 4 raka’at, setiap raka’at 75 kali tasbih. Shalat ini diajarkan Rasulullah saw kepada pamannya yakni Abbas bin Abdul Muthallib ra. Hikmah shalat ini adalah dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar, tentu saja jika dilakukan dengan hati yang ikhlas.
Shalat tasbih boleh dilakukan kapan saja baik siang hari atau malam hari dan dan lebih baik jika dilakukanya malam hari, dan akan lebih baik lagi jika dilakukan pada bulan Ramadhan setelah shalat tarawih. Shalat ini dilakukan 4 raka’at dengan dua salam sebagaimana shalat biasa dengan tambahan bacaan tasbih pada saat saat:
  • Setelah pembacaan surat fatihah dan surat al-Qur’an saat berdiri 15 kali
  • Di waktu ruku’ 10 Kali
  • Di waktu I’tidal (bangung dari ruku’) 10 Kali
  • Di waktu sujud pertama 10 Kali
  • Di waktu duduk di antara dua sujud 10 Kali
  • Di waktu sujud kedua 10 Kali
  • Di waktu duduk istirahat sebelum berdiri (atau sebelum salam tergantung pada raka’at keberapa) 10 Kali.
Jumlah tasbih dalam satu raka’at 75
Maka jumlah tasbih dalam empat raka’at 4 X 75 = 300 kali
Wallahu’alam
Agustus 12, 2015

Tanda2 Malam Lailatulqadri

Allah memberikan setiap waktu ada keutamaan dan kemuliaan yang berdeda-beda, diantaranya ada waktu-waktu tertentu yang sangat baik (mustajab) untuk berdoa. Sayangnya banyak orang menyia-nyiakan kesempatan baik tersebut. Adapun waktu-waktu mustajabah tersebut antara lain:

* Doa saat berbuka puasa
* Doa selepas shalat fardhu
* Doa saat mendengar adzan
* Doa sesaat pada hari Jum’at.
* Doa sepertiga akhir malam.
* Doa pada waktu sujud dalam shalat.
* Doa diantara adzan dan iqamah
* Doa pada hari Arafah
* Doa ketika minum air Zamzam
* Doa setelah khatam al-Qur’an
* Doa ketika berada di majlis dzikir
* Dan doa yang paling mustajab yaitu doa pada malam Lailatul Qadr.
Alhamdulillah puasa bulan Ramadah ini kita jalankan dengan baik. Dan sekarang sudah hampir mencapai puncak terakhir dari bulan Ramadhan. Di puncaknya kita dapatkan pembebasan dari api neraka insyallah. Pada malam-malam terakhir para malaikat turun dari langit untuk menaburkan kasih sayang Allah kepada hambanya dan menyampaikan salam kepada kaum beriman sampai terbit fajar. Itulah Lailatul Qadr
Saat pasti malam Lailatul Qadr dirahsiakan Allah, tidak diketahui namun menurut beberapa hadist malam ini jatuh pada 10 malam terakhir pada bulan Ramadan, tepatnya pada salah satu malam ganjil 21, 23, 25, 27 atau ke-29. Adapun hikmah malam ini dirahsiakan agar umat Islam tetap rajin dan selalu siap beribadah sepanjang malam khususnya di sepuluh malam yang terakhir.
Lailatul Qadr adalah malam kebesaran Allah, malam keagungan Nya, malam pengampunan Nya, malam yang dimiliki-Nya untuk memberi maaf dan kasih sayang kepada hamba Nya, para pembuat dosa.
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ الله عَنْهَا قَالَتْ: قُلْتُ: “يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَرَأَيْتَ إِنْ عَلِمْتُ أَيُّ لَيْلَةٍ لَيْلَةُ الْقَدْرِ مَا أَقُولُ فِيهَا؟”، قَالَ: “قُولِي: اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي”. (رواه الترمذي)
Aisyah ra bertanya kepada Rasulullah saw, “Ya Rasulullah seandainya aku mendapati malam Lailatul Qadr, doa apakah yang patut aku bacakan? Rasulullah bersabda: “Berdo’alah: Ya Allah! Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Pemurah. Engkau menyukai pengampunan, apunilah dosaku”
Di langit ada kerajaan yang maha besar yang mengatur dan mencatat segala amal manusai di bumi. Ketika para malaikat melihat kitab catatan amal manusia, mereka iri dengan amal yang hanya khusus dilakukan penduduk bumi di malam-malam Lailatul Qadr. Malaikat pun tidak ada yang dapat menirunya. Salah satu di antaranya adalah rintihan para pembuat dosa. Allah berfirman dalam hadist, ”Aku lebih suka mendengarkan rintihan para pembuat dosa ketimbang gemuruh suara tasbih. Karena gemuruh suara tasbih hanya menyentuh kebesaran Kami, sedangkan rintihan para pembuat dosa menyentuh kasih sayang Kami.”
Banyak sekali tanda-tanda terjadinya malam Lailatul Qadr namun kebanyakannya tidak nampak kecuali setelah lewatnya malam tersebut. Para ulama telah menyebutkan beberapa tanda-tanda Lailatul Qadr berdasarkan hadits-hadits yang shahih diantaranya:
– Suhu udara pada malam itu tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin
قال صلى الله عليه و سلم : ليلة سهلة طلقة لا حارة ولا باردة (البيهقي و الحاكم و غيرهم بسند حسن)
Rasulallah saw bersabda: Salah satu tanda Lailatul Qadr, bahwa malamnya bersih suci seolah-olah ada bulan yang bersinar, tenang sunyi, tidak panas dan tidak dingin (HR Baihaqi dan Hakim dengan sanad baik)
– Cahaya matahari di pagi hari-nya tidak menyengat (redup)
قال صلى الله عليه و سلم: تطلع شمس صبيحة هذه الليلة لا شعاع لها (رواه مسلم)
Rasulallah saw bersabda: salah satu tanda dari malam Lailatul Qadr , di pagi hari malam itu matahari terbit cahayanya lembut atau tanpa cahaya (redup) – (HR Muslim)
Hadist ini memberi kesimpulan bahwa banyaknya para malikat yang turun bertasbih dan berzikir kepada Allah pada malamnya. Turunnya para malikat ke bumi menyebabkan sayap2 dan tubuh mereka yang halus menutupi dan menghalangi cahaya matahari.
– Terbitnya bulan bagaikan belahan piring (sabit)
لما روى أن أصحاب الرسول كانوا يتكلمون عن ليلة القدر فقال صلى الله عليه و سلم : من يذكر حين طلع القمر مثل شق جفنة ( رواه مسلم ) أي أنه بليلة القدر يكون القمر مثل نصف طبق مستدير ، كالذي يوضع فيها الطعام
Diriwayatkan oleh Muslim, sesungguhnya para sahabat membicarakan tentang malam Lailatul Qadr, Rasulallah saw bersabda: “Siapa saja diantara kalian yang mengingat ketika terbit bulan dan saat itu bulan bagaikan belahan piring (bulan sabit)” (HR. Muslim)
Dari tanda tanda malam Lailatul Qadr tsb diatas tidak ada halangan bagi yang tidak melihat atau mengetahuinya untuk mendapatkan keutamaan dan pahalanya selama dia menghidupkan pada sepuluh malam terakhir dengan ibadah karena iman dan mengharapkan pahala dari-Nya
Wallahu’alam
Agustus 12, 2015

Mistiri Doa ke 2

Banyak sekali do’a-do’a yang diajarkan Nabi saw agar banyak rizki dan hidup senang. Di samping do’a-do’a tsb ada satu do’a tidak populer yang diajarkan beliau agar meminta kepada Allah kemiskinan

هذا الحديث رواه الترمذي عَنْ أَنَسٍ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : ( اللَّهُمَّ أَحْيِنِي مِسْكِينًا ، وَأَمِتْنِي مِسْكِينًا ، وَاحْشُرْنِي فِي زُمْرَةِ الْمَسَاكِينِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ). وقَالَ الترمذي : هَذَا حَدِيثٌ غَرِيبٌ
Dari Anas ra, ia mendengar Rasulallah saw berdo’a: “Ya Allah, hidupkan aku miskin. Matikan aku miskin. Dan kumpulkan aku kelak di Padang Mahsyar ke dalam kelompok kaum miskin”. (H.R Tirmidzi)
Hadits ini merurut Imam Tirmidzi adalah gharib artinya dha’if (lemah). Menurut Imam Syafi’i hadist lemah tidak bisa diambil sebagai keputusan untuk menghukum yang halal dan haram tapi bisa digunakan sebagai pelengkap ibadah. Contohnya hadist tentang talqin atas mayat yang diriwayatkan Imam Tabarni dengan isnad dhaif. Meskipun hadits tsb lemah, namun bukan berarti tidak dapat dijadikan sebagai landasan untuk tidak talqin. Ulama bersepakat bahwa hadits dha’if dapat dijadikan sebagai hal-hal yang masuk dalam kategori fadhail al-‘amaal (perbuatan baik).
Kita kembali ke do’a meminta kemiskinan. Doa ini jarang sekali dibaca tapi memang itu kenyataan do’a yang diajarkan Rasulallah saw menurut hadist Imam Tirmidzi.
Suatu ketika Rasulallah pernah ditanya tentang surga dan ahlinya, beliau menjelaskan bahwa penghuni yang paling banyak di surga adalah orang miskin. Yang dimaksud disini bukan semua orang miskin masuk surga. Akan tetapi kebanyakan penghuni surga adalah orang miskin yang sabar, soleh, taat ke pada Allah dan banyak beribadah.
Miskin. Siapa suka miskin? Semua lari dari kemiskinan dan takut miskin. Ini kenyataan hidup sekarang ini. Tidak ada orang ingin hidup miskin. Tapi kalau kita teliti dengan seksama memang itulah kenyataan sebagian falsafah hidup yang diajarkan Rasulallah saw kepada kita. Dan Beliau sendiri ternyata hidup dalam kondisi miskin. Ketika beliau wafat, tak ada harta yang diwariskan untuk keluarganya. Begitu pula para sahabat Nabi saw mayoritasnya mereka hidup dalam kekurangan dan kemiskinan. Hidup berlebihan atau kaya sangat jarang kita dapatkan dalam kisah kehidupan para sahabat Rasulallah saw. Ada diantara mereka yang kaya seperti misalnya Ustman bin Affan ra dan Abdurahman bin Auf ra, tapi mereka pun berusaha menginfakan dan rela mengeluarkan hartanya ke jalan Allah agar jadi miskin.
Imam besar Ali ra hidup miskin dan serba kekurangan. Bahkan setelah menikah dengan Fatimah binti Rasulallah saw beliau tidak mampu mengambil seorang pembantu. Ketika istrinya, Fatimah, datang kepada Ayahnya minta kepada beliau seorang pembantu. Rasulallah pun berkata “Wahai anakku bersabarlah. Sesungguhnya sebaik baiknya wanita adalah yang bermangfaat bagi keluarganya”
Contoh lainnya, pernah satu ketika Rasulallah saw datang melancong ke rumah anaknya, Fatimah. Ketika beliau melihat anaknya mengenakan giwang dan rantai terbuat dari perak, begitu pula beliau melihat selot pintu rumahnya terbuat dari bahan sejenis perak, Rasulallah segera keluar dari rumahnya dan kelihatan tanda tanda kemarahan di wajah beliau. Beliau naik ke atas mimbar. Fatimah pun mengetahui maksud kemarahan ayahnya. Maka dicopotilah giwang, rantai dan selot pintu yang terbuat dari perak dan segera diserahkannya kepada Nabi saw di atas mimbar seraya berkata “Jadikanlah semua ini di jalan Allah, ya abati”. Rasulallah sangat terharu dan bergembira atas tindakan putrinya yang sangat diciantainya. Beliau pun berkata “Sungguh kamu telah melakukanya wahai anakku. Ketahuilah bahwa dunia itu bukan untuk Muhammad dan keluarganya. Seandainya dunia ini bernilai di sisi Allah sebesar sayap nyamuk, maka tidak ada satu orang kafir diberi minum setetes pun”
Demikianlah contoh yang kita dapatkan dari pemimpin besar umat, Rasulallah saw dan Imam besar Ali bin Abi Thalib ra yang sepanjang hidupnya selalu dalam kekurangan dan kemiskinan. Akan tetapi di lain pihak Imam Ali pun pernah menegaskan “kemungkinan kemiskinan itu bisa membawa kekufuran”. Begitu pula beliau pernah berkata: “seandainya kemiskinan itu menjelma berbentuk manusia maka aku akan bunuh”.
Assayyid Sabiq dalam fiqih sunnah mendefinisikan bahwa yang dimaksud dengan miskin adalah mereka yang mendapatkan problem kehidupan akibat kesulitan ekonomi. Adapun arti miskin menurut pandanganya adalah mereka yang berpenghasilan kurang dan tidak mencukupi untuk menutupi kebutuhan hidup sehari hari.
Ketika salah seorang kepala suku badwi dari gunung diundang raja Saudi, Faisal bin Abdul Aziz, dia sadar bahwa masyarakatnya di gurun sahara miskin. Menyaksikan kota Riyadh yang serba indah, mobil berseliweran di atas jalan beraspal, gedung tinggi, hotel tempat dia menginap terang menderang dengan cahaya lampu yang beraneka warna, beralas tikar permadani empuk, full ac, dan mengasyikan. Dia lalu bertanya kepada dirinya, mengapa ini semua tak ada di desanya? Kalo begitu masyarakat badwi miskin!
Lalu, mengapa Rasulallah saw mengajarkan doa jadi miskin? Yang dimasud disini beliau bukan mengajarkan umatnya jadi miskin akan tetapi beliau mengajarkan kesederhanaan, kehidupan bersama, toleransi, ke-tidakegois-an dan tidak hanya memikirkan diri sendiri, sehingga tidak menimbulkan kedengkian, kebencian antara sesama. Itulah yang diajarkan Rasulallah saw.
Orang kaya yang hanya memikirkan diri sediri, serakah, tamak, dan kikir, orang semacam ini dikatagorikan orang kaya tapi berjiwa miskin. Sebaliknya orang miskin yang menerima nasib, bersabar, tabah dengan segala musibah yang menimpah dirinya, dan ridho serta bersyukur dengan apa yang telah diberikan Allah, ia adalah orang miskin yang berjiwa kaya.
Saya tinggal di Riyadh, saya lihat orang-orang badwi yang hidup di gurun sahara, terutama yang hidup di kemah kemah yang tak pernah menikmati listrik, tak ada tv atau radio, sanggup berjalan kaki memikul beban naik turun gunung dengan untanya , mereka miskin tapi tak terasa miskin. Karena kehidupan bersama yang mereka jalani, senasib dan sederajat, tak menimbulkan kedengkian antara mereka, ini yang membuat mereka senang, bahagia menikmati kehidupan yang serba kekurangan.
Demi Allah, sekali lagi saya katakan demi Allah, harta dan kekayaan adalah milik Allah. Allah lah yang memberi orang menjadi miskin dan Allah pula yang membuat orang jadi kaya. Jika Allah menginginkan si kaya menjadi miskin, dengan sekejap mata saja orang itu mejadi miskin. Jika Allah berkehendak si miskin menjadi kaya, dengan sekejap mata orang miskin itu menjadi kaya.
“Katakanlah: Ya Allah yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engaku cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau maha kuasa atas segala sesuatau. Engkau masukkan malam kedalam siang dan Engkau masukan siang kedalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Dan Engkau beri rizki siapa yang Engkau kehendaki tampa batas “. (Al-‘Imran 26-27)
Nah, kalau begitu, bacalah do’a untuk jadi miskin seperti yang diajarkan Nabi saw dalam hadist tsb diatas, agar tetap memiliki rasa kesederhanaan, tidak rakus, tidak tamak, tidak sombong dan serakah yang bisa menimbulkan iri dan dengki terhadap kelompok miskin.
Wallahu’alam